Bambang Sunarso, Guru SDN Kepanjen 5 saat memberi penjelasan materi pada muridnya lewat alat peraga kayu bekas (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Bambang Sunarso, Guru SDN Kepanjen 5 saat memberi penjelasan materi pada muridnya lewat alat peraga kayu bekas (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mungkin jarang ditemukan dalam ruang kelas Sekolah Dasar (SD) siwa-siswi begitu ceria mengeksplorasi mata pelajaran.

Namun tidak demikian dengan siswa di SD Negeri Kepanjen 5 Kabupaten Malang yang begitu menikmati pelajaran melalui medium alat peraga kayu bekas. bagaimana tidak, meski kayu bekas namun media ini dicipta dengan berbagai varian bentuk, seperti mobil, dokar, kereta api, alat-alat pertanian, pertukangan, topeng dan lainnya.

Keasyikan tersebut terlihat di wajah siswa-siswi kelas 3 asuhan Wali Kelas Bambang Sunarso (57), terekam oleh MalangTIMES, Rabu (24/08/2016). Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terasa cair dengan berbagai pertanyaan, pendapat dan penjelasan dari mulut siswa-siswi sendiri.

“Beginilah setiap harinya suasana di kelas 3 yang saya asuh. Setiap mata pelajaran selalu pakai alat peraga yang saya buat sendiri selama ini. Sampai sekarang alat peraga baik dari kayu bekas yang saya bentuk sendiri sudah mencapai sekitar 60 lebih," terang Bambang Sunarso.

Selain itu ia juga memakai media foto ukuran 10 Ryang dipotret sendiri dari berbagai tempat dalam rangka mempermudah pemahaman murid terhadap mata pelajaran.

Bagi Bambang Sunarso, Guru PNS yang telah mengabdi selama 30 tahun lebih ini, metode pembelajaran untuk anak SD terutama kelas 1 - 3 akan lebih bisa diserap dan difahami apabila dilakukan dengan metode visual. Yakni, melalui media alat peraga dibandingkan dengan metode tulis dan lisan semata.

Selain hal tersebut yang terpenting adalah adanya kemauan dan keberanian eksplorasi dari murid.

“Metode KBM melalui alat peraga sudah saya praktekkan semenjak tahun 2000 di SDN Kepanjen 5 ini. Hasilnya alhamdulillah anak-anak lebih cepat menangkap pelajaran dan yang lebih utama mereka berani untuk mengeksplorasi suatu permasalahan melalui alat peraga ini,”terang Bambang.

Ide KBM dengan media alat peraga baik dari kayu bekas, foto, boneka binatang, miniatur hutan, yang dibuat dan didanai dari kantong pribadi Bambang Sunarso sendiri selama ini merupakan bagian dari kewajiban moralnya selaku guru terhadap anak didiknya.

“Saya tidak berhitung untung rugi mas dalam pengabdian saya sebagai guru demi anak-anak. Jadi kalau ditanya sudah habis berapa uang, ya tidak terhitung dan jangan dihitung juga. Sampai-sampai keluarga saya juga bingung dengan saya,” kata Bambang sambil tertawa tanpa beban.

Lanjutnya, bahwa segala upayanya sebagai guru dalam rangka menumbuhkembangkan kemampuan ataupun potensi anak dalam mengeksplorasi sesuatu bisa dijembatani sejak dini dengan metode alat peraga.

Dengan alat peraga, imbuhnya, anak-anak akan mengetahui secara langsung dibanding hanya sekedar lisan, misalnya lesung penumbuk padi. Bentuknya terlihat langsung oleh murid, dan biasanya akan memancing rasa penasaran sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan seputar lesung penumbuk padi ini dari berbagai sudut yang mereka fahami.

"Kita sebagai guru hanya memberikan penjelasan-penjelasan saja,” tutur Bambang Sunarso. (*)