Patung Chairil Anwar, Penyair dengan Sebutan Binatang Jalang yang ada di kawasan Jalan Kayu Tangan, Malang (Foto: Fadil/ MalangTIMES)
Patung Chairil Anwar, Penyair dengan Sebutan Binatang Jalang yang ada di kawasan Jalan Kayu Tangan, Malang (Foto: Fadil/ MalangTIMES)

MALANGTIMESĀ - Bulan Oktober adalah Bulan Bahasa. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk menggugah nasionalisme, terlebih di Kota Malang yang menyimpan sejarah kesusastraan yang cukup panjang.

Coba kita tengok patung Chairil Anwar yang ada di kawasan Kayutangan, bisa jadi di kota lain tak memilikinya. Bukan tanpa alasan patung itu dibangun di kawasan tersebut. Cikal bakal berdirinya Patung Chairil di Kayutangan cukup panjang.

Patung tersebut diresmikan oleh Walikota Malang, M. Sardjono Wirjohardjono, pada 28 April 1955, atas gagasan seorang pemuda Achmad Hudan Dardiri, pengagum Si Binatang Jalang.

Chairil Anwar memang pernah punya kenangan tersendiri di Kota Malang pada tahun 1947. Saat itu, Kota Malang ditunjuk sebagai tempat menggelar Sidang Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), cikal bakal lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

Bekas gedung Societiet Concordia di zaman Belanda, dijadikan tempat sidang KNIP pada tanggal 25 Februari hingga 6 Maret 1947. Sekitar empat bulan kemudian gedung tempat Sidang Pleno KNIP ini hancur saat terjadi Agresi Militer Belanda I.

Saat penyair Chairil Anwar singgah di Kota Malang ini memberikan semangat tersendiri bagi para sastrawan dan budayawan dari Kota Malang. Terlihat hari ini Malang mencetak banyak seniman dan budayawan.

Bukan karena strategis patung Chairil Anwar dibangun di tengah- tengah poros jalan utama. Tapi ada makna yang sangat penting bagaimana Chairil bisa menyatukan tiga golongan yang sangat ideologis bahkan pesimis pada waktu itu. Sekarang nama Jalan Kayutangan telah diubah menjadi Jalan Letjen Basuki Rachmad sejak tahun 1969.

Kedatangan Chairil ke Kota Malang tidak jauh dari julukan yang disandangnya "Binatang Jalang" bahwa dia seorang penyair yang suka berkeliling ke mana- mana. Bahkan hampir ke seluruh penjuru negeri.

Menurut seniman Malang Darmanto atau yang dikenal dengan sebutan Dengkek, Chairil bukan hanya penyair, tapi seorang revolusioner.Ā 

Kedatangan Chairil di Malang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam dunia kesusastraan yang sebelumnya memang masih terbelah- belah.

"Dia dapat menyatukan tiga kelompok, antara lain, nasionalis, agamis, dan nasionalis," ujar Dengkek, yang pernah mendapat penghargaan dari Pemprov Jatim M. Soleh Adipramono, sebagai Seniman Teater 2010 ini.

Pada jamanya, Chairil adalah orang yang bebas masuk ke mana- mana. karena Dia merupakan keponakan dari Sutan Syahrir yang pernah menjabat Perdana Mentri pada 1950 an.

"Dan patung Chairil Anwar itu kini butuh dilestarikan, bahkan kalau bisa harus lebih tinggi agar nampak jelas," pesannya setelah wawancara usai.