Raja Bukan Wakil Tuhan: Alasan Ki Ageng Pengging Menolak Menghadap Sultan Demak

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

16 - Mar - 2025, 02:56

Situs Tri Tingal di Dusun Centong, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, merupakan tempat pertemuan Ki Ageng Pengging (Kebo Kenanga), Syekh Siti Jenar, dan Sunan Kalijaga. Sebuah saksi bisu perjalanan spiritual dan pergulatan ajaran Islam di tanah Jawa. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam sejarah Islam di Jawa, peran tokoh-tokoh seperti Ki Ageng Pengging sering  ditafsirkan dalam konteks ketegangan antara kekuasaan politik dan spiritualitas individual. Ia merupakan seorang bangsawan yang dihormati, murid Syekh Siti Jenar, dan memiliki pandangan yang unik terhadap konsep kekuasaan. 

Sikapnya yang enggan menghadap Sultan Demak bukanlah sekadar bentuk pembangkangan, melainkan cerminan dari keyakinan mendalamnya tentang hubungan antara individu dan Tuhan.

Baca Juga : Trending #TolakRUUTNI, Buntut DPR Gelar Rapat Revisi UU TNI Diam-Diam di Hotel Mewah

Serat Syekh Siti Jenar, salah satu naskah utama yang merekam pandangan Ki Ageng Pengging, mengungkapkan gagasan bahwa manusia tidak seharusnya tunduk kepada otoritas duniawi karena kehidupan ini sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan. Dalam pandangan Ki Ageng Pengging, sultan Demak bukanlah penguasa sejati dunia ini, melainkan sekadar pengelola urusan duniawi yang tidak memiliki otoritas atas jiwa manusia.

Penolakan Ki Ageng Pengging untuk menghadap sultan Demak menjadi titik krusial dalam sejarah spiritual Jawa. Ia menolak tunduk kepada kekuasaan yang dianggapnya tidak lebih tinggi dari ketetapan Ilahi. Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi, karena akhirnya ia harus menghadapi tuduhan makar dan menjadi sasaran politik Demak.

Lalu, mengapa Ki Ageng Pengging bersikeras untuk tidak menghadap sultan Demak? Apakah ini murni soal keyakinan, atau ada alasan lain yang lebih dalam?

Ki Ageng Pengging: Raja yang Memilih Menjadi Santri dan Petani

Dalam sejarah Jawa, takhta sering kali menjadi panggung bagi para penguasa untuk menorehkan ambisinya. Namun, tidak semua yang berdarah ningrat memilih jalan itu. Raden Kebo Kenanga, yang lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pengging, adalah bukti bahwa seorang pewaris kekuasaan bisa menanggalkan haknya atas takhta demi prinsip yang diyakininya.

Sebagai putra Andayaningrat, penguasa Pengging sekaligus menantu Brawijaya V, Ki Ageng Pengging memiliki peluang besar untuk menghidupkan kembali kejayaan keluarganya. Namun, setelah sultan Demak II (Pati Unus) wafat, takhta beralih ke Raden Trenggana (sultan Demak III), yang masih saudara sepupunya. Alih-alih mendekat ke pusat kekuasaan, Ki Ageng Pengging justru memilih menjauh dari istana Demak, bukan karena ambisi politik, melainkan perbedaan pandangan dalam hal agama.

Bagi Ki Ageng Pengging, ajaran Syekh Siti Jenar lebih mencerminkan pemahaman spiritual yang ia yakini—beragama dengan kebebasan, tanpa terikat pada aturan sultan dan kerajaan. Hal ini bertolak belakang dengan Islam yang ditegakkan oleh Kesultanan Demak, yang menempatkan agama sebagai alat untuk mengatur kehidupan masyarakat. Perbedaan mendasar inilah yang membuatnya enggan menghadap Sultan Trenggana, karena ia lebih memilih jalan sunyi daripada tunduk pada otoritas keagamaan yang bertentangan dengan keyakinannya.

Bertolak belakang dengan anggapan adanya kekecewaan, hubungan antara Kebo Kenanga, Kebo Kanigara, dan Sultan Trenggana sebenarnya lebih kompleks. Sebagai sesama keturunan Majapahit dan cucu Sri Prabu Kertawijaya (Brawijaya V) yang dibesarkan dalam lingkungan yang sama, tidak ada indikasi bahwa Sultan Trenggana secara pribadi ingin menyingkirkan mereka. Justru, sultan merindukan keberadaan kedua saudara sepupunya, tetapi situasi politik tidak memungkinkan mereka untuk tetap berada dalam lingkaran kekuasaan.

Dalam konteks Demak yang tengah memperkuat legitimasi Islam, keraguan terhadap ajaran Syekh Siti Jenar—yang diikuti oleh Kebo Kenanga—bisa menjadi faktor utama yang membuatnya tidak lagi dipandang sebagai sekutu yang sejalan dengan kepentingan kesultanan. Pilihan Kebo Kenanga dan Kebo Kanigara untuk kembali ke Pengging bukanlah bentuk pemberontakan, melainkan sebuah jalan sunyi yang mereka tempuh, jauh dari dinamika istana.

Sultan Trenggana mungkin tidak dapat mencegah perpisahan ini, tetapi bukan berarti ia tidak merasakan kehilangan dan kerinduan terhadap saudara-saudaranya. Hanya saja, sebagai pemimpin, ia harus menempatkan stabilitas politik Demak di atas hubungan pribadi. Kebo Kenanga dan Kebo Kanigara pun akhirnya memilih jalur berbeda, meninggalkan istana untuk mendalami spiritualitas—sebuah perjalanan yang pada akhirnya mengantarkan Kebo Kenanga pada perannya sebagai Ki Ageng Pengging dalam sejarah Islam Jawa.

Di Pengging, Ki Ageng Pengging bukan lagi seorang pangeran yang bertikai demi kekuasaan, melainkan seorang santri yang mendalami ilmu tasawuf di bawah bimbingan Syekh Siti Jenar—sufi kontroversial yang ajarannya kerap bertentangan dengan pemahaman Wali Sanga. Bersama gurunya, ia menekuni hakikat kehidupan, melepaskan ambisi duniawi, dan menjalani hidup sederhana sebagai seorang petani. Ia bekerja di sawah, mengolah tanah, serta mengajarkan Islam kepada masyarakat sekitar, bukan melalui hukum dan kekuasaan, tetapi dengan pemahaman spiritual yang mendalam.

Namun, keputusan Ki Ageng Pengging menempuh jalan spiritual tidak sepenuhnya menjauhkannya dari bayang-bayang politik. Ajian tasawuf yang dianutnya dianggap berbahaya oleh Kesultanan Demak, yang saat itu dipimpin oleh Sultan Trenggana. Sejarah mencatat dua versi tentang nasib akhirnya: ada yang menyebut ia dieksekusi atas perintah Sunan Kudus, sementara sumber lain menyatakan ia menghilang, memilih hidup dalam penyamaran dan bergabung dengan gurunya Syekh Siti Jenar di Cirebon.

Meski demikian, warisannya tetap hidup. Darahnya mengalir dalam diri Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), pendiri Kesultanan Pajang, dan ajarannya tetap dikenang dalam tradisi Islam Jawa. Lebih dari sekadar pewaris takhta yang menolak kekuasaan, Ki Ageng Pengging adalah raja yang menemukan kemenangan sejati bukan dalam politik, melainkan dalam kebijaksanaan dan ketulusan hati.

Kemerdekaan Individu dan Relasi dengan Kekuasaan

Salah satu argumen utama Ki Ageng Pengging yang tercatat dalam Serat Syekh Siti Jenar adalah bahwa langit dan bumi bukan milik raja, melainkan milik orang banyak. Dalam pandangan ini, kekuasaan duniawi hanyalah administrasi pajak dan pengelolaan kebijakan, sedangkan hakikat kehidupan tetap menjadi milik individu yang berhubungan langsung dengan Tuhan.

 “Lagi pula bumi dan langit ini bukan milik Sri Naranata melainkan milik orang banyak! Milik raja itu hanya pajak, karena ia sudah membuat uang. Sedangkan isi dunia ini adalah milik pribadi orang banyak. Maka dari itu, saya tidak merasa ada di bawah siapa pun dan tidak dapat diperintah oleh siapa pun, selain oleh saya pribadi, yang di dalamnya terdapat Tuhan.”

Kutipan ini menegaskan bahwa bagi Ki Ageng Pengging, hubungan antara individu dan Tuhan jauh lebih utama daripada hubungan antara individu dan raja. Ia menolak untuk tunduk kepada perintah Sultan karena baginya, tidak ada perantara antara dirinya dengan Tuhan.

Pandangan ini sangat berbeda dengan konsep kekuasaan yang dianut oleh Kesultanan Demak dan Wali Songo. Dalam tradisi Islam yang berkembang di Jawa, sultan sering dianggap sebagai pemimpin yang memiliki legitimasi spiritual. Namun, bagi Ki Ageng Pengging, konsep ini justru menyalahi hakikat kebebasan individu dalam menjalankan ibadahnya.

Baca Juga : Polsek Pakel Tulungagung Sampaikan Pentingnya Jaga Kamtibas di Bulan Ramadan, Larang SOTR Berlebihan

Lebih lanjut, Ki Ageng Pengging meyakini bahwa segala sesuatu dalam hidupnya harus didasarkan pada kehendak hati dan kesadaran spiritual, bukan perintah otoritas duniawi. Ia menyatakan:

 “Oleh karena itu, segala tingkah laku saya hanya menuruti perintah hati. Maka, saudara disuruh memanggil saya ke Demak, akan tetapi karena hati saya tidak mau, sesungguhnya badan saya pun tidak akan menuruti perintah untuk datang ke Demak. Biarpun hancur lebur bagaikan tepung, tiada akan menyimpang cipta saya.”

Pandangan terhadap Sultan Demak dan Wali Songo

Ki Ageng Pengging bukan hanya menolak menghadap Sultan Demak, tetapi juga memiliki pandangan kritis terhadap legitimasi Wali Songo. Baginya, para wali adalah orang-orang yang berpegang pada aturan agama secara kaku tanpa memahami esensinya.

 “Kalau demikian engkau itu Wali, menjadi santri ibarat burung putih, tetapi batinmu ibarat hati berkarat, membujuk-bujuk seperti penjahat.”

Dalam pandangan ini, Wali Songo dianggap lebih menekankan simbolisme dan formalitas agama, sementara Ki Ageng Pengging lebih menekankan esensi pengalaman spiritual langsung dengan Tuhan. Ia juga mengkritik cara para wali menyebarkan ajaran Islam yang menurutnya lebih berorientasi pada kekuasaan daripada pencarian hakikat kebenaran.

“Berkeliaran ke mana-mana mengumbar tutur mengatakan telah melihat 'Hyang Widi'. Engkau bersujud-sujud, shalat mengenakan jubah, padahal sesungguhnya engkau tidak tahu siapa Tuhan itu.”

Sikap ini menunjukkan bahwa Ki Ageng Pengging bukan hanya menolak kekuasaan politik, tetapi juga menentang legitimasi keagamaan yang dibangun oleh Wali Songo. Ia melihat bahwa agama telah menjadi alat politik, bukan lagi jalan spiritual murni.

Konflik dengan Demak dan Akhir Hidupnya

Penolakan Ki Ageng Pengging terhadap otoritas Sultan Demak bukan tanpa konsekuensi. Kesultanan Demak, yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Raden Patah dan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Trenggana, melihat Ki Ageng Pengging sebagai ancaman.

Keengganannya untuk menghadap raja dianggap sebagai bentuk pembangkangan yang berbahaya bagi stabilitas kerajaan. Sebab, jika seorang bangsawan setingkat Ki Ageng Pengging menolak kekuasaan Demak, maka hal ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk melakukan hal yang sama.

Nasib Ki Ageng Pengging setelah Sultan Demak mengutus Sunan Kudus untuk menindaknya tetap menjadi misteri yang memicu perdebatan di berbagai sumber sejarah. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia wafat akibat eksekusi, di mana Sunan Kudus menerapkan metode khas—sayatan di siku—sebuah cara yang diyakini memiliki makna spiritual dalam tradisi Islam Jawa.

Namun, ada pula versi lain yang menyatakan bahwa eksekusi itu tidak berakhir dengan kematian. Alih-alih terbunuh, Ki Ageng Pengging diduga meloloskan diri dan memilih jalan sunyi, meninggalkan Pengging untuk bergabung kembali dengan gurunya, Syekh Siti Jenar, di Cirebon. Jika benar demikian, maka ia tidaklah mati sebagai pemberontak yang dihukum, melainkan sebagai sosok yang menghilang dalam bayang-bayang sejarah. Namanya tetap hidup, melayang di antara legenda dan kenyataan, menjadi teka-teki yang terus dipertanyakan dalam lintasan waktu.

Kisah Ki Ageng Pengging bukan sekadar cerita tentang seorang bangsawan yang menolak tunduk pada kekuasaan. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang perjuangan spiritual, kebebasan individu, dan ketegangan antara agama sebagai institusi dan agama sebagai pengalaman pribadi.

Penolakannya untuk menghadap Sultan Demak bukan semata-mata karena faktor politik, tetapi lebih karena keyakinannya bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat diatur oleh kekuasaan duniawi. Ia menegaskan bahwa seorang individu harus bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri, tanpa perlu tunduk pada sistem yang dianggapnya tidak sejalan dengan kehendak Tuhan.

Sikap ini membuatnya menjadi simbol perlawanan terhadap sistem keagamaan dan politik yang terlalu mengekang kebebasan individu. Hingga kini, pemikiran Ki Ageng Pengging masih menjadi bahan kajian yang menarik dalam sejarah Islam di Jawa, terutama dalam memahami bagaimana agama dan politik saling berinteraksi dalam membentuk peradaban Nusantara.