Electress, pohon elektrik penyerap polusi udara karya mahasiswa Universitas Brawijaya (foto: istimewa)
Electress, pohon elektrik penyerap polusi udara karya mahasiswa Universitas Brawijaya (foto: istimewa)

MALANGTIMES - Prihatin dengan polusi udara yang disebabkan kebakaran hutan, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) membuat Electrees atau Electronic Trees, sebuah prototype perangkat pohon elektronik tenaga surya sebagai solusi penyerapan polusi udara menggunakan silica aerogel.

Baca Juga : Tak Mau Seperti Menara Gading, UIN Malang Aktif Membantu Masyarakat Terdampak Covid-19

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) yang didanai Dikti ini terdiri dari Muhammad Fatahillah (Teknik Elektro), Hasan (Teknik Elektro), Rosihan Arby Harahap (Teknik Elektro), Lutfiyatul Maftukhah (Teknik Industri), dan Hafiz Tandiyanto Putra (Teknik Kimia).

“Prinsip kerja alat ini terdiri dari dua sistem. Sistem pertama adalah sistem fotosintesis untuk menghasilkan energi listrik secara mandiri, sedangkan yang kedua adalah sistem respirasi yang berfungsi menghisap polusi udara berupa CO2 ataupun CO,” ujar ketua tim, Fatahillah pada MalangTIMES (8/6/2016). Sistem fotosintesis ini terdiri dari panel surya yang berfungsi mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik.

Energi listrik inilah yang digunakan untuk memberikan tenaga kepada perangkat. Daya keluaran yang dihasilkan oleh alat ini sebesar kurang lebih 30 watt. Electrees juga dilengkapi dengan lampu yang berfungsi sebagai penerangan di malam hari.

Sistem kedua yakni sistem respirasi yang terdiri dari silica aerogel berbentuk granul sebagai media absorbsinya. Fungsinya untuk menyerap dan mengendapkan CO2 ataupun polusi udara lainnya dan membiarkan udara bebas keluar melewatinya. Silica aerogel mempunyai kapasitas penyerapan 1,2 gCO2/gadsorbent.

Dibanding zat lain yang berfungsi serupa seperti karbon aktif dan zeolit, silica aerogel lebih besar daya serapnya. Sedangkan, prototype Electrees memiliki 500 gram silica aerogel. Kelebihan lainnya adalah, ketika silica aerogel telah menyerap CO2 sampai titik jenuh, maka pengguna  hanya perlu memanaskan kembali dan silica aerogel siap dipergunakan kembali.

Baca Juga : Dampak Covid-19, Beasiswa LPDP ke Luar Negeri Ditunda Tahun Depan

Saat ini, tim sedang bekerja keras untuk mengembangkan tracking system perangkat agar energi yang ditangkap dari sinar matahari lebih efektif. Dan tim optimis dalam waktu dekat tracking system dapat difungsikan.

“Jadi ketika pagi hari akan tracking menghadap timur, lalu mengikuti matahari sampai sore hari. Ketika sore hari, akan lurus menghadap ke atas. Ketika posisi tegak lurus, lampu akan menyala selama satu malam,” tambah anggota tim Hasan.

Untuk pengembangan prototype, sejauh ini tim telah menghabiskan dana Rp 4 juta. Untuk aplikasi di lapangan kemungkinan dibutuhkan ukuran yang lebih besar lagi.

Tim bimbingan Ir. Nurusa’adah, MT ini berharap bisa bekerjasama dengan pemerintah dan mengaplikasikan Electrees di jalan raya atau pusat industri untuk mengurangi kadar polusi udara disamping sebagai penerangan jalan raya. “Terlebih dengan melimpahnya kendaraan bermotor, saat ini bisa dipastikan polusi udara di kota-kota besar khsususnya, semakin meningkat,” pungkas anggota tim, Lutfiyatul. (*)