Petugas sedang menunjukkan barang bukti satwa dilindungi dirumah pasutri dokter hewan, drh Risa dan drh Devita di Perum Mahogani, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.(Foto: Syamsul Arifin/banyuwangitimes)
Petugas sedang menunjukkan barang bukti satwa dilindungi dirumah pasutri dokter hewan, drh Risa dan drh Devita di Perum Mahogani, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.(Foto: Syamsul Arifin/banyuwangitimes)

MALANGTIMES - Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai dokter hewan di Banyuwangi, drh Risa dan drh Devita, harus berurusan dengan petugas Polres setempat. Mereka kedapatan melakukan perdagangan satwa dilindungi.

Disampaikan Kasatreskrim Polres Banyuwangi, AKP Stevie Arnold Rampengan, aksi keduanya terungkap setelah Polisi menemukan situs online yang berisi transaksi satwa.

Baca Juga : HMI Kisip Brawijaya Salurkan Bantuan APD dan Handsanitizer ke RS Saiful Anwar

Setelah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (BKSDA) Jawa Timur, diketahui bahwa yang dijual belikan, diantaranya satwa dilindungi.

“Kami terima informasi barang bukti ada Situbondo. Setelah dilakukan pendalaman ternyata hewan-hewan itu ada di Genteng,” ungkapnya.

Setelah melalui penyelidikan, Polisi bersama petugas BKSDA langsung menggerebek kediaman pasutri dokter hewan di Perum Mahogani, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Di rumah tersebut didapati sedikitnya 11 ekor anak burung merak, 7 ekor ular phyton morulus atau sanca bodo dan 9 ekor biawak. Seluruhnya langsung diamankan ke Mapolres Banyuwangi. “Hewan-hewan itu sebagian dibeli pelaku dari sejumlah warga dan pemburu dari Banyuwangi, ada juga satwa yang dibeli dari Bali,” ungkap AKP Stevie.

Dari pemeriksaan sementara, diduga praktik jual beli satwa dilindungi ini tidak hanya dilingkup pasar Indonesia saja.

Baca Juga : Peduli Covid-19, Hawai Grup Sumbang Ratusan APD ke Pemkot Malang

Melainkan hingga tembus keluar negeri mengingat bisnis transaksi satwa ilegal memang memberi keuntungan yang sangat menggiurkan.

“Ulah pelaku melanggar pasal 40 junto pasal 21 ayat 2 Undang - undang No. 05 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam,” pungkas Kasat Reskrim.

Kasus ini sedang dalam pemeriksaan tim penyidik PPNS BKSDA Jatim bersama tim Pidek Satreskrim Polres Banyuwangi. (*)