Bambang Sunarso, memperlihatkan sebagian alat peraga edukasi yang dibuat dan didanai pribadi di ruang kelas 3 SDN Kepanjen 5 (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Bambang Sunarso, memperlihatkan sebagian alat peraga edukasi yang dibuat dan didanai pribadi di ruang kelas 3 SDN Kepanjen 5 (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - 16 tahun sudah, Bambang Sunarso (57) Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) SDN Kepanjen 5 asal Desa Sambigede Kecamatan Sumberpucung, membuat dan mendanai sendiri alat-alat peraga edukasi bagi murid-muridnya.

Berbekal keahliannya dalam membuat kerajinan dari bahan kayu bekas serta tekad mengabdinya sebagai guru, Bambang Sunarso terus berkarya tanpa pamrih dan tak kenal putus asa.

“Semua saya buat dengan dana sendiri mas, tanpa ada bantuan dari manapun. Semua demi anak-anak di sekolah ini. Ini lah yang bisa saya perbuat dan nantinya saya wariskan ke dunia pendidikan dasar saat saya pensiun nanti,” kata Bambang Sunarso saat ditemui oleh MalangTIMES, Rabu (24/08/2016)

 

Alat peraga edukasi Bambang Sunarso yang sudah mencapai 60 bentuk inilah yang menjadi cikal bakal alat edukasi lainnya yang dikembangkan oleh Universitas Brawijaya yang tentunya lebih kaya desain, variatif dan lebih menarik.

Kegigihan Bambang Sunarko ini, ironisnya tidak mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pendidikan dalam rangka memperkaya, melengkapi alat-alat peraga pendidikan di SDN Kepanjen 5.

Hal ini disampaikan Ketua Komite SDN Kepanjen 5, Bagus Sakti Wijaya, yang menyatakan sejak 2000 sampai sekarang (2016) kegigihan, loyalitas, profesionalitas Bambang Sunarko ini tidak mendapat respon dari pemerintah setempat.

“Saya mengetahui sekali sosok pak Bambang ini yang berjuang sendiri dalam rangka menumbuhkan proses belajar mengajar yang menghasilkan anak-anak bukan saja pintar tetapi berani mengeksplorasi  dan menyelesaikan masalah,"  kata Bagus yang berdomisili tepat di depan SDN Kepanjen 5. 

Menurutnya respon UPTD pendidikan dan dinas tidak ada, padahal metode yang dikembangkan Bambang telah berhasil mengangkat potensi murid-murid.

Walaupun keberadaan metode alat peraga dan upaya gigih Bambang Sunarso diketahui oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, tetapi saat ini tidak ada respon dalam rangka untuk memperkaya materi dari alat peraga edukasi di SDN Kepanjen 5.

“Kesannya memang dari Dinas Pendidikan maupun UPTD-nya yang diperhatikan adalah SD-SD Favorit dalam lingkar Kota Kepanjen saja. Sedangkan untuk SDN Kepanjen 5 ini seperti di anaktirikan,” lanjut Bagus kepada MalangTIMES.

murid-murid-SDN-KepanjenK6Xkw.jpg
Murid-murid SDN Kepanjen 5 sedang belajar akar tanaman lewat alat peraga 
(Foto: Nana/MALANGTIMES)


Bagi Bambang Sunarso, ada atau tidaknya sentuhan dari Dinas Pendidikan tidak membuatnya surut untuk terus memperjuangkan idealisme pengabdiannya sebagai guru.

“Demi anak-anak, saya tidak pernah berhitung untung rugi, mas. Uang, waktu, tenaga, saya tidak menghitungnya. Melihat anak-anak generasi mandiri nantinya sudah merupakan bayaran termahal bagi seorang guru,” ujar Bambang Sunarso saat menutup pembicaraan. (*)