Cerbung MENGELUPAS BERSAMAMU (4)

Jan 15, 2017 12:45
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

Cerbung
MENGELUPAS BERSAMAMU (4)
dd nana 

Kau, yang mengaku bernama Iblis. Yang memiliki rupa kencana yang berkilau. Yang dengan kesabaran para manusia suci membimbingku melewati segala hitam yang menyelimuti, tertunduk. Tubuhmu bergetar. Apakah itu air mata, cairan yang meloncat keluar dari sepasang matamu yang begitu indah. Apakah kau menangis. 

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

Tubuhmu semakin gemetar, kakimu tertekuk, wajahmu semakin dalam merunduk. Aku dengar suara isak yang semakin lama semakin keras. Tangisan yang begitu dalam begitu panjang dan harus kuakui begitu indah terdengar.

 Tangisanmu menyedot jiwaku untuk ikut menarikan duka yang sama. Duka yang begitu panjang seperti bayang-bayang Tuhan. 

Tubuhku bergeser dalam gerak merayap, mendekatimu, yang masih tertunduk, menangis semakin dalam. Aku peluk tubuhmu yang kini terlihat ringkih di dadaku, dalam pelukan. Aku tengadahkan wajahmu yang berkilau dan entah kekuatan apa yang menarik bibirku untuk rebah di bibirmu, begitu lama dan panjang, hingga telingaku tak mendengar suara isaknya. 

Kau yang mengaku bernama Iblis, mulai melingkarkan kedua tanganmu ke tubuhku. Merebahkan segala duka di tubuhku. Tubuh kita menyatu, begitu erat begitu hangat. Cairan di matamu mulai mengering. Kami bersitatap dalam jarak seujung kuku. 

"Ah, siapapun kau, yang mengaku bernama Iblis, harus ku katakan bahwa dalam jarak sedekat ini mataku semakin silau oleh keindahan yang kau pancarkan. Aku mencintamu…. ”.

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

"Pertama kali kulihat wujudmu yang pecah, aku tersekat oleh gelombang yang lahir dari tubuhmu. Gelombang yang membuat tubuhku bergetar. Ya, bergetar begitu hebat. Rasanya begitu nyaman. Getar itu telah melahirkan sesuatu yang terpendam lama dalam jiwaku. Dan aku tidak mau kehilangan getar itu lagi, maka aku menetap dikepalamu, memberikan pengetahuan yang sama tentang getar itu. Ya, aku juga mencintaimu,”.

Kami menjadi satu. Sempurna menjadi sepasang ular yang mencinta.
“Kekasih, kau telah siap untuk diburu….?”
“Telah kutemukan cahaya itu. Aku siap menghadapi segala yang menimpa….”.
"Masuklah, kekasih, lebih dalam. Masuklah…..”.

Maka kudengar setiap nafas ketakutan, kebencian, kejijikan yang lahir dari mulut-mulut yang tak pernah mau memahami arti getar yang menyelimuti kami. Getar yang merambat hangat dalam jiwa kami. Getar yang menepis panas api yang membakar tubuh kami yang terikat menjadi satu, disuatu malam yang mengejang. Ya, kami telah sempurna menjadi ular yang mencinta, meski tubuh kami telah hangus menjadi arang. 

"Akhirnya mampus juga sampah-sampah kota ini…cuh!!!”. Dunia terus berputar, menjemput segala tawa dan luka. Entah sampai kapan.


*Penulis wartawan MALANGTIMES

Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru