Siswa SDN Gayam I Kecamatan Gayam, Kepulauan Sapudi, Sumenep mengikuti KBM di emperan sekolah. (Foto : Busri Toha / SumenepTIMES)
Siswa SDN Gayam I Kecamatan Gayam, Kepulauan Sapudi, Sumenep mengikuti KBM di emperan sekolah. (Foto : Busri Toha / SumenepTIMES)

MALANGTIMES - Kondisi gedung SDN Gayam I, Kecamatan Gayam, Kepulauan Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang ambruk akibat termakan usia, tidak menyurutkan semangat 40 siswa di sekolah itu untuk terus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

Baca Juga : Tak Mau Seperti Menara Gading, UIN Malang Aktif Membantu Masyarakat Terdampak Covid-19

Setelah kondisi enam ruang kelas sudah tidak bisa digunakan lagi, pihak sekolah menyiasati dua ruang kelas di gedung sekolah yang baru. Pada dua kerlas tersebut, diskat-skat menggunakan triplek sehingga siswa lain kelas dapat di bedakan.

BACA JUGA: Enam Ruang Kelas di SDN Gayam I Pulau Sapudi Ambruk

Dalam satu ruang kelas, di skat menjadi dua dan ditempati siswa kelas 5 dan kelas 6. Sedangkan, satu ruang kelas lagi, ditempati siswa kelas kelas 3 dan Kelas 4. Sisanya, siswa ditempatkan di emperan ruang kelas.

”Sebenarnya sangat tidak kondusif siswa belajar di pojok emperan sekolah. Tapi, bagaimana lagi, tidak ada ruang kelas lain, sehingga terpaksa ditempati,” ujar Lestari, salah satu ibu guru di sekolah tersebut.

Sementara, Kepala SDN Gayam I, Herman Bastari mengatakan, kondisi sekolah yang ambruk bisa mengurungkan niat orang tua anak didik untuk menyekolahkan anaknya di SDN tersebut. Alasannya, setiap orang tuan khawatir dengan kondisi gedung sekolah yang membahayakan.

Baca Juga : Dampak Covid-19, Beasiswa LPDP ke Luar Negeri Ditunda Tahun Depan

”Animo masyarakat untuk memasukkan anaknya sekolah di sini, pasti fikir-fikir. Pasti berfikir berkali-kali. Jangan-jangan anak saya nanti terkena runtuhnya ruang kelas. Nah, orang tua siswa pasti berfikir begitu,” terangnya.

Dikatakan, sebenarnya sudah ada dari pihak Dinas Pendidikan (Dispendik) dan Inspektorat Sumenep, sudah melakukan kunjungan ke sekolah tersebut. Tapi, lanjutnya, hingga kini masih belum mendapatkan perbaikan.

”Kami sudah pernah mengajukan, dan mendapatkan dua ruang kelas tersebut. Tapi, untuk rehabilitasi terhadap ruang kelas yang ambruk masih belum mendapatkan perbaikan,” pungkasnya. (*)