Cerbung RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (5)

Dec 26, 2016 13:44
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

MALANGTIMES - Cerbung
 RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (5)
dd nana 


Sempurna. Wajah yang sempurna. 
Ya, ini wajah terlalu pualam. Wajah yang mampu menyihir segala hasrat manusia untuk menyerahkan dirinya dalam kuasaku. Dari wajah inilah, aku mulai mengenal rasa muak, sakit dan marah terhadap segala yang bernyawa, terutama manusia. 
Bayangkanlah, dari kecil wajahku selalu ditarik kesana kemari, ditempelkan di mana-mana, di perebutkan orang-orang untuk dikuasai. Banyak juga orang-orang pandir yang mengomentari wajahku ini. 
Seandainya ditambahi ini, dikurangi itu, dibagi sama anu, pasti lebih oke. Hingga disuatu peristiwa, rumah kami dibakar massa, yang dipenuhi oleh para lelaki, baik sudah beristeri maupun perjaka. Katanya, aku mengguna-gunai para isteri dan perawan di kampung ini sehingga mereka tidak mau melayani kebutuhan para suaminya lagi. 
Para perawan menjadi enggan untuk memadu kasih dengan lelaki lainnya. Para perempuan bersuami, kerjanya melamun membayangkan wajahku semata. Tak bekerja apa-apa. Chaos. Dan, aku sempurna menjadi penyebab semua. Kambing hitam yang lugu. Tak berdaya. Hasilnya, api yang membara. Segenap yang kucinta jelma serbuk hitam. Arang. Aroma daging terpanggang. Ayah, Ibu, Rumah, kenangan. Hilang. Dibakar cemburu para lelaki yang berang. 
Sedangkan aku, diselamatkan jubah malam. Dengan syarat, berpantang berhubungan dengan yang bernyawa, yang bersyahwat. Menjadi budak. Kuanggukan semua syarat malam. Kau pun tahu, dalam dera dendam yang sangat, tidak ada akal pikiran. Yang ada hanya kutuk. Bahasa malam.
Namaku Necro. Lelaki yang bersemedi dalam pusaran dendam. Lelaki yang  bergentayangan setiap malam. Mencari mayat perempuan. Lelaki yang merebut perhatian orang-orang untuk terus memperbincangkannya dengan nada amarah dan kutukan. 
Pekerjaanku, penunggu kamar mayat disalah satu Rumah Sakit di kota B. Gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhanku bergerilya setiap malam. Mencari mayat perempuan yang masih segar. 
Di Rumah Sakit kebutuhanku tidak bisa dilunaskan, mayat yang kami terima disini seperti semangkuk mie yang disekap tanpa udara berbulan-bulan. Berlendir dengan bentuk yang membengkak tak beraturan. Begitu anyir. Begitu lengket. Busuk. 
Setelah kusetubuhi berulang kali, mayat perempuan yang kucuri dari daerah pekuburan kota B, semakin membusuk. Menyengat hidung. Wujudnya yang dulu, saat bernafas, merebut syahwat para lelaki, aku yakin akan membuat setiap lelaki muntah, kini. 
Aku terduduk diam disampingnya, seperti saat itu. Saat dimana keisengan orang-orang yang seprofesi denganku, penunggu kamar mayat, melemparkanku kedalam sebuah kamar. Kamar seorang pelacur yang masih bernyawa. Matanya menyilaukan, menusuk seluruh tubuhku. Secepatnya aku memutar tubuh menuju pintu yang tertutup.

“Tunggu…kumohon janganlah keluar dulu…aku mohon..” suara yang meminta dari seorang perempuan, bukan pelacur. 

Aku mendengar gelombang laut dari setiap gerak lelaki yang masih membelakangiku. Tubuhnya harum bau kematian (bersambung).

Topik
Cerbung Rumah Api

Berita Lainnya

Berita

Terbaru