Action, alat buatan mahasiswa FTP UB yang bisa merubah jerami menjadi bioetanol sebagai bahan baku pembuatan bensin (Foto Istimewa)
Action, alat buatan mahasiswa FTP UB yang bisa merubah jerami menjadi bioetanol sebagai bahan baku pembuatan bensin (Foto Istimewa)

MALANGTIMES - Prihatin akan krisis energi, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) Malang, merancang satu reaktor bioetanol yang bisa mengubah jerami menjadi bahan bakar bioetanol.

Reaktor pretreatment bioetanol ini menggunakan teknologi ohmic heating ini diberi nama nama ACTION (Automatic Ohmic Heating Technology).

Baca Juga : Ungkapan Mahasiswa Asing UIN Malang yang Terisolasi di Kampus

Adalah lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB yakni Chandra Ardin, Setiawan Djodi, Amirul Luthfi Habibie, Akmal Alam, dan Sri Nofiyani yang mengembangkan mesin pembuatan bioetanol dari jerami padi. 

Mereka berangkat dari pemikiran bagaimana memanfaatkan jerami padi yang selama ini hanya di bakar ataupun digunakan untuk pakan hewan ternak. 

Ketua tim perancangan alat, Chandra Ardin mengatakan untuk bisa dikonversi menjadi bioetanol, jerami padi harus terlebih dahulu melalui tahap pretreatment. Tujuannya mendegradasi ikatan lignin yang menghambat terhidrolisisnya kadar selulosa pada jerami padi tersebut.

"Kadar selulosa itulah yang nantinya akan bisa dikonversi menjadi bahan bakar alternatif bioetanol," ucapnya Chandra, Senin (6/6/2016).

Lebih lanjut, Chandra menjelaskan, pada metode pemanasan yang terdahulu seperti Autoclave dan Microwave pada tahap pretreatment (degradasi lignin), masih kurang eektif dan banyak memiliki kekurangan.

"Oleh karena itu, kami menciptakan terobosan baru berupa inovasi perancangan reaktor teknologi ohmic heating untuk pretreatment bioetanol secara otomatis," paparnya pada MALANGTIMES.

Berdasarkan hasil uji coba, reaktor dengan teknologi ohmic heating ini mempunyai keunggulan jika dibandingkan dengan metode terdahulu. Keunggulan itu terletak pada waktu, yakni hanya membutuhkan waktu pemanasan singkat untuk mencapai suhu yang diinginkan saat fase pretreatmen jerami. 

"Selain itu pada reaktor juga dilengkapi dengan mesin pengecil ukuran bahan sampai menjadi bubuk (serbuk) dan beroprasi dengan sistem otomatis," ujarnya. 

Baca Juga : Masih Siaga Covid-19, UB Mudahkan Proses Daftar Ulang Mahasiswa Baru

 Sementara itu, Setiawan Djodi yang juga ikut merancang alat ini menambahkan, pengujian pada bahan hasil pretreatment menggunakan reaktor ACTION, terbukti bahwa kadar selulosa yang bisa diekstraksi naik hingga 8,88 persen dari kadar awal.  Sedangkan kandungan lignin beserta hemiselulosa turun 1,39 persen dan 4,32 persen. 

"Dari hasil tersebut, penggunaan metode ohmic heating pada pretreatment bioetanol sangat eektif dan berpeluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut pada sector industri,"ucapnya. 

Djodi sapaan akrabnya menjelaskan, reaktor ini diciptakan guna mengatasi permasalahan pada pretreatment bioetanol melaui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) yang diadakan oleh DIKTI pada tahun 2016.

 “Reaktor ACTION ini tidak hanya bisa dibuat untuk proses pretreatment bahan jerami padi saja, akan tetapi semua bahan bisa menggunakan reaktor ini," bebernya. 

Ditambahkannya, selain itu daya listrik yang dibutuhkan juga hanya 220V, sehingga lebih hemat listrik dan ramah lingkungan. (*)