Cerbung RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (6)

Dec 31, 2016 11:05
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

Cerbung
 RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (6)
dd nana 

"Duduklah disampingku…laut …” aku tepuk kasur disampingku, mempersilahkan lelaki itu duduk. Tubuhnya perlahan membalik, menuju ke tempat yang kusediakan. Deru nafasmu seperti ombak yang risau. 

Baca Juga : 5 Game Offline Ini Bisa Jadi Pilihan Usir Kebosanan

“Aku bukan laut. Aku Necro. Maaf kalau mengecewakanmu. Carilah tubuh yang lain. Tubuh yang mampu membakar penatmu. Biarkan aku pergi," tubuh pualam itu mulai terangkat. Tangannya kupegang. Tak sadar begitu erat.

“Namaku Drupadi, perempuan yang diikat kesetiaan para lelaki limbung. Aku tidak butuh tubuhmu untuk membakar tubuh ini. Karena kita tak lagi memiliki tubuh. Kutahan dirimu, karena keyakinanku. Kau bukan salah satu anjing yang sering memasuki rahimku. Selain itu kucium bau yang begitu kurindu dari tubuhmu. Bau kematian. O ya, bukankah kau datang kesini untuk mencari detak di tubuhmu?” kudekatkan tubuhku semakin rapat. 

O, bau kematian yang dikirim tubuhmu seperti do’a yang sering di kecup ibu, dulu. Aku bergetar. Wajahku terbenam ditubuhnya.

 “Ya, aku butuh detak ditubuh, tapi bukan detak jam. Detak yang berirama, teratur, adalah detak yang membosankan” kau lepaskan pelukkanku. Duduk dihadapanku. Jarak kami seujung kuku. Kami saling menatap. 

Ah, Drupadi, perempuan bernyawa yang mati. Tahukah kau sepasang matamu melenakan ikrarku kepada jubah malam.

Memangkas sayap pekatku. Memamah jelagaku. Mengiris-ngiris tubuhku, memandikan wujudku yang mulai asing, mulai kering dari segala do’a. 

Ah, lautku yang jiwanya tergadaikan. Dengan sengit harum bau kematian, kedatanganmu menagih. Jadilah kau perempuan baru.

Jadilah kau perempuan baru. Laparku semakin menawan tubuh. Aku menghiba padamu, malaikat bersayap pekat. Suapi aku dengan detak kosong tubuhmu yang bau kematian. 

“Berikan aku sisa tubuhmu”
“Berikan aku sekedar yang tertempel dari tubuhmu”.

Tiba-tiba, kami mengelupas, menjadi sepasang kupu-kupu tanpa bulu. Terbang berkejaran diantara hujan cahaya lampu.

Baca Juga : Kabar Diculiknya Mahasiswa UM Buat Heboh Kalangan Kampus

Tangan kami jadi satu. Bibir kami terbakar syahdu. Saling mengunyah sisa daging tubuh. Begitu kenyal dan gurih, menggetarkan seluruh buluh di tubuh. 

Apel beracun itu telah tawar, Drupadi. 

Apel berular itu telah lenyap, malaikatku. Sebagian dari sorga turun ke bumi. Turun ke kita.

“Telah kutemukan ladang puisiku. Di tubuhmu. Bacalah, bacalah, Drupadi…” 

“Puisi yang kau torehkan ditubuhku menjelma sayap kupu-kupu” 

“Kita telah menemukan detak itu, kekasih. Detak yang tercipta dalam kekosongan. Meski ku tahu detak ini begitu belia untuk menghadapi berbagai petaka yang akan menghadang”.

Ya, malaikatku, detak kita masih begitu muda, tetapi cukup untuk mengusir segala penat yang mengendap. Kau, memelukku begitu kuat. Malam sempurna ditikam kelepak sayap kupu-kupu. Dan, jubah malam murka. Titahnya terabaikan (Bersambung)

*Penulis wartawan MALANGTIMES

Topik
Cerbung Rumah Api

Berita Lainnya

Berita

Terbaru