Keren, SMA Cuma 2 Bulan Tapi Dapat Beasiswa S2 Universitas Harvard

Oct 02, 2016 19:30
Wartawan JatimTIMES bersama Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri Lima Menara, Rizky Putra Motivator muda (dua dari kanan), Dr. Warsito Purwo Taruno, Ketua Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) (Foto:Anggara/ MalangTIMES)
Wartawan JatimTIMES bersama Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri Lima Menara, Rizky Putra Motivator muda (dua dari kanan), Dr. Warsito Purwo Taruno, Ketua Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) (Foto:Anggara/ MalangTIMES)

MALANGTIMES-Dalam seminar nasional  dan talkshow yang diikuti oleh 1000 lebih peserta baik dari umum maupun mahasiswa yang diprakarsai oleh Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) dihadirkan pemateri yang membawa inspirasi yakni Rizky Putra.

Baca Juga : Tepis Tuduhan Ganti WR III, WR II Ungkap Rektor UMM Buat Jabatan WR IV

Ia merupakan seorang anak muda yang hanya menempuh SMA selama dua bulan dan sukses menjadi motivator dan penulis buku serta pendiri yayasan Pemimpin Anak Bangsa yang menampung para siswa yang putus sekolah.

Meskipun demikian berbekal Ijazah Paket C ia mampu melewati tes ketat masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI) pada 2007 dan lulus pada 2011 dengan predikat Cumlaude.

Rizky Putra sosok pemuda putih kelahiran Medan, 24 tahun yang lalu ini bahkan mendapatkan Beasiswa ke Universitas Harvard.

Ada yang menarik dari anak muda ini, yakni tentang perjalanan sekolahnya. Jika kebanyakan anak sekolah wajarnya adalah menempuh sekolah SMA selama 3 tahun, namun berbeda dengan Rizky. Ia hanya dua bulan menempuh SMA di kelas 1 setelah itu ia keluar. Ia lebih memilih belajar sendiri di rumah dengan sebuah metode yang ia sebut unshcooling.

"Kesulitan unshcooling ini adalah mengalahkan diri sendiri. Harus benar- benar disiplin, yang paling sulit adalah ketika tidak mengerti pelajaran, konsekuensi belajar otodidak ya harus memecahkan materi yang ada. Teman seangkatan saya masih duduk dikelas 1 SMA, namun saya sudah belajar kelas 3," ujar Rizky.

Memilih belajar sendiri bukan tanpa alasan, ia merasa marah dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) yang penuh dengan kebocoran dan ketidakjujuran seperti soal yang bocor dan murid- murid yang menyontek serta ada guru yang tutup mata dengan itu.

Baca Juga : Alumni Benarkan Adanya Desas-desus Pergantian WR III UMM

"Saya marah dengan UN dan ahkirnya saya memutuskan tidak sekolah karena saya nanti akan mengalami hal yang sama," ujarnya selesai acara seminar.

Diakuinya, memang dalam belajar sendiri itu sangat sulit tidak ada teman atau pun guru yang diajak berdiskusi sehingga terkadang ia depresi.

"Namun saya tetap ngotot mencari buku serta mencari dengan pendekatan analogi, saya juga terkadang meminjam buku- buku saudara juga mencari di internet," ujarnya.

Terahkir ia berpesan kepada generasi muda khususnya SMA, agar jangan membandingkan diri dengan orang lain, serta merangkul lingkungan positif, serta mengapresiasi kelebihan yang ada, percaya diri.

"Saya sendiri bisa seperti ini karena lingkungan positif yang membentuk saya seperti ini," pungkasnya.

Topik
Beasiswa HarvardFakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru