Serial Puisi "Kitab Ingatan"

Feb 04, 2017 10:45
Ilustrasi puisi (dd nana)
Ilustrasi puisi (dd nana)

Serial Puisi "Kitab Ingatan"

dd Nana*

 

KITAB INGATAN (5)

-yang bersenggama itu

ditiupkannya keluh pada semua yang terbuka

ditiupkannya jenuh pada semua yang terkatup

jelmalah kita. manusia. yang penuh. yang utuh. Yang begitu rapuh.

 

 

KITAB INGATAN 6

BLUE JEAN’S NOMOR 1

yang lebih terluka

adalah dada yang terbuka

tanpa bahasa

maka, tak perlu kau jayakan nama-nama dan benda-benda

yang memberi kita luka. 

 

BLUE JEAN’S NOMOR 2

Lantas harus kubahasakan apa

Langit yang terbuka dengan segala tanda

Bukankah hidup adalah kesementaraan

Yang cerewet.

 

KITAB INGATAN 7

ini Februari

siapa yang menautkan ingatan tentangmu, drupadi

 

hujan telah lama menepi

ikrarmu, telah lama mati

 

di mata nisanku yang kau hitamkan 

dengan arang peperangan itu.

 

ini Februari

mantramu semakin tua. 

matamu semakin menepi

dari cahaya-cahaya yang memberikan warna-warna

angka-angka dalam lingkaran-lingkaran karma.

 

masih kau tak berbusana, kini, drupadi.

 

ini Februari

entah kenapa, namamu, seketika mengekal

mengental dalam ingatan berdarah-darah ini.

 

KITAB INGATAN 8

Equilibrum Yang Rapuh

 

Ditepi padam

Semburat waktu adalah bimbang

Memeram dingin tanya dalam degup jingga

 

Tak beraroma, hanya sepia

Mengulang kekalahan dengan keriangan pagi yang masih begitu basah.

 

-Bayangkan sisipus tertawa.

 

Berdiam dalam diri atau memutar jarum jam 

Aku terengah, mengunyah rempah bahasa

Masa depan, labirin tak terpecahkan.

 

-jalanan meruncingkan cecabang, daging kulit adalah hamparan padang, tempat kau menulis sajak percintaan, lantas apa yang harus diperbincangkan malam ini ?

 

maka, bibir tersihir

dengan leleh darah, tidak terlalu barah, ditepi aksara

 

antara sajak yang coba dilupakan dengan gairah diujung padam

 

kenangan itu masih memercik 

seperti kunang-kunang yang larut pada malam.

 

-bayangkan aku menjelma alhalaj atau siti djenar

 

-jangan kau sia-siakan rindu dendam yang lama berakar ditelapak tangan itu, meski udara tidak menari di dirimu, kini. 

 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Melautlah lebih panjang, lebih telanjang menantang segala yang berpantang, seperti mereka yang dibakar dan diarak dalam hiruk kemenangan waktu. 

 

Di tepi padam

Aku terengah, muntah 

dalam ulir setengah malam

tidak menjadi siapapun.

 

-berdiam dalam diri atau memutar jarum jam.

Topik
serial puisikitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru