Pangeran Mangkudipuro: Dinasti Terakhir Arya Blitar di Madiun

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya

30 - Aug - 2025, 12:03

Makam Pangeran Mangkudipuro, salah satu tokoh penting trah Arya Blitar yang pernah berkuasa di Madiun, kini menjadi jejak sejarah yang tersisa di Makam Kuno Kuncen Caruban, Kabupaten Madiun. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Sejarah Jawa tak pernah lurus: ia berliku antara pengkhianatan dan kesetiaan, antara darah yang tumpah dan sumpah yang dikhianati. Di persimpangan itulah berdiri Pangeran Mangkudipuro, adipati Madiun dari trah Arya Blitar, sebuah dinasti tua yang sejak Panembahan Timur dan Retno Dumilah menjadi penopang Mataram. Pada abad ke-18, ketika kerajaan terbelah oleh Perjanjian Giyanti dan VOC menancapkan cengkeraman ekonomi, Mangkudipuro dipaksa memilih antara tunduk pada perintah Sultan Hamengkubuwana I atau menjaga martabat rakyat yang diperas upeti. Keputusannya untuk tidak menumpas sahabatnya, Bupati Sawo, menyelamatkan nyawa sesama wong Jawa Timur, tetapi sekaligus mengguncang legitimasi politiknya. Dari situlah, kekuasaan trah Arya Blitar runtuh, meninggalkan jejak tragis tentang seorang bangsawan yang kalah karena memilih rakyat daripada tahta.

Garis Keturunan Pangeran Mangkudipuro II

Baca Juga : Nota Kesepakatan KUA-PPAS 2025 Ditandatangani, DPRD dan Pemkab Blitar Mantapkan Langkah Pembangunan

Garis keturunan Pangeran Mangkudipuro sesungguhnya berakar jauh hingga masa keemasan Kesultanan Demak, kemudian berlanjut ke Pajang dan Mataram, sebelum akhirnya melahirkan dinasti Arya Blitar di Madiun. Dari Sultan Trenggono, raja terbesar Demak pada tahun 1521 sampai 1546, yang menikahi Ratu Pembayun, putri Sunan Kalijaga dengan Siti Zaenab yang merupakan cucu Syekh Siti Jenar, lahirlah trah besar yang kelak berpengaruh luas di kawasan Madiun dan sekitarnya. Dari perkawinan itu lahir beberapa keturunan penting, antara lain Ratu Mas Cempaka yang dinikahkan dengan Sultan Hadiwijaya di Pajang, serta seorang putra bernama Pangeran Timur yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Timur, leluhur para adipati Madiun.

Panembahan Timur menegakkan kekuasaan lokal di Madiun pada paruh kedua abad ke-16. Dari garis keturunannya lahirlah seorang tokoh perempuan legendaris, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, yang kemudian menikah dengan Panembahan Senapati, pendiri Mataram Islam (1584–1601). Perkawinan politik ini bukan sekadar menandai penyatuan Madiun ke dalam orbit kekuasaan Mataram, melainkan juga menjadikan darah Panembahan Timur sejajar dengan pusat dinasti Jawa baru.

Lebih jauh, perkawinan ini membawa konsekuensi politik simbolik yang sangat penting. Panembahan Senapati, dalam upayanya mengonsolidasikan kekuasaan Mataram, menggunakan strategi pemberian gelar kebangsawanan yang diambil dari nama-nama daerah bersejarah di Jawa Timur, antara lain Singasari, Puger, Purbaya, dan Blitar, untuk menegaskan klaim warisan sekaligus legitimasi kekuasaan. Dalam kerangka itu, gelar Blitar disematkan kepada keturunan Senapati dan Retno Dumilah. Sejak saat tersebut, Blitar tidak lagi hanya dipahami sebagai nama geografis, melainkan juga simbol keterhubungan genealogis Madiun dengan trah Mataram.

Melalui putra mereka, Panembahan Juminah, yang sebelumnya bergelar Pangeran Blitar, lahirlah garis bangsawan yang kelak memimpin Madiun secara turun-temurun. Gelar Blitar berfungsi ganda: di satu sisi, ia mempertegas klaim Mataram atas wilayah timur Jawa; di sisi lain, ia menempatkan trah Madiun dalam orbit pusat politik Jawa. Dengan demikian, dinasti Arya Blitar bukan hanya penguasa lokal, melainkan juga bagian integral dari proyek politik simbolik Senapati, yang menjadikan Madiun sebagai simpul penting dalam jaringan kekuasaan Mataram.

Juminah

 Panembahan Juminah, putra Senapati dan Retno Dumilah,  kemudian menikah dengan Ratu Mas Hadi, janda Panembahan Hanyakrawati dan ibu dari Sultan Agung Hanyokrokusumo. Dari garis keturunan inilah lahir Pangeran Adipati Balitar II, yang juga dikenal sebagai Pangeran Balitar Irokromo atau Adipati Mangkunegara III, penerus utama dinasti Arya Blitar di Madiun.

Pangeran Balitar II menurunkan Pangeran Balitar Tumapel yang bergelar Adipati Mangkunegara IV (Bupati Madiun 1685 - 1703). Dari garis ini lahir Raden Tumenggung Balitar yang kemudian bergelar Adipati Mangkunegara V, serta Kanjeng Ratu Puger atau Ratu Mas Blitar yang kelak menjadi permaisuri Sunan Pakubuwana I di Kartasura. 

Raden Tumenggung Balitar menikah dengan putri Panembahan Herucokro dan menurunkan Pangeran Arya Blitar IV, yang kemudian menikah dengan putri Sunan Pakubuwana I. Dari perkawinan terakhir inilah lahir Kanjeng Pangeran Mangkudipuro.

Dengan demikian, Mangkudipuro merupakan hasil perkawinan silang dua garis utama: trah Arya Blitar-Madiun di satu sisi, dan darah langsung keraton Mataram melalui Pakubuwana I di sisi lain. Dari segi politik dan spiritualitas, ia mewarisi dua dunia sekaligus, yakni kebangsawanan lokal Madiun yang berakar pada Panembahan Timur serta darah pusat kekuasaan Mataram yang melegitimasi kedudukannya sebagai penguasa Mancanagara Timur.

Sebagai pejabat tinggi, Mangkudipuro diangkat menjadi Bupati Wedana Mancanegara Timur yang berkedudukan di Madiun, dengan wilayah kekuasaan mencakup empat belas kabupaten di kawasan “Brang Wetan”. Ia memimpin Kadipaten Madiun sejak 1725 hingga 1755, sebelum akhirnya dipindahkan ke Caruban akibat konflik politik dengan Sultan Hamengkubuwana I.

Perlu dicatat, sebelum bergelar Mangkudipuro, ia menyandang gelar Adipati Mangkunegara VII. Namun sejak 1755, gelar tersebut dicabut dan diganti dengan gelar Mangkudipuro. Adapun gelar Mangkunegara kemudian dipakai oleh Raden Mas Said dan menjadi gelar turun-temurun bagi penguasa Praja Mangkunegaran hingga sekarang.

Madiun di Persimpangan Sejarah Jawa

Madiun abad ke-18 adalah daerah perbatasan yang strategis. Sebagai Wedana Bupati Mancanegara Timur, adipati Madiun tidak hanya mengurus satu kabupaten, melainkan membawahi empat belas daerah bawahan (Brang Wetan). Posisi ini menempatkan Mangkudipuro sebagai salah satu penguasa regional yang paling berpengaruh. Namun, posisinya juga rawan. Sebab, setiap dinamika di Kartasura atau Yogyakarta pasti berimbas ke Madiun.

Sejak awal abad ke-18, Mataram berada dalam krisis legitimasi. Perang Suksesi Jawa I dan II menghancurkan otoritas pusat. VOC ikut campur tangan, bukan hanya sebagai mediator, tetapi sebagai aktor yang mengarahkan hasil. Ketika Perjanjian Giyanti 1755 membelah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Madiun ditempatkan di bawah Yogyakarta. Sejak itu, Mangkudipuro harus berhadapan dengan dua kekuatan sekaligus: tuntutan Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta dan kewajiban upeti yang dipaksakan VOC.

Sistem ekonomi kolonial yang diterapkan VOC di Madiun sungguh menjerat. Rakyat dipaksa menyerahkan dua perlima hasil panen setiap tahun, ditambah 60.000 pikul beras yang harus disetor pada perayaan Maulud. Selain beras, komoditas seperti kopi, nila, gula, tembakau, dan kapas masuk dalam daftar penyerahan wajib. Dalam laporan-laporan pejabat Belanda, jumlah cacah (kepala keluarga) di Madiun mencapai 12.000, sementara Caruban 500. Semua diperas untuk kepentingan VOC. Kondisi inilah yang membuat rakyat Madiun dan Ponorogo terperangkap dalam penderitaan struktural.

Makam HB 1

Konspirasi Madiun–Sawo: Antara Rakyat dan Sultan

Di tengah tekanan itu, lahirlah persekutuan rahasia antara Adipati Madiun, Pangeran Mangkudipuro, dengan Bupati Sawo di Ponorogo. Mereka sepakat membela rakyat melawan kewajiban upeti VOC. Konspirasi ini berbahaya karena langsung menentang perjanjian politik Yogyakarta dan VOC. Tetapi bagi Mangkudipuro, langkah ini adalah bentuk loyalitas pada rakyatnya.

Sayangnya, rahasia itu pecah. Sultan Hamengkubuwana I mendengar kabar pembangkangan Sawo. Dengan marah, ia mengirim perintah keras: Mangkudipuro harus menangkap hidup atau mati Bupati Sawo dan menyerahkannya ke Yogyakarta. Perintah itu menempatkan Mangkudipuro dalam dilema moral. Ia harus memilih antara setia pada Sultan atau setia pada rakyat dan sahabat politiknya.

Dengan setengah hati, Mangkudipuro memimpin pasukannya menuju Sawo. Namun, belum sempat melakukan negosiasi, pasukan Madiun disergap prajurit Sawo. Dalam pertempuran singkat, punggung Mangkudipuro terluka. Darah bangsawan itu tumpah di tanah Ponorogo. Tetapi ia tidak membalas. Ia memilih mundur, menghindari pertumpahan darah sesama wong Jawa. Keputusan ini, meski menyelamatkan banyak nyawa, justru dianggap pengkhianatan oleh Sultan.

Murka Sultan dan Jatuhnya Tahta Madiun

HB 1

Kabar mundurnya Mangkudipuro sampai ke telinga Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta. Sang Sultan murka, sebab baginya adipati Madiun telah gagal melaksanakan perintah kerajaan. Pada tahun 1755, segera setelah Perjanjian Giyanti ditegakkan, Sultan mencopot jabatan Mangkudipuro sebagai Wedana Bupati Mancanegara Timur dan menggantikannya dengan Raden Ronggo Prawirosentiko, seorang sekutu setia Yogyakarta. Ronggo kemudian menerima gelar Pangeran Ronggo Prawirodirjo I.

Pada masa itu, Wedana Bupati merupakan jabatan bergengsi. Jika dibandingkan dengan struktur pemerintahan modern, kedudukannya setara dengan gubernur. Khusus Wedana Bupati Mancanegara Timur, ia berperan layaknya gubernur Mataram untuk wilayah Jawa Timur, yang menjadi kawasan penting sekaligus strategis bagi kekuasaan kerajaan.

Mangkudipuro tidak dijatuhi hukuman mati, melainkan dipindahkan sebagai bupati biasa di Caruban, wilayah yang kini termasuk Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Gelar Mangkunegara dicabut darinya dan kemudian diberikan kepada Raden Mas Said, musuh lama VOC yang kelak bergelar KGPAA Mangkunegara I. Sejak peristiwa itu, berakhirlah kekuasaan trah Arya Blitar di Madiun. Dinasti yang berakar sejak Panembahan Timur dan Retno Dumilah pun tersingkir dari panggung utama sejarah.

Baca Juga : Gas Air Mata Hujani Demonstran di Tengah Aksi Massa Depan Polresta Malang Kota

Adapun pengganti Mangkudipuro, Raden Ronggo Prawirodirjo I, tidak berasal dari jalur Retno Dumilah. Menurut tradisi dan catatan genealogis, sebelum bergelar Ronggo Prawirodirjo I, beliau dikenal dengan nama Kyai Wirosentiko, salah seorang tokoh kepercayaan Sultan Hamengkubuwana I di Perang Suksesi Jawa III. 

Adapun silsilah Raden Ronggo Prawirodirjo I bermula dari Pangeran Pujangga yang menurunkan Kyai Ronggo I. Dari Kyai Ronggo I lahirlah Kyai Ronggo II yang menikah dengan putri Kyai Wonosalam, kemudian menurunkan Kyai Ronggo III di Sukowati. Putri Kyai Ronggo III menikah dengan Pangeran Waruju, putra Pangeran Makdumjamil di Selomanik, dan dari perkawinan ini lahirlah Ki Ageng Ahmad Darum di Pakis Romo. Ki Ageng Ahmad Darum menikah dengan putri Ki Ageng Getas Pendowo, melahirkan Ki Ageng Ahmad Tohar di Pakis Kidul. Selanjutnya, Ki Ageng Ahmad Tohar menikah dengan putri Ki Ageng Selo dan menurunkan Kyai Haji Abdullah di Karang Pakel. Kyai Haji Abdullah menikah dengan putri dari Giri dan melahirkan Ki Ageng Mas Balimbing. Dari perkawinannya dengan putri Panembahan Hanyokrowati, Ki Ageng Mas Balimbing menurunkan Ki Ageng Mas Sigit, yang kemudian menikah dengan putri Pangeran Ronggo di Pati dan melahirkan Ki Ageng Sontoyudo di Kawadungan.

Makam Raden Ronggo I

Dari Ki Ageng Sontoyudo lahirlah dua garis keturunan. Yang pertama, Nyai Krahing Nobo yang menikah dengan Kyai Krahing Nobo dari Makasar, menurunkan Nyai Ajeng Datuk Sleman. Nyai Ajeng Datuk Sleman kemudian menikah dengan Kyai Datuk Sleman, putra sulung Raja Bima di Nusa Tenggara Barat, dan dari perkawinan ini lahirlah Nyai Ajeng Derpoyudo. Garis kedua berasal dari Ki Ageng Sontoyudo II yang menurunkan Nyai Ajeng Wiroyudo. Nyai Ajeng Wiroyudo menikah dengan putra Ki Ageng Sontoyudo II dan melahirkan Ki Ageng Derpoyudo.

Ki Ageng Derpoyudo kemudian menikah dengan Nyai Ajeng Derpoyudo. Dari perkawinan ini lahir beberapa tokoh penting, yakni Kyai Wiromantri, Kyai Ronggo Wirosentiko yang kelak dikenal sebagai Raden Ronggo Prawirodirjo I, Kanjeng Ratu Tegalrejo, serta Nyai Ageng Pangulu. Kanjeng Ratu Tegalrejo melalui pernikahannya dengan Sultan Hamengkubuwana II melahirkan Sultan Hamengkubuwana III, yang kemudian menurunkan Pangeran Diponegoro, sang pemimpin Perang Jawa 1825–1830.

Dengan demikian, jelas bahwa Raden Ronggo Prawirodirjo I berasal dari garis keturunan Pangeran Pujangga melalui jalur panjang para Ronggo Sukowati, yang kemudian terhubung pula dengan trah bangsawan Giri dan Mataram. Nasab ini sekaligus memperlihatkan keterkaitan erat Ronggo Prawirodirjo I dengan garis keturunan raja-raja Mataram hingga kepada Pangeran Diponegoro, tokoh besar dalam sejarah perlawanan Jawa terhadap kolonialisme Belanda.

Antara Perlawanan dan Kolaborasi

Meski dipinggirkan, Mangkudipuro tercatat pernah memainkan peran penting dalam dinamika Jawa pertengahan abad ke-18. Ketika Raden Mas Said berjuang melawan VOC dan akhirnya mendirikan Mangkunegaran pada 1757, Mangkudipuro pernah terlibat dalam jaringan perlawanan itu. Namun, posisinya sebagai pejabat yang dilemahkan membuat kiprahnya terbatas.

Sikap politiknya mencerminkan dilema bangsawan Jawa: ia menolak penindasan ekonomi VOC, tetapi juga tidak kuasa melawan total karena terikat loyalitas kepada Sultan Yogyakarta. Persekutuan dengan Bupati Sawo adalah bentuk nyata perlawanan, sementara kepatuhan setengah hati pada perintah Sultan adalah cermin kompromi. Dalam diri Mangkudipuro, tampak wajah bangsawan Jawa yang tercerai-berai oleh perpecahan politik pasca-Giyanti.

Ideologi, Spiritualitas, dan Dendam Sejarah

Makam Mangkudipuro

Kisah Mangkudipuro tidak bisa dilepaskan dari dimensi ideologi dan spiritualitas. Sebagai keturunan Panembahan Timur dan Retno Dumilah, ia membawa memori sejarah panjang perlawanan. Retno Dumilah adalah simbol perempuan prajurit yang melawan Mataram sebelum akhirnya menikah dengan Senapati. Panembahan Timur sendiri adalah figur yang menjaga kemandirian Madiun. Warisan ini menjadi bagian dari kesadaran politik Mangkudipuro.

Selain itu, spiritualitas Jawa-Islam yang mewarnai wilayah Madiun turut membentuk sikapnya. Bagi para bangsawan mancanegara, setia pada rakyat seringkali dianggap sama pentingnya dengan setia pada Sultan. Pilihan Mangkudipuro untuk tidak membunuh Bupati Sawo adalah bentuk laku spiritual: menghindari pertumpahan darah sesama wong Jawa yang sedang ditindas kolonial.

Namun, dendam sejarah terhadap VOC tetap membara. Sejak Trunajaya di abad ke-17, hingga Surapati pada 1680-an, hingga perjuangan Raden Mas Said di abad ke-18, wilayah timur Jawa selalu menjadi basis perlawanan. Mangkudipuro, meski kalah dalam politik istana, tetap mewarisi semangat perlawanan itu.

Caruban: Senja Kekuasaan

Pindah ke Caruban pada 1755, Mangkudipuro hanya sempat memerintah setahun. Tahun 1756, ia wafat dan dimakamkan di Kuncen Caruban. Dari segi politik, ia gagal mempertahankan kedudukan sebagai Wedana Bupati Mancanegara Timur. Tetapi dari segi moral, ia dikenang sebagai pemimpin yang memilih rakyat daripada ambisi pribadi.

Sejak saat itu, trah Arya Blitar kehilangan pengaruh utama. Kepemimpinan di Madiun berpindah ke tangan Ronggo Prawirodirjo dan keturunannya. Dinasti baru ini lebih dekat dengan Yogyakarta, tetapi tetap tidak bisa menghindari ketegangan dengan VOC, yang kelak meledak pada tahun 1810  ketika Ronggo Prawirodirjo III terbunuh dalam pertempuran melawan Daendels di Kertosono. 

Catatan Akhir: Mangkudipuro dalam Historiografi Jawa

Kuncen Caruban

Historiografi Jawa sering melupakan figur seperti Mangkudipuro. Ia kalah dalam politik, tersingkir dalam kekuasaan, dan hanya sebentar memimpin Caruban. Namun, di balik keterpinggiran itu tersimpan narasi penting tentang dilema bangsawan Jawa abad ke-18. Sosoknya memperlihatkan bagaimana perjanjian-perjanjian besar seperti Giyanti tidak hanya membelah kerajaan, tetapi juga meruntuhkan dinasti-dinasti lokal yang sebelumnya menjadi penopang Mataram.

Kanjeng Pangeran Mangkudipuro, yang juga dikenal sebagai Adipati Mangkunegara VII, adalah generasi terakhir Panembahan Timur yang berkuasa di Madiun. Ia adalah putra Adipati Mangkunegara VI dengan putri Sunan Pakubuwana I, sekaligus pewaris garis keturunan Panembahan Timur dan Ratu Retno Dumilah. Dari jalur ini pula ia terhubung dengan Sultan Agung melalui Panembahan Juminah. Mangkudipuro memimpin Kadipaten Madiun antara tahun 1725 hingga 1755, kemudian dipindahkan ke Caruban setelah Perjanjian Giyanti. Namun, posisinya melemah setelah ia dianggap gagal melaksanakan perintah Sultan Hamengkubuwana I untuk menundukkan Bupati Sawo Ponorogo, yang diam-diam justru bersekutu dengannya dalam melawan penindasan VOC.

Mangkudipuro adalah cermin dari sebuah generasi bangsawan yang terjepit di antara VOC, Sultan, dan rakyat. Ia bukan pemberontak penuh, bukan pula kolaborator murni, melainkan pemimpin yang terpaksa berkompromi namun tetap berusaha menjaga martabatnya dengan berpihak kepada rakyat. Sejarah mencatat bahwa dari pernikahannya, ia menurunkan tokoh-tokoh penting, salah satunya Raden Mas Ronggo Cokrodipuro yang menjadi Patih Kediri, serta sejumlah bangsawan lain yang tersebar di Madiun, Kediri, Tulungagung, hingga Trenggalek.

Dengan wafatnya Pangeran Mangkudipuro pada 1756 di Caruban, berakhirlah kekuasaan trah Arya Blitar di Madiun. Akan tetapi, ideologi perlawanan yang ia warisi tidak pernah padam. Dari Panembahan Timur, Retno Dumilah, hingga para Ronggo yang gugur melawan Belanda, terbentang satu benang merah yang tak kunjung putus: bahwa di tanah timur Jawa, dendam sejarah terhadap hegemoni asing selalu hidup dan siap menyala kembali.