KITAB INGATAN 9

Serial Puisi "Kitab Ingatan"

Feb 05, 2017 10:30
Ilustrasi puisi (dd nana)
Ilustrasi puisi (dd nana)

Serial Puisi Kitab Ingatan

dd nana


KITAB INGATAN 9
-Tentang Mel
 
1)
Bapak, kucipta boneka dari aksara dan benda-benda,
Ingatan pertama paling purba di kepala.
Di bawah teduh pohon yang juga purba
Pohon yang dijadikan seteru manusia.
 
Akhirnya, lahirlah suara. Serupa desis api penghabisan
Pada kayu bakar yang mulai menghitam. Yang sia-sia mengabadikan cahaya.
Menyampaikan luka syahwat pada segala yang terbuka. Yang terluka.
 
Kita tidak sedang di surga. Tak ada adam. Tak ada hawa.
Tak ada ular beludak bermata cahaya.
Hanya kita. Aku, pencipta boneka, dan kau.
Perempuan yang kupanggil Mel.
Perempuan yang entah sejak kapan memanggilku bapak. Memanggilku sayang. Memanggilku cinta.
Perempuan yang entah sejak kapan memanggil dirinya sendiri, Mel.
 
Panggil aku, Mel. Perempuan dengan rambut tergerai
Perempuan yang lahir dari pena terakhir bapakku
Dari tinta air mata bisu ibuku
Berikan aku busana. Jangan sajak berbunga-bunga.
 
Segala cahaya selalu menanarkan mata
Seperti cerita-cerita yang dihikayatkan, dikekalkan lewat ingatan;

Kenangan-kenangan yang terkadang memilukan. Terkadang mematikan.
 
Beri aku mantra, Mel. Agar sepi tak risau, agar sepi tak menjadi pisau.
Menunggu kita berdarah-darah. Barah.
 
Bapak, kekasih abadiku, sepi pisau, seperti kita
Yang menahan suara berlama-lama
Yang menahan syahwat berkarat-karat
Untuk apa, untuk siapa
Mari bercerita. Mari bersenggama.
 
Kucipta boneka dari aksara dan benda-benda,
Ingatan pertama paling purba di kepala.
Didekapnya erat-erat di dada. Katamu, aku ingin mendengar detak jantungnya
Aku ingin merasakan hangat nafasnya. Aku ingin merasakan panas kelaminnya.
Hidupkan. Hiduplah.
 
2)
Matahari begitu menyengat, Mel. Di kota yang menjadikanku pisau yang sepi itu
Angin runduk. Takluk. Tak bisa memeluk segala yang terbuka
Tiba-tiba, aku ingat kuruksetra. Padang pertemuan kita
Padang pertempuran kita.
 
Kau Amba. Aku Bisma.
Sepasang yang tidak bisa disandera kotak cerita.
Kita punya cakrawala yang lebih bercahaya. Lebih warna dari segala luka. Cinta.
 
Tapi kutuk, lebih berisik dari gerit roda kuda perang. Dari denting pedang-pedang.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Tangan kita, Mel, dikembalikan ke hikayat semula. Merah yang darah.
Dan aku, selalu menjadi pisau sepi itu. Rupa sempurna luka.
 
Mel, kau tahu rupa luka. Serupa senja. Serupa cinta. Serupa apa-apa yang kau anggap bahagia.

Bahagiakah kau membawa luka cerita, Mel.

Aku telah menjadi rahim dari cerita-ceritamu itu.
 
3)
Rebahlah, Mel.
Dadaku lapang, meski masih beraroma padang perang
Lihatlah November semakin tanak. 

Seperti puisi yang sebentar lagi menemukenali kekasihnya. Seperti kita.

Jangan menangis, Mel. Kita memang akan kembali ditinggal pergi.
Bukankah hidup memiliki jalannya sendiri. Seperti puisi.
Seperti boneka yang kau cipta. Boneka yang kau hidupi dengan nafas hangat tubuhmu.
Boneka yang jelma aku.
 
Selalu ada yang luruh, kekasih. gerimis dipadang kuruksetra ini.
tangis yang tak tertahan. Darah yang mengembang.
Kutuk itu telah meminta: lebih dari cukup kita mengecup waktu yang terlalu menawan.
Rebahlah di dada penuh luka ini, Mel.

4)
Akhirnya, lahirlah suara. Serupa desis intim senggama.
Serupa gerimis yang ritmis. Yang magis.
Kita kembali belajar mengeja. Segala yang dicipta, segala yang dianggap luka.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Segala yang kita anggap bahagia.
Hujan. Pagi. Kursi taman. Pintu yang tak terbuka. Luka di kepala.
 
Biarkan aku menuliskannya. Pada mata. Pada dada.
Seperti ini, Mel ;

-   Di kotaku. Hujan hanyalah garis-garis tipis yang kabur. Seperti aksara pada nisan-nisan yang dilamurkan umur. Kau baca namaku, Mel?

-  Ada yang terus melaju dan akhirnya menunggu, Mel. Rindu yang menuju hatimu. Tepat di pintu kamarmu. Kamar yang dihuni kau dan dia. Lelaki yang kau anggap tidak biasa. Lelaki yang memiliki tubuh utuhmu itu.

-  Kau tahu, Mel. Terkadang pagi menyembunyikan puisi disecangkir kopi. Agar getir tak terlalu menggigilkan diri.

-  Kau tahu, Mel. Luka kursi kayu di taman itu. Tadi sore, aku sempat menyentuh ceruknya. Arang pasi terlihat dimata. Nama kita masih tertera.

-  Mel, tak akan kau temukan tanda luka di kepalaku. Masa lalu telah dilarungkan. Kenangan telah dikuburkan. Tinggal aku yang tersisa. Aku.
 
Maaf, tidak ada bunga disini, Mel.

Topik
serial puisikitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru