RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (3)

Cerbung RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (3)

Dec 24, 2016 10:51
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

Cerbung
 RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (3)
dd nana 

3/
Orang-orang silih berganti datang dan pergi. Tanpa sapa, tanpa tanya. Sekedar melunaskan hasrat sesaat. Syahwat. Desah, rintih, umpat para pemabuk adalah symponi yang itu-itu juga. Iramaku, kini. Aku suka mengintipnya di celah-celah rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. 

Baca Juga : 5 Game Offline Ini Bisa Jadi Pilihan Usir Kebosanan

Perempuan yang menetap hampir 10 tahun di sini. Perempuan yang terpelanting sendiri, karena kelamin yang ingkar janji. Karena perut bunting yang berisikan aku. Tanpa bapak. Tanpa pernikahan. Aku selalu merasa aneh dengan para lelaki yang datang ke sini. Para lelaki yang merapat di atas tubuh ibuku dan aku. 

Mata mereka semuanya bolong. Kata ibu, cahayanya telah diambil paksa lampu-lampu, billboard iklan, televisi, komputer; dan benda-benda asing yang sulit lidah ibu mengucapnya. Sedang jiwa mereka disimpan rapat (atau mungkin sudah dibunuhnya itu jiwa) entah diperistiwa mana. Yang tertinggal dari para lelaki itu, hanya kelamin dan tentunya rimbun duka juga berlembar-lembar uang. 
Aku lahir saat matahari begitu runduk. Malam yang kecut penuh tuba. Penuh luka. Ibu manamaiku Drupadi. Padahal ku idamkan nama Durga. Saat aku masih diperut Ibu.

Dan aku selalu merasa aneh dengan rumah yang ditempatinya. Rumah yang bercahaya saat gelap mulai menyergap. Para Ibu, begitulah aku memanggil sekawanan perempuan di rumah ini, selalu berbau bunga saat malam menyapa. Pada malamlah segala tawa, desah, rintih dan makian di sandarkan. 

Terkadang aku mencium bau yang aneh dan asing, saat aku keluar dari kamar ibu yang disekat dua. Kamar kecilku dan kamar ibu. Ibu selalu menyeretku cepat, saat terlihat aku terlalu jauh keluar dari kamar.

“Bidadariku, saat malam datang, rumah ini menjelma rimba yang dipenuhi binatang buas. Sangat berbahaya bagi tubuh kecilmu. Masuklah kekamarmu, biar Ibu menemani para tamu". 

Tamu, sepenggal kata yang mengenalkanku dengan benci. Dengan amarah yang sangat.
“Aku benci dengan tamu Ibu. Wajah mereka seperti anjing, mengendus, meneteskan liur bau busuk, menggigit tubuh Ibu setiap malam.” Aku meradang disuatu waktu. 


Ya…Tuhan masukkan berjuta kupu-kupu kemata bidadariku, hingga kelam tak terekam di mata beningnya. Hingga ingatan tak pernah mengusik tidurnya.   

“Meskipun mereka seperti anjing, tetapi mereka jinak, bidadariku. Tuh...boneka-boneka dikamar itu kan dari tamu ibu.” 

Baca Juga : Kabar Diculiknya Mahasiswa UM Buat Heboh Kalangan Kampus

“Aku nggak mau boneka dari mereka. Boneka dari orang-orang yang sering memukul, menjambak, menusukkan batang-batang besi ke perut ibu. Aku benci mereka!” 

ada telaga dimatamu, Ibu. Telaga yang siap membuncah, mengaliri pipimu. 
Jangan. Jangan kau tumpahkan lagi cairan di matamu, Ibu. Aku akan tidur, seperti keinginanmu. Mencoba melupakan segala kemarahanku terhadap mereka. Mengendapkannya dalam tidur yang tak pernah panjang. Tidur yang selalu terbangunkan oleh air matamu yang menjeritkan amarah disetiap malam. Saat para lelaki itu membelakangimu, bergegas menuju pintu keluar. 

Kenapa kau tidak ajak aku terbang, Ibu. Terbang dengan sayap putihmu meninggalkan rumah ini. Menceraikan para lelaki berwajah anjing. 

Mari ibu kita secepatnya tinggalkan rumah ini. Rumah yang membuat teman-teman sekolah menatapku begitu aneh. Menghujam ulu hatiku. Rumah yang membuat para lelaki dengan terang-terangan menancapkan belatinya di tubuhku yang semakin meranum. Bahkan disuatu siang, disekolah, saat aku memasuki WC untuk bertukar pakaian olahraga, aku dipeluk begitu erat dari belakang. Tubuhku terseret masuk, pintu terkunci. Dibelakangku dengus birahi menancap berulang kali. Bertubi-tubi. Di tengkuk, telinga, pipi. Lelaki itu, membalikkan tubuhku, Ibu. Merobek pakaianku, wajahnya seperti para lelaki itu, wajah anjing. Lidahnya yang kasat, berliur. Giginya runcing. Liar menjilati, menguliti, mengunyah tubuhku yang terbuka. Aku berteriak, berontak dari himpitannya. Perjuanganku berhasil memancing kerumunan teman-teman yang lain. Pintu WC itu digedor. Di dobrak. Dan anjing itu, ibu, melipatkan ekornya. Matanya membara oleh syahwat yang tak terlunaskan. 

“Lihatlah…lihatlah apa yang dilakukannya terhadapku…dia mencoba membujukku untuk…” telunjuknya bergetar. Kakinya menendangku begitu keras. Sepertinya ada yang gemeretak di igaku.
“Dasar anak pelacur…cuh..!!!”caci maki mendera tubuhku yang setengah telanjang, meringkuk dipojok WC. Sia-sia membela diri. Anjing itu, putera Kepala Sekolah, setelah puas mendera tubuh dan jiwaku lantas melenggang pergi. Keramaian bubar. Yang tertinggal adalah aku dengan air mata darah yang terus menetes.  Dimanakah Engkau, Tuhan ? Kau tinggalkan aku lagi. Tinggalkan aku lagi. 

*Penulis wartawan MALANGTIMES

Topik
Cerbung

Berita Lainnya

Berita

Terbaru