Empat Dosen UB Kembangkan Sepeda Gowes Hibrid

Sep 18, 2016 18:22
Dosen FT-UB dengan hasil karyanya sepeda hybrid
Dosen FT-UB dengan hasil karyanya sepeda hybrid

MALANGTIMES - Bersepeda gowes kini semakin mudah saja. Setidaknya bila kita menggunakan teknologi yang dikembangkan empat dosen Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB). 

Baca Juga : Keren! Ini Robot untuk Sterilisasi dan Disinfeksi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Mereka adalah Ir Soeprapto MS, Ir Mahfudz Shidiq MT, Ir Teguh Utomo MT, dan Ir Unggul Wibawa MSc. Inovasinya dinamakan motor hibrid pada sepeda gowes. 

Inovasi ini didanai Kemenristekdikti melalui program pengabdian Iptek bagi Inovasi dan Kreativitas Kampus (IbIKK). Dalam inovasinya, empat dosen itu menghasilkan produk sepeda gowes berlistrik atau E-Bike (singkatan dari electric bicycle). 

Produk yang sudah dihasilkan ada enam unit. Setelah usulan IbIKK didanai, ada dua produk lagi yang diluncurkan. Ketua tim pengabdian Ir Soeprapto MS menuturkan, hampir semua komponen penyusun E-Bike didapatkan dari impor. 

Karena karakteristik komponen yang berbeda-beda, tim pengabdian mensinkronisasikan modul-modul elektronik supaya terakit sempurna pada sepeda gowes. Produk yang dihasilkan ada dua jenis. Yang pertama tipe hub BLDC planetary dengan kapasitas 250 W (watt) atau 350 W. 

Ada juga tipe yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan dengan kapasitas lebih kecil, 146,5 W, yakni tipe Mini On. Untuk tipe hub BLDC, komponen penyusunnya terdiri atas motor hub BLDC, controller, baterai pack lithium, pedal assistance sensor (PAS), dan throttle. 

Baterai pack lithium bisa ditempatkan di bawah sadel atau di tempat minum. Dibandingkan baterai konvensional seperti VRLA, baterai ini lebih ringan dan  terlihat lebih sporty. Untuk sistem, sepeda E-Bike ada tiga. Masing-masing full manual, hibrid, dan full electric. 

Pada mode manual, sepeda akan dikayuh pengguna seperti biasa. Sedangkan pada mode hibrid, sensor PAS akan mendeteksi kecepatan putaran kayuhan pengguna untuk menentukan pengaktifan motor hub BLDC yang berfungsi mendorong sepeda gowes. 

Baca Juga : Keren! Ini Robot untuk Sterilisasi dan Disinfeksi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Bila kecepatan sepeda lebih rendah daripada kecepatan kayuhan, sepeda akan terdorong dan terasa lebih ringan. Tetapi bila kecepatan sepeda lebih cepat daripada kecepatan kayuhan, tidak terjadi apa-apa. "Dengan sistem itu, penggunaan baterai bisa dihemat," terang Soeprapto. 

Pada mode full electric, sepeda tidak perlu dikayuh. Bila digas, kecepatannya bisa mencapai 35-40 kilometer per jam. "Sering saya gunakan mode hibrid. Dengan kondisi jalan normal, bisa digunakan untuk jarak jangkauan sekitar 80 km. Bila baterai habis, tinggal di-charge,” ujar Soeprapto. 

Motor hibrid pada sepeda gowes bisa ditempatkan pada penggerak depan atau penggerak belakang, tergantung selera pengguna. Dalam pengembangannya ke depan, E-Bike akan disambungkan dengan gadget android melalui bluetooth untuk sistem monitoring daya dan pengaturan kecepatan sepeda. 

Penghobi sepeda yang ingin memodifikasi sepeda gowes miliknya dengan motor hibrid bisa datang ke workshop E-Bike yang terdapat di gedung B Jurusan Teknik Elektro UB. Tim akan memasang motor elektrik dan sedikit melakukan modifikasi mekanik untuk menyesuaikan tipe kit dengan sepeda. 

Tim akan melakukan uji laik jalan sebelum diserahkan kembali. Biaya pemasangan motor hibrid untuk sepeda gowes tidak terlampau mahal. Harganya masih di kisaran Rp 5,9 juta– Rp 7,9 juta per unit. 

“Memang sebelum pengguna memutuskan memodifikasi sepedanya, ada baiknya mencoba dulu (test drive) salah satu unit di workshop kami,” ucap Soeprapto. (*)

Topik
Sepeda HybridFTUB

Berita Lainnya

Berita

Terbaru