Profil Kwik Kian Gie, Mantan Menko Perekonomian yang Wafat di Usia 90 Tahun

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

29 - Jul - 2025, 03:40

Potret Kwik Kian Gie. (Foto: laman Kwikkiangie.ac.id)

JATIMTIMES - Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh penting dalam dunia ekonomi dan politik. Kwik Kian Gie, ekonom senior yang juga pernah menjabat sebagai menteri joordinator bidang perekonomian, wafat dalam usia 90 tahun. 

Kabar duka ini menyebar cepat dan disampaikan oleh sejumlah tokoh nasional. Salah satunya Sandiaga Uno.

Baca Juga : Bolehkan Umat Muslim Berkunjung ke Al Ula? Ini Penjelasan Habib Ja’far 

"Selamat jalan Pak Kwik Kian Gie. Ekonom, pendidik, nasionalis sejati. Mentor yang tak pernah lelah memperjuangkan kebenaran. Yang berdiri tegak di tengah badai, demi kepentingan rakyat dan negeri. Indonesia berduka," tulis Sandiaga lewat akun media sosialnya dikutip Selasa (29/7/2025).

Profil Kwik Kian Gie
Semasa hidupnya, Kwik dikenal luas sebagai figur yang vokal dan independen. Ia tak segan melontarkan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap menyimpang dari kepentingan rakyat. 

Kwik Kian Gie lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1935. Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kemudian melanjutkan studi ke Nederlandsche Economische Hogeschool Rotterdam, Belanda (kini Erasmus Universiteit Rotterdam), dan lulus pada 1963.

Dalam dunia pemerintahan, nama Kwik mencuat saat menjabat sebagai menteri koordinator bidang ekonomi, keuangan, dan industri (menko ekuin) di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada periode 1999–2000. Setelah itu, ia dipercaya sebagai menteri perencanaan pembangunan nasional/kepala Bappenas.

Sebelum masuk kabinet, Kwik sempat menjadi wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1-26 Oktober 1999. Ia juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ia dikenal bersih, kritis, dan tetap menjunjung integritas dalam menjalankan tugas kenegaraan.

Kwik menerima penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara.

Sepanjang kariernya, Kwik Kian Gie menempatkan rakyat sebagai prioritas dalam setiap pemikirannya. Ia dikenal sebagai salah satu ekonom yang menolak keras liberalisasi ekonomi yang berlebihan serta intervensi asing dalam kebijakan ekonomi nasional.

Baca Juga : Mahasiswa FIKES UB Gelar Pengabdian Masyarakat di Clumprit, Gaungkan Aksi Kolaboratif untuk Kesehatan

Bahkan hingga masa tuanya, ia masih aktif menyuarakan pandangan dan kritik melalui tulisan, forum akademik, hingga media sosial. Pemikiran-pemikirannya yang tajam tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Tidak hanya dikenal sebagai ekonom. Kwik juga berperan besar dalam dunia pendidikan. Ia mendirikan SMA Erlangga di Surabaya pada 1954. Menariknya, ia juga menjadi salah satu murid di sekolah tersebut dan lulus pada 1955 sebelum melanjutkan pendidikan ekonomi ke luar negeri.

Setelah menyelesaikan kuliah di Rotterdam, Kwik sempat berkecimpung di dunia bisnis sambil aktif menulis opini ekonomi dan politik di berbagai media.

Pada 1982, Kwik bersama Prof. Panglaykim mendirikan Institut Manajemen Prasetiya Mulya, yang menjadi salah satu sekolah MBA pertama di Indonesia. Lima tahun berselang, pada 1987, ia bersama Djoenaedi Joesoef dan Kaharuddin Ongko mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBI). Lembaga ini kemudian berubah nama menjadi Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie atau lebih dikenal dengan nama Kwik Kian Gie School of Business.

Meski usianya tak lagi muda, Kwik tetap aktif menulis dan berbicara dalam berbagai forum. Ia kerap memberikan pandangan kritis terhadap dinamika ekonomi nasional, termasuk melalui kanal YouTube dan media sosial pribadinya.