Natal dan Tahun Baru 2026, SPS Corporate Pilih Susuri Pedalaman Sumatera Utara untuk Salurkan Bantuan

Editor

Dede Nana

01 - Jan - 2026, 11:01

SPS Corporate saat menyalurkan bantuan ke Sumatera Utara

JATIMTIMES — Akhir tahun 2025 kemarin di Kota Sibolga kali ini berjalan dalam suasana yang tak biasa. Natal serta Tahun Baru 2026 hadir tanpa kemeriahan, sementara Tahun Baru dinanti dengan perasaan yang bercampur antara cemas dan harap. 

Bencana yang melanda kota pesisir ini dan wilayah sekitarnya masih menyisakan luka di rumah-rumah warga, di ladang yang rusak, juga di batin mereka yang harus memulai kembali dari titik nol. Di sejumlah sudut kota, lumpur belum sepenuhnya surut. Dinding rumah yang retak dibiarkan apa adanya, sementara perabot yang terselamatkan ditata seadanya. 

Baca Juga : Libur Cuma Sehari, 2 Januari 2026 Langsung Kerja: Burnout Mengintai di Awal Tahun

Namun di tengah situasi itulah, SPS Corporate perusahaan swasta asal Surabaya hadir, menyusuri titik-titik terdampak, membawa bantuan kemanusiaan sekaligus pesan bahwa kepedulian tidak ikut hanyut bersama bencana.

Di Kelurahan Angin Nauli, Sibolga Utara, Rumah Singgah RBM Hephata menjadi saksi bagaimana Natal dan Tahun Baru 2026 dirayakan secara sederhana. Tidak ada pohon terang benderang atau perayaan besar, hanya doa-doa yang lirih dan kebersamaan yang apa adanya. Di tempat ini, SPS Corporate menyalurkan bantuan berupa sembako, bahan sandang, serta kebutuhan pribadi bagi para penyintas.

“Waktu bencana itu datang, kami hanya sempat menyelamatkan diri. Barang-barang banyak yang rusak,” tutur Daniel Simanungkalit (43),  salah satu warga yang kini menumpang di rumah singgah tersebut dalam sebuah keterangan tertulisnya.

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku bantuan yang diterimanya menjadi penguat di akhir tahun yang berat. 

“Natal kali ini sunyi, tapi bantuan ini membuat kami merasa masih diperhatikan. Ada harapan untuk menyambut tahun baru," katanya.

Perjalanan kepedulian SPS Corporate berlanjut ke Desa Huta Na Bolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Desa ini sempat terisolasi akibat bencana, dengan akses jalan yang sulit dan aktivitas ekonomi warga yang terhenti. Di tengah keterbatasan itu, bantuan yang disalurkan menjadi penopang awal bagi keluarga-keluarga yang kehilangan sumber penghidupan.

Tak hanya Daniel, Erika Simanungkalit (36) warga Desa Huta Na Bolon mengatakan, akhir tahun biasanya menjadi waktu panen dan berkumpul keluarga. Namun sekarang, hal tersebut hanya tinggal kenangan, hanya menyisakan lumpur di semua sawah milik warga.

“Sekarang kebun rusak, penghasilan terhenti. Tapi bantuan ini seperti pengingat, bahwa tahun boleh berat, tapi kami tidak sendirian menjalaninya,” ujarnya pelan.

Masih di Kelurahan Angin Nauli, Lingkungan Aek Parira menggambarkan dampak bencana di kawasan padat penduduk. Rumah-rumah berdempetan membuat warga harus berbagi ruang dan saling menguatkan. Di lingkungan ini, SPS Corporate menyalurkan bantuan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi menjelang pergantian tahun.

Nuansa akhir tahun juga terasa di ruang-ruang spiritual yang menjadi sandaran batin masyarakat. 

Di Biara Santo Dominikus Pandan, Sibolga, bantuan disalurkan di tengah suasana doa Natal dan refleksi akhir tahun. Kesederhanaan perayaan justru menghadirkan makna yang lebih dalam, tentang ketabahan dan pengharapan. 

Baca Juga : Penghujung Tahun 2025, Mbak Wali Persembahkan Wajah Baru Jalan Stasiun Kota Kediri

Hal serupa terlihat di Gereja Kalam Kudus Sibolga, yang selama masa bencana menjadi tempat berlindung, berbagi cerita, dan menguatkan iman warga.

Bantuan yang disalurkan SPS Corporate mencakup sembako, bahan sandang, serta kebutuhan pribadi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terdampak, termasuk anak-anak dan lansia. Kehadiran ini menjadi simbol bahwa di tengah pergantian tahun yang penuh ketidakpastian, nilai kemanusiaan tetap menyala.

Direktur SPS Corporate Balok Purwoko menyampaikan bahwa kehadiran perusahaan di Sibolga berangkat dari kesadaran bahwa bencana selalu menempatkan masyarakat pada situasi yang paling rapuh. Dalam kondisi seperti itu, kata dia, korporasi memiliki tanggung jawab moral untuk tidak sekadar melihat, tetapi ikut hadir dan berjalan bersama warga yang terdampak.

Menurut Balok, momentum Natal dan pergantian tahun menjadi ruang refleksi yang penting, baik bagi individu maupun institusi. Di tengah bencana, nilai-nilai kebersamaan, empati, dan kepedulian justru menemukan maknanya yang paling nyata.

 “Natal mengingatkan kita untuk hadir bagi sesama, sementara tahun baru memberi harapan bahwa kehidupan dapat perlahan ditata kembali,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa bantuan yang disalurkan SPS Corporate diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga dan memberi jeda di tengah tekanan yang mereka alami pascabencana. Balok juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam upaya pemulihan.

"Proses bangkit dari bencana tidak selesai dalam hitungan hari. Diperlukan perhatian yang konsisten, kolaborasi berbagai pihak, serta kesediaan untuk terus mendengar kebutuhan masyarakat di lapangan," ujarnya.

Balok berharap kehadiran SPS Corporate di Sibolga dapat menjadi bagian kecil dari proses pemulihan yang lebih panjang. Ia menyampaikan harapan agar masyarakat Sibolga dapat menyongsong tahun yang baru dengan kekuatan dan keyakinan, bahwa di tengah keterbatasan.

"Selalu ada ruang untuk harapan dan kebersamaan," pesannya.