Ritual Wedhus Kendit Sarangan: Tradisi Unik di Magetan untuk Kelancaran Usaha dan Keselamatan

15 - Jan - 2026, 12:51

Prosesi Ritual Wedhus Kendit

JATIMTIMES – Menjelang acara besar Larung Sesaji Telaga Sarangan pada Jumat (16/01/2026), masyarakat Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan, Magetan, kembali menggelar ritual sakral penyembelihan Wedhus Kendit. 

Tradisi tahunan ini dipercaya sebagai syarat mutlak warisan nenek moyang guna memohon kelancaran usaha serta wujud syukur atas rezeki yang melimpah di kawasan wisata andalan Jawa Timur tersebut.

Baca Juga : UIN Malang Bidik Akses Magang Nasional, Kemnaker Siapkan 100 Ribu Kuota Berupah Setara UMP

Bagi masyarakat setempat, pemilihan hewan kurban tidak bisa sembarangan. Sesuai pakem leluhur, yang dipilih haruslah Wedhus Kendit, yakni kambing yang memiliki ciri fisik unik berupa bulu putih melingkar di bagian perut (seperti sabuk) di atas warna bulu hitam.

Penyembelihan ini menjadi simbol "persembahan" yang tulus. Warga meyakini bahwa menjaga keaslian tradisi ini adalah kunci utama agar roda ekonomi di Telaga Sarangan, baik dari sektor perhotelan, kuliner, hingga jasa perahu, tetap berjalan lancar tanpa hambatan.

Mbah Wo, sebagai sosok yang memimpin jalannya prosesi, menjelaskan bahwa ritual ini adalah bentuk komunikasi spiritual antara warga dengan alam dan penciptanya.

"Tradisi sembelih Wedhus Kendit ini bukan sekadar rutinitas, melainkan amanah babat alas dari para leluhur Sarangan yang tidak boleh ditinggalkan. Mengapa harus Wedhus Kendit? Karena itu sudah menjadi pilihan nenek moyang sebagai simbol ketulusan dalam 'persembahan'," tutur Mbah Wo di sela-sela prosesi.

Lebih lanjut, Mbah Wo menjelaskan makna di balik penguburan bagian tubuh kambing tersebut di lokasi-lokasi strategis yaitu Kepala Wedhus Kendit: Dikuburkan di Punden Sarangan, yang merupakan pusat spiritual desa. Kemudian empat kakinya dikuburkan secara terpisah di empat sisi atau penjuru Telaga Sarangan.

Penanaman bagian tubuh ini menandakan dimulainya rangkaian acara besar Larung Sesaji Sarangan di hari berikutnya. Hal ini sebagai bentuk izin kepada alam dan penghuni spiritual kawasan tersebut.

Baca Juga : Longsor di Telaga Sarangan Magetan, Jalur Lingkar Barat Lumpuh Jelang Larung Sesaji

Rangkaian budaya tidak berhenti pada penyembelihan saja. Pada sore harinya, masyarakat melanjutkan tradisi dengan melakukan ziarah ke makam leluhur yang terletak di pulau tengah Telaga Sarangan.

Warga menyeberang menuju pulau tersebut untuk mendoakan para pendahulu yang dianggap sebagai pembuka sejarah (babat alas) Desa Sarangan. 

Keunikan ritual Wedhus Kendit dan ziarah makam di tengah telaga ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata budaya di Jawa Timur. 

Keaslian adat yang tetap terjaga di tengah pesatnya perkembangan zaman menjadikan Sarangan bukan sekadar destinasi alam, tapi juga pusat kearifan lokal yang kuat.