Serial Cerbung

Cerbung MENGELUPAS BERSAMAMU (2)

Jan 08, 2017 11:41
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

Cerbung
MENGELUPAS BERSAMAMU (2)
dd nana 

Ya, seperti yang sering kau lakukan setiap kali perutmu menjadi begitu mual, dan dengan diam-diam kau muntahkan bagian-bagian tubuhmu di tong sampah belakang pabrik. 

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

Aku ingat, suatu hari kau begitu marah memuntahkannya sehingga tong itu tak mampu untuk mewadahi gumpalan cairan busuk dari mulutmu. Warnanya begitu hijau, berlendir, dan berdenyut-denyut. 

Berdenyut ? 

Ya, aku melihat muntahan mu berdenyut hidup. Seperti janin dalam rahim para perempuan. 
Matamu mulai memerah kembali, siap membunuh setiap yang lahir dari tubuhmu. 

Kekasihku, jangan kau bunuh lagi janinmu, sudah cukup kau bunuh cikal anakmu setiap kali kau muntah dalam amarah yang sangat.

Biarkan dia hidup. Karena muntahan itu adalah catatan dari sejarah hidupmu. Meski anyir, kelam dan tidak kau sukai sekalipun. 

“Tapi, aku lelah….”

"Kelelahan tidak memberikan legitimasi untuk membunuh,”.

"Lantas apa yang harus kuperbuat ?”      

"Berjalanlah. Berjalanlah menuju arah kegelapan hingga kau temukan cahaya. Tetapi jangan kau ikuti cahaya itu, tetaplah berjalan…”

“Telah lelah tubuh ini kuseret dalam perjalanan. Kini kau menganjurkan aku harus berjalan. Ah, sudahlah setiap katamu semakin membuatku bingung. Sekarang kumohon pergilah…”.

“Kau telah berjalan ? jalan mana yang sedang kau bicarakan. Kau tidak berjalan, kau tiarap diam,”.
“Pergilah, jangan ganggu aku dengan kata-katamu itu. Pergilah jauh dan cari orang yang mau mendengarkan omonganmu,”.

“Aku tak akan pergi. Aku akan tetap disini,”.

“Terserah, lakukan apa yang kau inginkan dariku. Aku sudah muak dengan segalanya !”.

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

“Percayalah, aku hanya ingin membimbingmu. Menjadikanmu sosok yang hidup. Sosok yang merdeka dari berbagai perangkap waktu. Wujud yang memiliki kehendak bebas,”.

“Heh…memang kau siapa, Tuhan…???”.

“Tidak pernah aku memimpikan menjadi Tuhan. Tetapi aku mampu membuatmu merdeka. Bagaimana ?”.

“Kalau kau bukan Tuhan, jadi siapakah kau ?”

"Suatu saat kau akan mengetahui siapa aku. Sekarang, dengarkan apa yang akan kukatakan….”  

Sekarang melatalah. Susuri tanah dengan tubuhmu dan cium aromanya pelan-pelan. 

Jangan terburu-buru, belajarlah bersabar. Sehingga tubuhmu tidak terkena runcingnya batu dan kerikil. Sehingga wangi tanah lesap mengikat erat paru-parumu.

Sekarang, rabalah angin dengan seluruh kelenjar tubuhmu. Rasakan keberadaannya, kehangatan yang dimilikinya mampu membakar ketidaktahuanmu. 

Ya, begitulah. Dan biarkan dia menuntunmu, menunjukkan jalan yang akan kau tempuh. Ya, kau mulai memahaminya sekarang. 

Jangan…aku bilang jangan terburu-buru. Segala perubahan untuk menjadi membutuhkan proses yang tidak singkat. Kesabaran untuk memahami, menikmati dan melakoni adalah bagian yang terpenting sekaligus tersulit. Jadi…. (bersambung).


*Penulis wartawan MALANGTIMES

Topik
Cerbung

Berita Lainnya

Berita

Terbaru