Abah Rosidi (86) sang penyintas peristiwa 1965 dari lereng Gunung Gede yang sampai saat ini tidak pernah diadili dalam peristiwa PKI (Foto: BBC NEWS)
Abah Rosidi (86) sang penyintas peristiwa 1965 dari lereng Gunung Gede yang sampai saat ini tidak pernah diadili dalam peristiwa PKI (Foto: BBC NEWS)

MALANGTIMES- Namanya Rosidi,  usia 86 tahun, pekerjaan  pengrajin kayu dan bambu. Dulu, 1965, bekerja di perkebunan teh Goalpara, Sukabumi yang membuatnya menjadi tahanan politik.

Gegara Rosidi memiliki Kartu Anggota Sarbupri (Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) yang merupakan bagian dari SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), konfederasi buruh yang berafiliasi ke PKI.


"Abah jadi anggota Sarbupri bukan karena komunis- komunisan, Abah tidak tahu atuh gitu-gituan. Kartu itu yang Abah tahu berlaku buat keterangan di jalan, malah bisa dipakai masuk bioskop," kenang Rosidi.


Menurutnya, pada hari nahas itu, tanggal 10 Oktober 1965, ia berada di tempat yang salah. Saat itu ia baru saja diterima bekerja dan akan berpamitan terlebih dahulu kepada pamannya, Mang Ocon. Tapi belum lama di rumah Mang Ocon, datang truk bermuatan tentara.


"Mang Ocon langsung menyelinap ke belakang, dan lenyap," kenang Rosidi. Tentara-tentara itu ternyata mencari pamannya yang dituding pegiat organisasi terkait PKI. Tak ada paman, keponakan pun jadi. "Saya terus disuruh naik truk ikut mereka. Ternyata saya ditahan gegara kartu itu. Baru bebas tahun 1978," katanya mengenang peristiwa getir itu.


Rosidi secara resmi ditahan di Panembong, di sebuah rumah tahanan yang didirikan di sebuah bekas pabrik karet yang kemudian dikenal sebagai Kamp Panembong.
"Saya dipekerjakan, dipindah-pindah. Di Cihea dua tahun, disuruh ikut bikin jembatan, di atas Sungai Citarum. Terus di Rajamandala, setahun. Terus di Pagelaran, bikin jalan. Terus juga sempat dikirim ke Bandung, mengaspal jalan. Ke mana-mana, tergantung disuruhnya," kisah Rosidi.


Cerita itulah yang diangkat Tosca Santoso lewat buku Cerita Hidup Rosidi dan rencana terbit pertengahan November 2016. Ia mengatakan, para korban 1965 di Jawa Barat mengalami nasib yang berbeda dibanding yang terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, misalnya.


"Di beberapa tempat lain, terjadi pembunuhan masal, kalau di Jawa Barat, mereka tidak dibunuh, tapi dipekerjakan paksa," papar Tosca seperti yang dilansir BBC Indonesia, (30/09/2016).
Tosca, mengatakan bahwa Ibrahim Adjie, Panglima Divisi Siliwangi, meminta kepada Soeharto agar penanganan Jawa Barat diserahkan kepada Siliwangi. 


"Ibrahim Adjie menginstruksikan para prajuritnya bahwa mereka yang dituding terlibat PKI itu ditangkapi saja, jangan dibunuh. Karena mereka kebanyakan cuma rakyat kecil biasa," papar Tosca Santoso.


"Sebagai gantinya, mereka mengalami penderitaan lain: jadi pekerja gratisan." kata Tosca.
Dalam buku Cerita Hidup Rosidi, Tosca Santoso mengisahkan bagaimana Oneh (isteri Rosidi) bergabung dengan suaminya di tahanan dan mendapatkan tiga orang anak yang lahir di tahanan.
Saat di Panembong pula, Rosidi bersama sejumlah tahanan lain dipekerjakan untuk membuka hutan di Sarongge pada tahun 1972. Di kaki Gunung Gede itu mereka dipekerjakan untuk membangun perkebunan sayur.


"Mereka mulai benar-benar menetap di Sarongge, tahun 1974. Rosidi hanya meninggalkan Sarongge selama dua tahun, 1976 sampai 1978, saat dia dibawa ke Penjara Kebon Waru Bandung. Namun Oneh dan lima anaknya tetap di Sarongge," kata Tosca Santoso.
Di Sarongge kemudian berdiri perkampungan para tahanan politik. "Ibaratnya, Pulau Buru kecil," Tosca Santoso menggambarkan.Hingga terjadi pembebasan besar-besaran tahanan politik, tahun 1978, Rosidi tak pernah diadili.