Pedagang Pertanyakan Besaran Retribusi Angkut Sampah di Pasar Sumedang

Sep 05, 2016 15:42
Foto atas : karcis RAS yang beredar di pedagang TPS Pasar Sumedang selama 3 tahun lebih. Foto bawah : Karcis RAS yang masih belum diedarkan dan di cetak oleh bagian kebersihan di DCKTR. Ada nominal harga yang berbeda antara karcis RAS, padahal Perda.
Foto atas : karcis RAS yang beredar di pedagang TPS Pasar Sumedang selama 3 tahun lebih. Foto bawah : Karcis RAS yang masih belum diedarkan dan di cetak oleh bagian kebersihan di DCKTR. Ada nominal harga yang berbeda antara karcis RAS, padahal Perda.

MALANGTIMES -  Secarik kertas Retribusi Angkutan Sampah (RAS) di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Sumedang Kepanjen Kabupaten Malang, menyimpan teka-teki pelik dengan jawaban berbeda antara satu dinas dengan lainnya.

Baca Juga : Draft Sudah Final, Besok Pemkot Malang Ajukan PSBB

Menurut Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar) Bagian Pasar Kabupaten  Malang melalui Ngariono, Kepala Seksi Kebersihan dan Ketertiban, di ruang kerja Kabid. Pasar, karcis RAS yang ada di pedagang Pasar Sumedang bukan pihaknya yang mencetak.

“Karcis RAS yang di cetak Disperindagsar itu ada cetakan Perda No. 10 Tahun 2010 dan nominalnya bagi pedagang yang wajib di bayarkan sebesar Rp. 300 per hari,”katanya saat MalangTIMES memperlihatkan karcis RAS tersebut. “Ini bukan kita yang cetak,” tegasnya.

Karcis RAS yang MalangTIMES perlihatkan memang tercetak tulisan Perda No. 4 Tahun 2003 Jo. SK Bupati Malang No. 89 Tahun 2003 dan ada tulisan tangan memakai spidol hitam yang menimpa cetakan jumlah angka rupiah. Secara sepintas cetakan angka rupiah untuk RAS per harinya terlihat angka Rp. 300,- menjadi Rp. 2.000,-

Temuan karcis RAS ini, saat MalangTIMES mengadakan liputan tentang Pasar Sumedang, Rabu (30/08/2016) di TPS Sumedang. Seorang pedagang bernama Anna menyatakan keheranannya tentang jumlah RAS yang dibayarkan setiap harinya.

“Petugas pasar narik retribusi ini setiap hari dengan nominal Rp. 2000,- seperti yang tertera dalam karcis, tetapi angka itu bukan cetakan, itu tulisan tangan. Kami selama 3 tahun telah bayar setiap hari retribusi ini,”kata Anna yang memperlihatkan karcis RAS. 

Nunung Suryandari, Kabid. Pasar menyatakan bahwa penarikan RAS memang dilakukan oleh pihaknya melalui UPTD Pasar Sumedang, tetapi mengenai masalah nominal yang dibayarkan oleh pedagang sebesar Rp. 2000,- tidak mengetahuinya.

“Pihak kita di Pasar Sumedang memang yang diberi tugas untuk menarik retribusi ini karena lokasi penarikan di pasar, tetapi secara wilayah kewenangan mengenai sampah itu ada di DCKTR Bagian Sampah. Jadi kalau ada yang berubah tarifnya coba tanya Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR). Tarif RAS perhari dari kita adalah Rp. 300,- bukan Rp. 2000,-,”terangnya.

Ngariono juga menambahkan bahwa masalah sampah di pasar Sumedang, pihaknya hanya diperbantukan untuk menarik retribusinya saja.

Baca Juga : Hari ke 2 Proses Pencarian Pendaki Hilang karena Kesurupan, Puluhan Personel Dikerahkan

“Jadi saat sampah sudah ada di Tempat Pembuangan Sampah, pihak DCKTR yang angkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bukan kita,” urainya sambil mencontohkan masalah retribusi parkir di pasar yang juga bukan wilayah dinas pasar.

Di kesempatan lain, UPTD Pasar Sumedang saat ditemui di kantornya, menyatakan ketidaktahuannya tentang hal tersebut.

“Kami hanya narik retribusinya saja, mas. Enggak tahu tentang hal itu. Coba tanya Pak Kepala Pasar saja (Edi, red),”kata seorang pekerja kontrak bagian administrasi sekaligus penarikan retribusi yang tidak mau di tulis namanya. Jum’at (02/09/2016) Kepala UPTD Pasar Sumedang belum bisa dikonformasi sampai tulisan ini di buat.

Ketidaktahuan atau ketidakmauan untuk mengurai jawaban atas teka-teki karcis RAS di Pasar Sumedang ini menimbulkan tanda tanya besar.

 Ada apa (kah?) dengan karcis RAS yang selama 3 tahun ini satu pedagang telah membayar sekitar Rp.2,1 juta di bandingkan dengan informasi dari Disperindagsar yang harusnya di bayarkan sekitar Rp. 324 ribu selama 3 tahun.(*)

Topik
Pasar Sumedang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru