Sejarah Gerakan Rakjat Kelaparan 1964: Kisah Petani Gunung Kidul Melawan Paceklik dan Ketidakadilan

Reporter

Mutmainah J

Editor

A Yahya

26 - Aug - 2025, 12:04

Potret kaum Pribumi saat krisis pangan melanda ibu Pertiwi. (Foto: Net)

JATIMTIMES - Di tengah naik-turunnya harga beras, isu ketahanan pangan, serta kritik terhadap tata kelola pemerintahan sekarang, sejarah tentang Gerakan Rakjat Kelaparan (Gerajak) di Gunung Kidul pada tahun 1964 kembali terasa relevan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketika kebijakan negara tidak berpihak pada rakyat kecil, kelaparan dan ketidakadilan sosial dapat memicu perlawanan.

Baca Juga : Kalender Rabiul Awal 2025 Pemerintah dan Muhammadiyah, Ini Tanggal-tanggalnya

Latar Belakang: Paceklik Panjang di Gunung Kidul

Pada dekade 1960-an, Gunung Kidul dilanda paceklik berkepanjangan. Kontur tanahnya yang gersang dan minim sumber daya alam membuat daerah ini rawan kekeringan. Hujan jarang turun, sementara serangan hama tikus memperparah keadaan.

Produksi padi turun hingga 55% pada periode 1960–1964.

Petani hanya bisa menyelamatkan sedikit panen berkualitas rendah.

Untuk bertahan hidup, masyarakat mengganti beras dengan jagung, tanaman yang lebih tahan di lahan kering.

Situasi tersebut memicu fenomena busung lapar. Banyak petani jatuh sakit, bahkan meninggal dunia akibat kekurangan gizi.

Ketimpangan Sosial dan Korupsi Elit Lokal

Di tengah penderitaan rakyat, elit lokal seperti kepala desa, tuan tanah, dan tengkulak tetap hidup berkecukupan. Mereka bisa menimbun hasil panen, sementara petani kecil kesulitan makan.

Kabar bahwa pejabat daerah (pangreh praja) melakukan korupsi semakin memperkeruh suasana. Rakyat merasa dikhianati. Akhirnya, petani yang lapar dan putus asa menghimpun diri dalam Gerakan Rakjat Kelaparan (Gerajak) untuk menuntut keadilan.

Gerajak: Dari Demonstrasi hingga Konflik

Awalnya Gerajak berbentuk aksi demonstrasi menuntut pemerintah daerah. Para petani mendesak Bupati Gunung Kidul, KRT. Djojodiningrat, agar membantu rakyat yang kelaparan.

Pada demonstrasi pertama, Bupati menyetujui permintaan mereka dengan memberikan bantuan pangan dan subsidi harga.

Namun, krisis tidak segera mereda. Gerakan rakyat semakin membesar hingga berujung pada aksi kriminal, bahkan kekerasan terhadap elit lokal yang dianggap menindas.

Baca Juga : Catatan Amal di Hari Kiamat dan Kisah Ibrahim bin Adham

Konflik sosial pun tak terhindarkan. Pada puncaknya tahun 1964, aksi Gerajak berlangsung brutal dan menyisakan jejak kelam dalam sejarah Gunung Kidul.

Peran BTI dan Berakhirnya Gerakan

Menurut Fadjar Pratikto dalam bukunya Gerakan Rakyat Kelaparan (2000), organisasi BTI (Buruh Tani Indonesia) ikut memengaruhi Gerajak. Pada Januari 1964, BTI mendorong petani untuk bergerak lebih masif.

Namun, ketika aksi berubah menjadi kekerasan, BTI menarik diri. Ada dua penyebab utama Gerajak surut:

1. Kelaparan mulai teratasi setelah bantuan pemerintah daerah masuk.

2. Aksi brutal petani membuat gerakan kehilangan simpati dan legitimasi.

Warisan Sejarah Gerajak

Gerakan Rakjat Kelaparan adalah catatan sejarah tentang perlawanan kelas bawah terhadap ketidakadilan. Meski berakhir dengan cara tragis, peristiwa ini menggambarkan suara rakyat desa yang menuntut keadilan, kesejahteraan, dan hak hidup layak.

Kini, meski bentuknya berbeda, tantangan serupa masih terasa. Isu pangan, kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, hingga praktik korupsi tetap menghantui kehidupan masyarakat kecil. Sejarah Gerajak menjadi cermin bahwa kelaparan bukan hanya soal perut, tetapi juga soal keadilan distribusi dan keberpihakan negara pada rakyatnya.