Agus Rachman, Ketua Peleton Polsuska Stasiun Kota Malang. (Foto: Eki Robbi Kusuma/MalangTIMES)
Agus Rachman, Ketua Peleton Polsuska Stasiun Kota Malang. (Foto: Eki Robbi Kusuma/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menjadi polisi khusus kereta api (Polsuska), bagi Agus Rachman, ketua peleton Polsuska Stasiun Kota Malang, mempunyai tantangan tersendiri.

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Selain mengamankan dan menghadapi hiruk pikuknya penumpang kereta api, Agus harus kerap menghadapi protes dari keluarga.

Pria kelahiran Malang yang telah menjadi Polsuska sejak 1981 tersebut mengatakan, Lebaran merupakan momen yang cukup berat baginya.

Selain harus mengamankan penumpang yang membeludak, mereka kerap mendapatkan protes dari keluarganya saat momen keluarga.

Protes dari keluarganya kerap didapatkan karena dia jarang libur ketika Lebaran. Selama bertugas di PT Kereta Api Indonesia (KAI), bagi dia dan teman-temannya, bekerja pada saat ebaran adalah hal yang biasa. "Ya, kalau pas jatah liburnya hari raya, itu rezekinya," ujar Agus kepada MalangTimes.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Pada awal-awal ia bertugas menjadi polsuska dan tak mendapatkan jatah libur ketika Lebaran, keluarganya protes keras.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, keluarganya akahirnya bisa menyadari dan sudah bisa menyesuaikan dengan profesi yang dijalaninya sejak 25 tahun lalu.

Namun, walaupun sering tak Lebaran bersama keluarga, pernah suatu ketika saat malam Takbiran, dia menangis di atas kereta. Dan pada saat Lebaran, tak terasa air matanya kembali menetes ketika melihat banyak orang bersalaman-salaman di sepanjang rel yang dilalui kereta api. "Bagi orang awam mungkin berat, tetapi kami sudah terbiasa menjalaninya" terangnya. (*)