Suparman 'Bukan Superman' Pengrajin Miniatur Barongsai Dari Pakisaji

Jan 27, 2017 15:23
Suparman (Bukan Superman) pengrajin miniatur Barongsai warga Pakisaji Kabupaten Malang di rumahnya, Jum'at (27/01) (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Suparman (Bukan Superman) pengrajin miniatur Barongsai warga Pakisaji Kabupaten Malang di rumahnya, Jum'at (27/01) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Suparman (41) yang 'Bukan Superman', begitulah sebutan populer lelaki ramah warga Jl. Panji Pulong Jiwo RT 21 RW 04 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, yang sering ditulis oleh berbagai akun instagram.

Baca Juga : Tundukkan Rasa Takut untuk Kemanusiaan, Ini Kisah Bripka Jerry yang Banjir Apresiasi

Bukan karena tak bisa terbang ia mendapat julukan tersebut, namun karena keahliannya merangkai berbagai kertas bekas menjadi kerajinan miniatur barongsai. Keahliannya membuat miniatur barongsai didapatkan secara otodidak di sela pekerjaan utamanya sebagai pegawai di Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang.

"Awalnya, saya sering lihat barongsai di Kelenteng Kota. Suatu hari teman saya menyuruh saya untuk membuat miniatur barongsai, sekitar tahun 2005," tutur Suparman, Jum'at (27/01) di kediamannya.

Dari ide temannya tersebut, Suparman akhirnya mencoba untuk membuat miniatur barongsai. "Waktu itu saya pakai semen dalam pencetakannya, tetapi hasilnya gagal," ceritanya. Dia akhirnya mencoba mengganti bahan cetaknya dengan fiberglass. "Ternyata berhasil, akhirnya saya sampai sekarang dalam mencetak memakai bahan itu," lanjutnya.

Hasil kreasi miniatur barongsai Suparman ternyata disambut baik oleh pasar. Malang Raya, Mojokerto, Blitar, Kediri, Jombang sampai Jakarta menjadi pelanggannya sampai kini.

"Alhamdulillah setelah hampir 12 tahun, hasil karya saya bisa diapresiasi oleh pasar. Bahkan saya hampir kewalahan menerima order," katanya yang selama ini dalam proses pembuatan miniatur barongsai tidak melibatkan pekerja lain.

"Bagi saya ini sebuah seni, dan seni itu lahirnya dari jiwa. Seni meminta ketelatenan, dan tidak semua orang punya itu," ujarnya berfilosofis.

Hasil produksi yang dikerjakannya sendiri selama satu bulan bisa menghasilkan miniatur barongsai sebanyak 300 sampai 400 buah. Satu miniatur kepala barongsai dihargai Rp. 20 ribu sampai Rp. 25 ribu.

"Kalau satu paket yaitu dengan celana barongsainya saya jual sekitar Rp. 55 Ribu," kata Suparman.

Baca Juga : Glenn Fredly Meninggal Dunia Tepat setelah 40 Hari Kelahiran Anak Pertamanya

Dia juga mengatakan saat menghadapi Hari Imlek, permintaan miniatur barongsai meningkat menjadi tiga kali lipatnya. "Ini saja sudah ada permintaan sekitar 700 buah untuk Imlek yang dirayakan besok (28/01)," imbuhnya.

Selama menekuni kerajinan miniatur Imlek, Suparman juga sering mengalami kendala produksi. "Cuaca yang sering menjadi kendala produksi. Kalau hujan produksi menurun karena proses pengeringan tidak maksimal," ungkapnya yang juga menambahkan kalau di musim kemarau satu hari bisa menghasilkan 5 sampai 7 barongsai. Di musim penghujan hanya bisa 1 sampai 3 barongsai saja.

Di sisi persaingan, Suparman mengatakan bahwa ceruk pasar ini relatif sepi pesaing. Hal ini terlihat dari permintaan dari Jakarta sebanyak 300 buah miniatur barongsai per bulan yang belum bisa disanggupinya.

"Masih belum kuat mas karena kalau diambil semua Jakarta, pasar lain tidak kebagian. Ini bukti bahwa pengrajian barongsai masih sepi," terang Suparman yang menjual produknya melalui online ini.

Walaupun tidak mengalami persaingan usaha, Suparman tetap menargetkan varian produk baru dari kreasinya. Bahkan dia berancang-ancang di tahun ini membuat miniatur barongsai yang bisa menyala dan berkedip-kedip.

"Iya ini sedang saya kreasikan bentuk baru miniatur barongsai saya," pungkas Suparman yang 'Bukan Superman' ini.

Topik
pengrajin miniatur barongsai

Berita Lainnya

Berita

Terbaru