Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Wisata

Bedah Kupat Luar, Tradisi Pegang Janji yang Masih Lestari

Penulis : Nurliana Ulfa - Editor : Redaksi

18 - Feb - 2016, 19:11

Placeholder
JANJI ADALAH HUTANG: Pertunjukan reog Ponorogo ini adalah wujud pembayaran janji seorang suami kepada istrinya di Desa Punten Kota Batu. (foto: Nurliana Ulfa/ BatuTIMES)

Janji adalah sebuah perkataan yang sangat mudah diucapkan, namun terkadang sulit menepatinya. Untuk mendorong konsistensi terhadap janji itulah, nenek moyang dulu punya tradisi budaya yang cukup unik. Namanya budaya bedah kupat luar.

Di Kota Batu, tradisi kuno ini ternyata masih dilestarikan. Meski hanya oleh beberapa kelompok orang yang memegang kuat tradisi ini.

Seperti yang dilakukan oleh Agustina dan suaminya, Didik Wahyudi di Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu, Rabu (18/2/2016). Tradisi bedah kupat luar ini dilakukan sebagai simbol telah terpenuhinya ujar (janji, nazar) dari seseorang.

Apa janji antara suami istri itu? “Dulu waktu saya hamil anak pertama, suami saya berujar, bahwa jika anak yang saya kandung tersebut adalah laki-laki, kami akan nanggap (menggelar pertunjukan) Reyog Ponorogo,” ungkap perempuan berusia 37 tahun ini.

Dan ternyata benar. Agustina pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang kini sudah duduk di kelas satu SMP.

Untuk menepati janji tersebut, Didik pun mendatangkan reyog asli dari Ponorogo setelah melakukan prosesi mbedah kupat.

Prosesi mbedah kupat ini dilakukan oleh Agustina bersama Didik yang mengeluarkan janji. Mereka berdua memegang ujung satu dan ujung lainnya dari satu kupat (ketupat). Anyaman kupat itu berbeda dengan ketupat biasa.

Karena tidak biasa  menganyam ketupat luar, maka sebelumnya ketupat itu sudah dianyamkan oleh para sesepuh desa. Ketupat tersebut berisi beras kuning dan beberapa receh uang logam.

Ketika Agustina dan Didik memegang ujung ketupat yang ada di masing-masing ujung, sesepuh desa melafalkan ijab kabul. Itu sebagai tanda pengesahan telah terpenuhinya janji sepasang suami istri tersebut.

Setelah ijab kabul selesai, merekapun menarik ujung ketupat hingga udhar (terurai) yang membuat beras kuning dan recehan uang logam pun tumpah.

Menurut Agustina, jika mereka tidak menepati janji yang telah terujar, maka bahaya dan kesengsaraan diyakini akan menimpa karena orang tersebut masih dinilai memiliki ‘hutang’ yang belum terbayar. (*)


Topik

Wisata Bedah-Kupat-Luar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nurliana Ulfa

Editor

Redaksi