Kasubid Kelembagaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) Direktorat Kementrian Sosial RI Prayitno saat menunjukkan beberapa koleksi batu mulia miliknya (Nia/MalangTIMES)
Kasubid Kelembagaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) Direktorat Kementrian Sosial RI Prayitno saat menunjukkan beberapa koleksi batu mulia miliknya (Nia/MalangTIMES)
Kontes Batu Mulia 2016

MALANGTIMES - Tidak salah bila batu mulia begitu memikat banyak orang. Pecinta batu mulia berasal memang dari lintas kalangan.

Kasubid Kelembagaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) Direktorat Kementrian Sosial RI Prayitno adalah satu diantara penggemar batu mulia.

Pria asal Wonogiri itu selalu membawa beberapa cincin batu mulia di setiap kesempatan. Dalam kunjungannya ke Malang, Prayitno membawa sejumlah batu diantaranya jenis bacan dan pandan.

Kecintaan Prayitno pada batu sudah berlangsung sejak lama. Tahun 2012 silam, ia berburu bacan hingga ke Ternate, Maluku Utara.

"Waktu itu di bandara banyak sekali orang jual batu di etalase. Saya masih ingat membeli bacan seharga 500 ribu," ujarnya saat ditemui MalangTIMES di lokasi Kontes Batu Mulia 2016 pada Kamis (23/6/2016).

Meski membeli bacan sampai ke Ternate, pria ramah itu tak punya jadwal khusus berburu batu mulia. "Ya kebetulan saat dinas, saya beli batu di tempat itu. Harganya pun nggak mahal lah di bawah lima juta," akunya.

Diantara sekian koleksi batu Prayitno, ia mengaku punya batuan jenis yang sama dengan koleksi Tommy Soeharto. "Ini juga nggak beli tapi dikasih sama kakak mas Tommy yang koleksinya dilelang ke Haji Lulung. Tapi nggak tau ya kalau saya yang pakai jadi mahal nggak," ucapnya sambil tersenyum.

Prayitno mengaku tidak ingin menjual koleksi batu mulia yang ia miliki. Baginya ada kenikmatan tersendiri mengoleksi batuan mulia. "Saya memang cari yang unik. Pernah ditawar belasan juta nggak saya lepas. Karena memang niatnya untuk koleksi saja," pungkasnya. (*)