Sekelompok mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang menciptakan alat yang dinamai MAHIR (Foto: Istimewa)
Sekelompok mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang menciptakan alat yang dinamai MAHIR (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES -  Sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang mengembangkan inovasi alat pembuatan pakan ikan alternatif yang diberi nama MAHIR (Maggot Hermetia illusence Nursery Room).

Inovasi tersebut diciptakan untuk menghemat pengeluaran biaya produksi pakan ikan.
 Lima mahasiswa kreatif ini merupakan mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian UB.

Baca Juga : Ungkapan Mahasiswa Asing UIN Malang yang Terisolasi di Kampus

Mereka adalah Radatul Munawaroh, Anggraeni DK, Annisa'u Choirun, Singgih Setyo U, dan Yoga Aditya. 

Mereka menciptakan alat yang dinamainya MAHIR. Alat ini mampu menciptakan lingkungan sesuai dengan kondisi optimal pertumbuhan maggot dengan kontrol temperatur. 

Radatul menuturkan, hal yang melatarbelakangi pembuatan MAHIR  karena tingginya biaya pembuatan pakan ikan yang disebabkan harga tepung ikan sebagai bahan baku makin tinggi.

"Sementara, permintaan tepung ikan cukup tinggi dan banyak diimpor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujar Atul, sapaan akrabnya kepada MALANGTIMES.

Untuk meminimalisasi biaya pakan, mahasiswa FTP UB ini mengembangkan pakan alternatif dengan menggunakan maggot Hermetia illucens. Organisme ini ekonomis dan nilai nutrisi yang sesuai kebutuhan nutrisi ikan.

Maggot ini dapat menjadi alternatif pakan ikan lele yang dapat mengurangi biaya pakan yang makin tinggi.

Maggot dikembangkan dengan menggunakan alat MAHIR yang direkayasa dengan suhu terkontrol agar tetap optimal pada pertumbuhan maggot, yaitu 29,3˚C, menggunakan thermostaat.

Selain itu, untuk menjaga kelembaban dari lingkungan pada MAHIR, udara panas saat fermentasi juga akan dibuang dengan menggunakan kipas.

Baca Juga : Masih Siaga Covid-19, UB Mudahkan Proses Daftar Ulang Mahasiswa Baru

Kondisi lingkungan yang dikontrol ini diharapkan mampu meningkatkan produktifitas maggot, sehingga ketersediaan maggot yang tinggi dapat menjadi bahan pengganti tepung ikan pada pembuatan pelet ikan.

Atul menuturkan inovasi ini telah diujicoba di pembudidaya pembesaran lele di Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Hasil analisis finansialnya, kata Atul, setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan untuk produksi, menghasilkan penerimaan  Rp 3,15.

Sedangkan jika menggunakan pelet ikan pada umumnya, setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan untuk produksi menghasilkan penerimaan Rp 1,18.

Namun, dia mengungkapkan, di sisi lain pembudiyaan maggot masih menggunakan alat dan media yang sangat sederhana sehingga produk maggot menjadi relatif kecil dan membutuhkan waktu lama.

"Riset ini masih perlu mengembangkan kontrol lingkungan. Tujuannya mempercepat pertumbuhan maggot," katanya. (*)