MALANGTIMES - Tokoh budayawan Malang, Dwi Cahyono menganggap surat edaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang larangan pada stasiun televisi menampilkan pria yang berdandan mirip wanita dapat membatasi kreasi dan mengancam keberlangsungan sejarah dan budaya lokal di Malang.

Dwi Cahyono yang juga sebagai ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Timur (BPPD) mengaku tidak setuju dengan surat edaran tersebut.

Menurutnya Jawa Timur memiliki kesenian tradisional Ludruk dimana seluruh pemainnya adalah pria yang berdandan menjadi wanita, lengkap mulai dari baju yang digunakan, penampilan cara bertingkah dan cara berbicara pun seperti wanita.

Kenapa semua pemainnya pria? Dwi menjelaskan kesenian ludruk merupakan satu cara untuk mengkritik pemerintah saat era Belanda dalam bentuk opera yang menggunakan lakon pejuang. Dan saat itu wanita tak bebas keluar malam.

6IvTPR.jpg

“Ludruk itu ada di Malang dan disebagian wilayah lain di Jawa Timur, semua pemain dalam ludruk adalah pria dan mereka harus bertaruh nyawa karena mengkritik pemerintah,” kata Dwi, Sabtu (26/2/2016).

Meskipun saat ini tak banyak ludruk yang tampil di televisi, namun ia beranggapan munculnya surat edaran KPI tersebut dapat berdampak buruk pada perkembangan dan kelestarian budaya ludruk itu sendiri.

"Lebih menarik memang jika melihat langsung daripada di tivi, namun tivi tetap bisa menjadi media edukasi tentang budaya tradisional yang bisa dinikmati masyarakat secara gratis," ujarnya.

7pA4PR.jpg

Ia menambahkan komunitas seniman dan budayawan Malang bersama sejumlah budayawan dan seniman di Jawa Timur dalam waktu dekat akan membahas tentang surat edaran yang juga dianggap diskriminatif.

Saat ini ludruk masih menjadi salah satu kesenian tradisional walaupun alur cerita mengikuti perkembangan zaman, selain itu juga menjadi salah satu kesenian yang sering digunakan untuk mengkritik. (*)