BKKBN Ajak Mahasiswa Malang Jadi Duta Anti HIV Aids

Pergaulan bebas dikalangan mahasiswa menjadi perhatian penuh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kota Malang.

Kebijakan serius tentang penanganan pergaulan bebas yang berpotensi mengundang penyakit HIV Aids ini dilakukan secara nasional mulai BKKBN pusat hingga ke daerah.

Agar program ini berjalan efektif maka lembaga yang menaungi program-program keluarga berencana ini mengajak para mahasiswa di Indonesia dan Kota Malang sebagai pioner pengentasan penyakit berbahaya ini.   

Salah satu programnya adalah mengajak para mahasiswa menjadi duta anti HIV Aids yang sekaligus berperan sebagai pihak yang melakukan pendekatan kepada anak muda dan mahasiswa untuk menyosialisasikan program-program BKKBN pusat dalam bidang pengentasan penyakit mematikan itu.

Kabid KB-KR, I Nyoman Sedana, SH mengatakan saat ini pihaknya sudah memiliki 8 mahasiswa yang ditunjuk sebagai Duta Mahasiswa (Dumas).

“Kami punya Pusat Informasi Konseling (PIK) yang fungsinya memberikan arahan dan sosialisasi program kepada anak muda tentang penyakit HIV Aids,” ujar I Nyoman saat ditemui dalam acara Pelatihan Pendidikan Sebaya dan Konselor Sebaya (PSKS) di Hotel Trio Indah 2  Jl. Brigjen Slamet Riadi, Kamis (4/8/2016).

Ditambahkan, Duta HIV Aids ini nantinya juga berperan  menyosialisasikan program ini pada para pelajar SMA/sederajat, karang taruna, santri pondok pesantren dan masyarakat umum.   

“Kami siap memfasilitasi masyarakat, mahasiswa atau pun pelajar untuk meningkatkan pengetahuan tentang resiko seksual bebas, NAPZA dan HIV -AIDS dan mengurangi pernikahan dini,” imbuhnya.

Dr. Thantowi Djauhari Ns. Mkes dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat menyampaikan materi dalam pelatihan tersebut berpesan remaja harus tahu tentang resiko penyakit mematikan ini  agar lebih bertanggungg jawab dan menghindari semaksimal mungkin Infeksi Menular Seksual (IMS), Kehamilan tidak di inginkan (KTD) dan Aborsi.

“Arus informasi global memang tidak bisa dipungkiri akan membawa ekses pada liberalisasi seks melalui medis (marak pornografi dan pornoaksi),” jelasnya.  

Karena remaja, lanjut Tahntowi, punya kecenderungan mamiliki rasa ingin tahu lebih tinggi ditambah lagi dengan pengaruh teman sebaya  yang sangat efektif mengubah mental dan karakter seseorang.

“ Mereka masih dalam fase pencarian jati diri makanya remaja cenderung ingin mencoba dan menikmati hal - hal yang aneh dan baru,” pungkasnya.

Top