Strategi Mal di Malang Hadapi Daya Beli Lesu: Genjot Sektor F&B dan Hiburan
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
03 - Aug - 2025, 10:34
JATIMTIMES - Perekonomian yang lesu menjadi tantangan tersendiri, salah satunya pada mal. Untuk meningkatkan jumlah kunjungan mengandalkan sektor makanan dan minuman dan entertainment mal.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Malang Raya, Suwanto, Sabtu (2/8/2025). Suwanto mengatakan pasca pandemi Covid-19, daya beli masyarakat lesu.
Baca Juga : Zodiak Paling Hoki 3 Agustus 2025, Siap-Siap Dapat Cuan dan Kejutan Karier!
“Pasca pandemi Covid-19 kondisi belum bisa pulih sepenuhnya seperti sebelum masuknya pandemi Covid-19. Sehingga memang menjadi tantangan kami,” ungkap Suwanto.
Sehingga sejumlah mal yang tergabung pada APPBI Malang Raya mengandalkan sejumlah sektor, seperti makanan dan minuman serta entertainment. Karena itu tenant-tenant makanan dan minuman serta entertainment terus ditambah.
“Orang ke mal pasti yang dicari makanan dan minuman sekarang ini. Pada jam-jam tertentu pasti area food court terjadi kepadatan setiap hari,” ungkap Suwanto, Sabtu (2/8/2025).
Jika pada akhir pekan, segmentasi keluarga banyak mendominiasi. Selain makanan dan minuman, entertaiment menjadi tempat singgah mereka untuk menikmati wahana tempat bermain anak, bioskop dan sebagainya.
“Apalagi kalau filmnya bagus-bagusnya, ini menggaet pengunjung ke mal. Setidaknya kalau orang nge-mal sekarang yang dituju juga tempat makanan dan minuman,” tambah pria yang juga Direktur Lippo Plaza Kota Batu ini.
Mall Director Matos Fifi Trisjanti, menambahkan penurunan daya beli masyarakat disebabkan perang dagang yang tak berkesudahan. Karena kondisi ekonomi tidak pasti, masyarakat cenderung berhemat.
Baca Juga : Antisipasi Oplosan, Pembeli Berhak Pastikan Kondisi Beras Saat Membeli
Sehingga pengelola mal punya strategi agar masyarakat mau untuk datang. Sektor makanan dan mainan menjadi andalan pengelola untuk menggaet pengunjung.
”Dua sektor itu memang jadi daya tarik tersendiri, karena memang sebagian pengunjung datang ingin ke sana,” ucap Fifi.
Meski demikian, pihaknya tetap mencari solusi lain lewat sektor fashion dan kebutuhan rumah tangga. Mengingat kebutuhan sandang dan pangan masih menjadi alasan utama orang mau datang ke mal.
Indikatornya juga dengan melihat rekam jejak brand selama beberapa tahun terakhir. Jika brand tersebut masih bertahan di mal, artinya brand value tersebut sudah kuat.
