Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa Borobudur Writers & Cultural Festival

"Muliakan Gunung Dengan Memaknai dan Mencintai"

Penulis : Faishal Hilmy Maulida - Editor : Redaksi

14 - Nov - 2015, 01:45

Suasana diskusi Gunung, Bencana, dan Mitos dalam acara Borobudur Writers & Cultural Festival 2015. (Foto: Hilmy/timesindonesia)
Suasana diskusi Gunung, Bencana, dan Mitos dalam acara Borobudur Writers & Cultural Festival 2015. (Foto: Hilmy/timesindonesia)

JATIMTIMES - Diskusi perdana yang dilaksanakan dalam rangkaian agenda Borobudur Writers & Cultural Festival ke 4 tahun 2015 menekankan bagaimana memuliakan gunung dengan memaknai dan mencintainya. Gunung harus dicintai karena telah melahirkan berbagai peradaban di seluruh belahan dunia.

Acara hari kedua Borobudur Writers & Cultural Festival, yang bertempat di Hotel Manohara Borobudur, Magelang Jawa Tengah, Jumat (13/11/2015) diisi dengan diskusi tentang tema besar yang diangkat dalam acara tersebut yaitu gunung, bencana, dan mitos di Nusantara. 

Diisi oleh tiga orang pemateri yang memaparkan hasil penelitiannya secara panel mengenai tema terkait, yang pertama ledakan gunung Tambora dan terkuburnya tiga kerajaan oleh Drs. I Made Geria, M.Si, kemudian tema kedua tentang Kawah Raksasa (Kaldera) Toba, Mula-jadi, Dampak Erupsi dan Keistimewaan oleh Dr. Indyo Pratomo, dan tema terakhir tentang Peradaban yang terkubur di Situs Liyangan, Jawa Tengah, oleh Sugeng Riyanto.

Eka Budianta, seorang penyair yang hadir berpendapat terkait tiga hal tantangan umum dalam pelestarian gunung di Indonesia. "Perubahan iklim, radikalisme, dan pewarisan nilai-nilai luhur," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa gunung itu menjadi milik semua manusia. "Mereka mempunyai pemaknaan sendiri-sendiri, dan memuliakan gunung dengan memaknai dan mencintainya," jelasnya.

Sementara itu, Dr. Indyo Pratomo mengatakan gunung meletus bisa memberikan persepsi yang berbeda bagi manusia. "Satu sisi, kita lihat letusan itu semacam ancaman, tapi sisi lain itu bisa dilihat sebagai sumber kesuburan," ujarnya.

Lanjutnya semua itu tergantung persepsi yang muncul, seperti meletusnya Gunung Sinabung banyak masyarakat yang merasa rugi, padahal disisi lain juga memberikan kemanfaatan. "Maka, perlu pendidikan dan pendekatan asal mula-jadi untuk menangkap persepsi kebermanfaatan tersebut," imbuhnya. 

Sementara itu, Drs. I Made Geria, M.Si., yang secara khusus meminta kepada semua hadirin yang hadir untuk memuliakan gunung dengan cara masing-masing. Dan pemateri terakhir dari Sugeng Riyanto, berpesan supaya semua yang hadir harus bisa mengambil makna dari suatu peradaban lama yang sudah terjadi. "Karena kita patut mempelajari hal itu," katanya.

Dalam catatan penutup, secara umum disebutkan, gunung api di Indonesia berjumlah 127 gunung aktif  dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah gunung aktif terbanyak di dunia. Keberadaan gunung-gunung di nusantara mempengaruhi banyak hal komoditi seperti cengkeh dan pala yang hanya ada di Indonesia. (*)


Topik

Peristiwa Borobudur-Writers-&-Cultural-Festival


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Faishal Hilmy Maulida

Editor

Redaksi