Serial Cerpen Bersambung (9)

Serial Cerpen Bersambung (9) Parak Pagi, Aku Merindumu*

Dec 12, 2016 09:07
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

Parak Pagi, Aku Merindumu*
dd nana


/9/Ini Peristiwa
Ada desah, ada erang, ada temali peristiwa; pun luka yang terus kau kenakan.

Tubuh-tubuh yang terkelupas masa kembali menyatu. Tubuh-tubuh tanpa tanya, yang berderap terus dalam lubang sempit dunia.

Sekadar menjadi penyaksi keterbelahan yang sempurna ditubuh-tubuh. 

Kau tiba-tiba meloncat dari pembaringan, membaca serpihan luka lalu.

Luka rengkah di kepala yang menjalar jalan malam. Jalan para btari kegelapan. Mengabarkan kepenatan tak terkalahkan. 

Jangan lelakiku, biarkanlah…biarlah…
Ya, seharusnya biarkanlah… sebelum para lelaki dari negeri matahari terbenam datang dengan kapal-kapalnya, merapat pesisir, merebut tubuhmu yang pualam, mengisi rahim-rahim perempuan, menularkan berbagai kotoran, memamah darah.

Sebelum kita dikirim kerahim terbuka. Untuk denyut, untuk nafas.

Sebelum para darah menjadi mainan kita. Menjadi tubuh-tubuh yang terus terbelah. Sebelum lintang titah menitahkan.

Seharusnya aku menyuntingmu, bukan menunggu. Karena kita satu sebelum semuanya dimulai. 
Setengahku, setengahmu. Jadi satu.

Sebelum kau beri aku nama merah, lelaki, dan tetek bengek nama-nama ditubuh.

Dan aku terpercik igaumu. Maka ku beri kau juga nama-nama. Tanpa kita sadari nama-nama itu memamah tubuh kita menjadi cepat lelah, busuk, terpecah-pecah. 
Kini kita kembali dipertemukan dalam tubuh yang lain. Dimasa yang lebih pecah.

Maka biarkan aku menyuntingmu. Mengusaikan segala rasa, segala luka, segala masa. Kembali menjadi bentuk awal kita.

Ya…kita pernah berjumpa, berulang kali sebelum ini. Bercerita, bercinta, berpisah dan akhirnya lihatlah kita kembali terperangkap di tubuh yang dibelah.

Aku pelacur. Kau lelaki yang paling dicari para lelaki bersenjata. Betapa hebat kuasa memilih tubuh, bukan begitu…?

Biarkan aku menyuntingmu kini…

Berbagai masa, berjuta lelaki dalam bentuk yang berbeda telah singgah di sini.

Di dada yang terus berderap meminta tubuh yang nikmat.

Semua yang menetap, semua yang sekedar, semua yang luka, semua yang merindu adalah edar takdir yang diminta. Begitu juga kita…biarlah…biarkan…
Biarkan aku menyuntingmu…

Cukup. Cukup lelakiku disemua masa. Cukuplah semua itu. Tak perlu lagi kita lahirkan perayaan tanda-tanda. Karena kita telah menjadi waktu yang berderap.

Menukik relung-relung sejarah, meski tak tercantum di kitab-kitab. Itulah kita. Edar takdir telah diputuskan.

Maka biarkanlah....Dengarkanlah genderang itu telah ditabuh lagi. larilah…larilah lelakiku disemua masa…larilah !! 
Cemas itu seperti dulu. Air matamu juga seperti yang pernah aku isap di masa yang telah pulang, tetapi aku telah lelah untuk berlari dan bersembunyi. 

Derap itu lagi, padahal aku belum diujung penyuntingan, biarkanlah…biarlah semua lunas dalam penyaliban yang berulang.

Tangismu buncah dalam diam di dadaku, di luar orang-orang saling melemparkan kata, hingar. Berderap memukul dinding waktu.

Kami sempurnakan pendengaran. Bukan untuk mendengar suara-suara dari luar.

Karena segala pekak suara dari luar, terkadang menyesatkan.

Kami sempurna dalam hening. Hingga segala rupa, suara tak lagi ada.

Hingga segala luka, tak mampu menjamah kita. Hanya ada dengung serupa doa. Serupa rindu. Serupa luka. 
Dua tubuh berlubang-lubang menyiarkan darah. Lusinan selongsongan timah berserakan.

Beku, membatu menjelma khuldi. Meninggalkan kesunyian yang cekam. 

Anyir darah yang melayang. Dan kami, bergandengan tangan. Kembali mengitari edar takdir.

Ngembara dan berharap menemukan tubuh yang indah. Tubuh yang menghikmati penyatuan yang satu.

Seperti dulu. Di luar pecah kembali suara-suara. Semakin bingar, semakin merah (Selesai).


*Penulis wartawan MALANGTIMES

Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru