Mengenang Mbah Karimun, Merawat Tradisi Topeng Malangan

Dec 29, 2016 14:57
Mbah Karimun (Alm), maestro topeng Malangan (kanan) saat masih hidup dikunjungi Bupati Malang (kiri) (Istimewa)
Mbah Karimun (Alm), maestro topeng Malangan (kanan) saat masih hidup dikunjungi Bupati Malang (kiri) (Istimewa)

MALANGTIMES - Dunia kesenian baik wilayah Malang maupun Indonesia, tentunya tidak asing dengan nama Mbah Karimun, maestro topeng Malangan yang wafat tanggal 14 Februari 2010 lalu.

Meninggalnya Mbah Karimun meninggalkan duka bagi dunia kesenian khususnya topeng Malangan. Tetapi daya juang Mbah Karimun terus berdenyut di desa Karangduren, Pakisaji, Kabupaten Malang.
Hal ini terlihat dari tradisi topengan yang terus hidup di masyarakat dan terus bisa dinikmati, bahkan oleh warga dunia para pecinta kesenian.

Baca Juga : Mengenang Johan Wahyudi, Guru dan Pembimbing PBSI Kota Malang

Agenda tahunan warga dalam upaya mengenang Mbah Karimun juga terus berlangsung di Desa Karangduren, setiap tahun. Seperti yang terjadi hari Rabu (28/12) sore dalam acara mengenang Mbah Karimun.

"Mengenang Mbah Karimun adalah bagian dari merawat dan terus memajukan kesenian topeng Malangan," ujar Suroso, cucu pertama Mbah Karimun, Kamis (29/12).

Suroso juga mengatakan kecintaan Mbah Karimun terhadap topeng Malangan adalah bentuk laku hidup sejati yang patut diteladani generasi sekarang.

"Beliau bukan saja mewariskan topengan semata, tetapi yang lebih utama adalah api kesetiaan dalam berperilaku yang selaras dengan hati dan diwujudkan dalam berkesenian ini," tuturnya kepada MALANGTIMES.

Spirit Mbah Karimun memang terus berdenyut dan terjaga dalam acara Mengenang dan Ruwatan Massal yang dihadiri oleh warga desa dan para pecinta kesenian.

"Hampir 100 orang lebih mungkin yang hadir dalam acara untuk mengenang Mbah dan bersama menjaga kesenian topeng peninggalannya," kata Suroso.

Baca Juga : Kisah Pilu Istri Pejuang Demokrasi Kabupaten Malang Merawat Kedua Anaknya yang Sakit Kanker Usus dan Leukemia setelah Ditinggal Sang Suami untuk Selama-lamanya

Acara yang digelar oleh Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI),  diawali dengan nyekar ke makam Mbah Karimun yang berjarak sekitar 500 meter dari Sanggar Asmoro Bangun.

Dalam perjalanan kaki tersebut, beberapa orang berpakaian hitam, diiringi dua penari topeng  membawa sesajen dan ubo rampe yang terdiri dari nasi tumpeng, air sembilan sumber, kembang setaman, banyu putih segelas, jenang abang, telor matang, kendi isi banyu, gulo jowo serta bumbu dapur jangkep.

"Dalam acara mengenang Beliau, kami meminta kepada Tuhan agar meringankan langkah para penerus kesenian topeng Malangan ini," kata Suroso yang juga mengatakan ruwatan yang dilakukan juga sebagai upaya penyucian untuk menghilangkan balak, fitnah serta sial.

"Ruwatan ini disebut ruwatan sukerta yang dilakukan secara sederhana pada akhir tahun," imbuhnya.
Acara lain dalam mengenang Mbah Karimun adalah pembacaan mocopat yang diikuti lebih dari 50 orang. Dilanjut malam harinya dengan pertunjukan wayang topeng Malangan. 

Topik
Mbah KarimunTradisi Topeng Malangan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru