Momentum Revolusi Mental Ala Budaya Ngalaman

Oct 27, 2016 21:33
Direktur Lontar Sansekerta Verdy Firmantoro saat presentasi internasional tentang Upaya Mengembalikan identitas Nusantara di Bali (Foto : Istimewa)
Direktur Lontar Sansekerta Verdy Firmantoro saat presentasi internasional tentang Upaya Mengembalikan identitas Nusantara di Bali (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Sekumpulan Pemuda melakukan aksi nyata kepedulian budaya Ngalaman di hari Sumpah Pemuda.

Baca Juga : Mahasiswa di Malang Kritik Aksi Perusak Lingkungan Lewat Lukisan

Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016 dimanfaatkan secara kreatif oleh para pegiat budaya Lontar Sansekerta dengan tajuk Ngeling-Ngeling Budaya Ngalaman.

“Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”, itulah optimisme Bung Karno terhadap para pemuda Indonesia.  Pemuda adalah pelopor kebangkitan bangsa ini.

Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 telah menjadi bukti catatan sejarah perjuangan kaum muda Indonesia.  Sumpah pemuda bukan hanya seremoni, tapi ruh kebangkitan pemuda Indonesia, ujar Verdy.

Peran pemuda penting sebagai modal utama pembangunan bangsa ini, salah satunya sebagai agen budaya.

Verdy menuturkan, sayangnya banyak  generasi muda yang  justru  asing dengan budayanya sendiri. Ia menilai hal itu menunjukan gagalnya komunikasi peradaban dari masa lalu ke masa kini.

“Tak heran jika generasi muda justru lebih akrab dengan budaya-budaya populer dari bangsa asing,” ujar Verdy yang juga sebagai pengurus Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya.

Baca Juga : FSP Moodier, Inovasi Parfum Karya Mahasiswa UM dengan Wadah Fidget Spinner

Acara bertajuk “Ngeling-Ngeling Budaya Ngalaman” bisa jadi sarana belajar stategi komunikasi politik berbudaya bagi kaum muda sebagai calon pemimpin masa depan.

Sebagai seorang pemuda dan aktif mengkaji komunikasi politik di Depatemen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Verdy menilai bahwa politik dalam kebudayaan bukan sekedar urusan pragmatis kalah-menang, tapi kesantunan dalam bertutur dan keluhuran dalam bersikap menjadi poin penting melakukan komunikasi politik.

Momentum  Sumpah Pemuda ini bisa dijadikan ajang revolusi mental mengingat warisan peradaban di masa lampau. Revolusi mental untuk mengubah wajah komunikasi politik Indonesia.

Mengetahui sejarah boso walikan menjadi sebuah pengetahuan yang berharga bagi kaum muda.

“Misalnya dalam perpektif komunikasi politik, boso walikan itu tidak hanya dipahami dalam ranah strategi politik praktis sebagai jargon-jargon kampanye politik semata, melainkan harus menjadi pembelajaran bahasa pemimpin yang mampu membumi dengan masyarakatnya” kata Verdy. 

Topik
Lontar SansekertaNgeling Ngeling Budaya Ngalaman

Berita Lainnya

Berita

Terbaru