SMPN 3 Kepanjen Kuatkan Komitmen Jadi Sekolah Adiwiyata, Kelola Sampah secara Mandiri
Reporter
Tubagus Achmad
Editor
Yunan Helmy
28 - Nov - 2025, 07:23
JATIMTIMES - Pada momentum Hari Jadi Ke-1.265 Kabupaten Malang, salah satu sekolah menarik perhatian terkait pengelolaan sampah secara mandiri oleh guru, murid dan tukang kebun di sekolah. Sekolah tersebut adalah SMPN 3 Kepanjen yang saat ini tengah bersiap berjuang untuk menjadi sekolah Adiwiyata tingkat nasional.
Kepala Sekolah SMPN 3 Kepanjen Margono Sujono Hadi melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Atim Mulyati menyampaikan bahwa SMPN 3 Kepanjen memiliki luas wilayah yang mencapai dua hektare. Dari wilayah yang luas tersebut, banyak tumbuh pepohonan. Mulai dari pohon jati, cocoa, kelengkeng, kiara payung, pule, jeruk Bali, juwet, mangga, nagka, jambu, durian, melinjo, pinus, matoa kanditu, kelapa dan lain sebagainya.
Baca Juga : Unisba Blitar Bekali Siswa SMK Islam Kanigoro dengan Pelatihan Journaling untuk Regulasi Emosi
"Sekolah kami memang dikenal sebagai sekolah hijau. Lahan kita juga hampir mencapai dua hektare. Jadi, dengan banyaknya pohon dan daun kering yang ada di SMPN 3 Kepanjen ini, membuat kita berpikir untuk mengolah sampah secara mandiri," ungkap Atim.
Pengolahan sampah organik berupaal dedaunan kering secara mandiri ini telah dilakukan sejak tahun 2018. Daun-daun kering yang jumlahnya cukup banyak diambil dan dibawa menuju tempat pembuangan sementara (TPS) milik sekolah yang kemudian diolah menjadi pupuk kompos.
"Penggilingan dilakukan untuk daun kering maupun yang masih basah. Setelah digiling, sampah diberi cairan pengurai atau MP4 untuk mempercepat pembusukan dan penghancuran. Sementara itu, untuk sisa sampah yang masih kasar akan diproses ulang," jelas Atim.
Setelah sampah yang berasal dari dedaunan hancur, kemudian diayak agar mendapatkan serpihan daun yang lebuh halus. Ketika sudah halus itulah, daun-daun kering telah berubah menjadi pupuk kompos.
"Untuk pupuk komposnya kita packing dalam kemasan 5 kilogram dengan harga Rp 5.000 sampai Rp 7.000. Hasil dari penjualan kita masukkan kas tim Adiwiyata untuk membiayai operasional kebutuhan Adiwiyata," beber Atim.

Untuk pemasarannya sendiri, pihaknya mengandalkan kegiatan-kegiatan pameran pada momentum tertentu yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Malang maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.
"Setiap ada pameran Hardiknas atau Hari Jadi Kabupaten Malang, itu pasti produk pupuk kompos Sempatig atau SMPN 3 Kepanjen kita tampilkan. Produk kompos kita juga sudah ada yang beli dan digunakan untuk kebun kopi di wilayah Dampit," ungkap Atim.
Selain mengolah sampah kering berupa daun-daun kering menjadi pupuk kompos, pihaknya bersama para murid SMPN 3 Kepanjen juga mengolah kembali sampah-sampah plastik untuk produk yang bermanfaat.
Baca Juga : Satpol PP Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar di Jalan Johar–Sulung
"Jadi, sampah-sampah plastik itu kita kumpulkan dan kita masukkan ke dalam botol plastik. Kemudian setelah sudah padat, kita rangkai menjadi satu hingga menjadi ecobrick berupa kursi. Itu berawal dari pelajaran IPS terkait perubahan iklim," jelas Atim.
Lebih lanjut, menurut dia, pengolahan sampah di SMPN 3 Kepanjen tidak hanya untuk memenuhi indikator penilaian sekolah Adiwiyata. Tetapi kegiatan pengolahan sampah secara mandiri merupakan wujud komitmen nyata dari SMPN 3 Kepanjen dalam memberikan pendidikan karakter sejak dini kepada para murid.
"Tujuannya bukan hanya bersih dan sebatas peduli lingkungan, tetapi juga mengajarkan anak-anak bagaimana sampah itu bisa bernilai. Bisa jadi produk, bahkan bisa menghasilkan dampak ekonomi," tandas Atim.
