Para musyawirin (peserta konfercab) dengan khidmat mengikuti pembukaan Konfercab NU Kabupaten Malang ke-18 di Gedung MTS NU, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Jumat (28/10/2016) malam. (Foto : Heryanto/MalangTIMES)
Para musyawirin (peserta konfercab) dengan khidmat mengikuti pembukaan Konfercab NU Kabupaten Malang ke-18 di Gedung MTS NU, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Jumat (28/10/2016) malam. (Foto : Heryanto/MalangTIMES)

MALANGTIMES – Penentuan siapa sosok yang dianggap layak memimpin Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang baik sebagai pengurus syuriah maupun tanfidziyah dalam Konferensi Cabang (Konfercab) ke-18 bisa jadi akan berbeda dari sebelumnya.

Baca Juga : Musim Melaut, Para Nelayan yang Berlabuh di Kabupaten Malang Bakal Disemprot Antiseptik

Selain harus memenuhi persyaratan administratif dan dukungan dari 433 hak suara para musyawirin (sebutan untuk peserta konfercab), pada Konfercab NU Kabupaten Malang ke-18 kali ini calon diminta memenuhi kriteria khusus ala NU.

Selain merupakan sosok yang bersih dan jujur, kriteria khusus itu adalah calon yang bersangkutan harus mampu membaca kitab kuning (kitab klasik yang selalu jadi rujukan pelajaran keagamaan di pesantren).

Bahkan, tidak hanya bisa baca saja namun harus mampu memahami, menerapkan serta menjelaskannya secara benar kepada umat yang dipimpinnya.

Kalau  kriteria khusus itu tidak terpenuhi maka calon yang bersangkutan diminta mundur secara teratur dari pencalonan.

Meskipun kriteria khusus itu tidak tercantum secara eksplisit dalam tata tertib (tatib) pencalonan sebagai salah satu syarat sah calon namun hal tersebut secara gamblang disampaikan berulang-ulang oleh Pengurus Syuriah NU Jatim dan Pengurus Besar (PB) NU seperti disampaikan Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah (PW) NU Jatim, KH Marzuki Mustamar.

“Jangan sampai ada Ketua PCNU yang menyampaikan muqodimah (pembukaan) saat sambutan Bahasa Arab-nya keliru semua. Oleh karena itu Ketua PCNU harus pinter kitab,” tegas Marzuki Mustamar saat menyampaikan sambutan pada Pembukaan Konfercab NU Kabupaten Malang ke-18 di MTS NU Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jumat (28/10/2016) malam.

Untuk melihat apakah calon yang bersangkutan memenuhi kriteria khusus itu, lanjutnya, dia harus dites terlebih dahulu dengan diminta membaca kitab kuning di depan para Kyai sepuh NU.

Ditambahkan, jika ada sosok yang tepat dan memenuhi semua kriteria yang ada termasuk kriteria khusus itu, lanjutnya, penentuan siapa yang akan dipilih menahkodai NU Kabupaten Malang lima tahun ke depan tidak perlu lama-lama.

“Kalau ada kader NU yang memenuhi kriteria itu, sepuluh menit langsung ditetapkan saja yang bersangkutan memimpin NU Kabupaten Malang,” tegasnya.

Baca Juga : Draft Sudah Final, Besok Pemkot Malang Ajukan PSBB

Selain alim (memahami agama secara mendalam), lanjut Marzuki, semakin sempurna jika yang bersangkutan juga seorang akademisi yang berwawasan luas serta mengikuti perkembangan pemikiran kekinian.

"Selain alim, bersih dan jujur, jadi kyai dan tokoh NU itu harus lurus, konsisten, konsekuen dan tidak hubbuddunya (terlalu cinta kepada dunia). Apalagi, sampai meminta-minta jabatan dan uang kepada orang kaya," pesan Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Malang ini.   

Hal senada disampaikan Drs Saifullah Yusuf, salah satu Ketua PBNU. Menurutnya, ke depan penetapan Ketua Tanfidz cukup dengan musyawarah mufakat.

“Tidak perlu ada mekanisme voting. Calon yang dipandang bagus dan memenuhi kriteria memimpin NU cukup diteliti dan dianalisis oleh para kyai sepuh NU. Kalau ada yang memenuhi syarat langsung ditetapkan yang bersangkutan sebagai pemimpin di NU,” jelas Wakil Gubernur Jatim ini.

Pada Konfercab NU Kabupaten Malang ke-18 ini ada sejumlah Kyai dan tokoh NU yang akan bersaing mengisi tampuk kepemimpinan PCNU Kabupaten Malang priode 2016 -2021.

Untuk Rais Syuriah, setidaknya sudah ada empat nama yang muncul ke permukaan. Mereka adalah Pengasuh Ponpes Al Munawariyah Bululawang KH. Maftuh Said, Pengasuh Ponpes Sirathul Fuqoha Gondanglegi KH. Muhammad Dahlan Ghoni, Pengasuh Ponpes Al Rifai Singosari KH Farichin Muhsan, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Malang KH. Fadhol Hija'. Nama-nama mereka berpeluang menggantikan posisi KH. Muhammad Mansyur yang saat ini menempati posisi sebagai rais syuriah PCNU Kabupaten Malang.

Sementara, untuk calon ketua tanfidziyah, setidaknya sudah ada delapan nama yang muncul ke permukaan.

Mereka adalah ketua tanfidziyah saat ini KH. Bibit Suprapto, wakil ketua Syaiful Effendi, wakil rais syuriah H. Imam Sibaweh,  sekretaris KH. Abdul Mujib Syadzili, wakil sekretaris H. Imron Rosyidi Syarif, mantan ketua GP Ansor Kabupaten Malang Dr Umar Usman, dan ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kepanjen Ustad Imam Makruf, dan Wakil Rektor II Universitas Islam Malang (Unisma), Noor Shodiq Askandar, SE MM.