Sejarawan Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono menjelaskan asal usul Candi Jago. (Foto: Aditya Fachril/ MalangTIMES)
Sejarawan Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono menjelaskan asal usul Candi Jago. (Foto: Aditya Fachril/ MalangTIMES)
Singhasari Literasi Festival

MALANGTIMES - Bukan hanya belajar sejarah dari lisan, ratusan peserta Singhasari Literasi Festival, diajak langsung menyaksikan peninggalan sejarah, dengan berkunjung ke Candi Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ,Sabtu (1/10/2016).

Kunjungan tersebut dipimpin Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM), M. Dwi Cahyono dan Kepala Dinas Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara, Ketua DPRD Kabupaten Malang, Hari Sasongko.

Peserta yang dipandu M. Dwi Cahyono yakni menceritakan asal usul sejarah Candi Jago. Dia menjelaskan bahwa Candi Jago merupakan salah satu tempat pendarmaan Raja Wisnu Wardhana di masa Kerajaan Singosari.

''Candi Jago tempat bentuk ekspresi berdoa untuk para leluhur yang didirikan abad ke-13 atas perintah Raja Kartanegara,'' kata Cahyono saat menjelaskan histori Candi Jago di hadapan ratusan peserta.

Lanjut dia, candi ini dari masa ke masa mengalami perubahan pemugaran pada masa Mojopahit. Sehingga bentuk bangunanya sudah tak asli lagi, hanya terlihat bagian kaki dan sebagian kecil badan candi yang disangga oleh tiga buah teras.

''Walaupun dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, tempat ini juga sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Jadi ada keterkaitan Candi Jago dengan Kerajaan Singasari terlihat juga dari bentuk pahatan bangunan,'' paparnya.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan pelestarian pusaka kepada H. Tohir dan pagelaran seni musik.