Benarkah Megathrust Selatan Jawa Bisa Picu Gempa M 8,8 dan Tsunami 20 Meter?

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

15 - Sep - 2026, 11:17

Peta keberadaan zona megathrust di Indonesia dan informasi gempa terakhirnya. (Foto: @infogempadunia)

JATIMTIMES - Isu soal gempa besar yang bakal mengguncang Indonesia kembali mencuat. Kali ini muncul klaim bahwa gempa berkekuatan M7,0 hingga M9,0 akan terjadi sebelum akhir 2026 dan dikaitkan dengan wilayah Jawa serta Jakarta.

Klaim tersebut disampaikan pria asal Kanada yang dikenal di media sosial sebagai ahli meteorologi amatir, Frankie MacDonald. Dalam tayangan di kanal YouTube miliknya, ia mengingatkan warga di Jawa dan Jakarta untuk bersiap menghadapi gempa besar yang disebut dapat menimbulkan kerusakan masif.

Baca Juga : Krisis Bahan Bakar di Makassar, Apa yang Terjadi?

Pernyataan itu kemudian ramai diperbincangkan dan dikaitkan dengan ancaman megathrust di selatan Jawa.

Lantas, benarkah wilayah selatan Jawa memiliki potensi gempa hingga M8,8? Apakah gempa tersebut juga bisa memicu tsunami setinggi 20 meter?

Ancaman gempa besar di selatan Jawa bukan informasi baru. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama para ahli kebencanaan telah berulang kali mengingatkan soal keberadaan zona megathrust di sekitar Indonesia.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 zona megathrust yang tersebar di Indonesia. Salah satunya adalah Zona Megathrust Jawa yang memiliki potensi magnitudo maksimum hingga M9,1.

Selain itu, terdapat pembagian segmen Jawa bagian barat dengan potensi maksimum M8,9 dan Jawa bagian timur yang juga mencapai M8,9.

Angka tersebut merupakan hasil kajian mengenai kemampuan sumber gempa, bukan ramalan bahwa gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi pada waktu tertentu.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menjelaskan istilah seismic gap yang kerap muncul dalam pembahasan megathrust.

"Seismic Gap adalah zona sumber gempa aktif yang belum terjadi gempa besar dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun terakhir. Diyakini, sedang dalam proses akumulasi energi gempa," kata Daryono, dikutip Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, kawasan selatan Banten dan Selat Sunda mengalami kekosongan gempa besar sejak 1757 atau sekitar 269 tahun. Sementara wilayah Mentawai-Siberut mengalami seismic gap sejak 1797 atau sekitar 229 tahun.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan wilayah Selat Sunda dan Mentawai-Siberut mendapat perhatian dalam kajian risiko gempa.

Namun, adanya seismic gap tidak berarti gempa besar bisa dipastikan terjadi dalam waktu dekat.

Lalu, dari mana angka M 8,8?

Angka M 8,8 yang beredar di masyarakat perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Magnitudo tersebut bukan angka yang sudah dipastikan akan menjadi kekuatan gempa berikutnya di selatan Jawa. 

Besaran gempa maksimum dalam kajian ilmiah merupakan gambaran kemampuan suatu zona sumber gempa berdasarkan karakteristik tektoniknya.

Para peneliti memperhitungkan sejumlah faktor, seperti panjang zona yang dapat mengalami patahan atau rupture, kondisi lempeng, sejarah gempa, serta bukti geologi.

Karena itu, ketika suatu zona disebut mampu menghasilkan gempa M 8,8, artinya terdapat skenario ilmiah yang menunjukkan zona tersebut dapat menghasilkan gempa sebesar itu dalam kondisi tertentu.

Perlu diketahui, prediksi gempa membutuhkan informasi mengenai kapan gempa terjadi, lokasi sumbernya, serta magnitudo yang akan dihasilkan. Sampai saat ini, belum ada teknologi yang mampu menentukan ketiga hal tersebut secara tepat untuk gempa yang akan datang.

Bagaimana dengan tsunami 20 meter?

Besarnya gempa juga tidak otomatis berarti tsunami akan memiliki ketinggian tertentu. Daryono mengatakan gempa megathrust memang dapat memicu tsunami, tetapi tinggi gelombangnya bergantung pada kondisi saat gempa serta karakteristik wilayah pesisir.

"Kalau pesisir landai, tsunami bisa tinggi. Bisa 4 meter, 5 meter, bisa 20 meter. Gelombang 3 meter itu adalah efek pertama setelah gempa terjadi. Ini berdasarkan pemodelan," jelas Daryono.

Artinya, angka 20 meter merupakan bagian dari pemodelan potensi dampak tsunami, bukan kepastian bahwa seluruh pantai selatan Jawa akan diterjang gelombang setinggi itu.

Tinggi tsunami di setiap wilayah dapat berbeda. Faktor seperti sumber gempa, bentuk dasar laut, kontur pantai, topografi daratan, serta kondisi wilayah yang diterjang ikut menentukan besarnya dampak.

Hal serupa berlaku pada perkiraan jarak genangan tsunami. Angka tertentu tidak bisa digeneralisasi sebagai jarak genangan yang pasti terjadi di seluruh wilayah pesisir Jawa.

Riwayat tsunami di selatan Jawa menunjukkan bahwa ancaman tersebut memang nyata. Tsunami Pangandaran 2006, misalnya, mencapai beberapa meter di sejumlah lokasi dan menerjang cukup jauh ke daratan.

Baca Juga : Tingkatkan Kualitas Infrastruktur, DPUPR Magetan Lebarkan Jalan Bangsri–Nitikan di Titik Rawan Kecelakaan

Karena itu, skenario terburuk digunakan untuk memperkuat kesiapsiagaan, bukan untuk memastikan bencana dengan ukuran tertentu akan terjadi.

Dampaknya sampai wilayah mana?

Potensi gempa di selatan Jawa tidak hanya menjadi persoalan wilayah yang berada tepat di sekitar sumber gempa.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan BMKG memantau seluruh sumber kegempaan di Indonesia, termasuk zona megathrust dan sesar aktif.

"Semua segmen jadi prioritas BMKG. BMKG memantau 24/7 aktivitas kegempaan di seluruh Indonesia. Baik itu yang bersumber dari megathrust maupun dari sesar aktif," kata Wijayanto.

Khusus Selat Sunda, BMKG memang menyebut adanya potensi dampak terhadap Jakarta dan wilayah Jawa Barat.

"Segmen Selat Sunda bisa berpotensi terdampak di wilayah Jakarta. Ini sudah beberapa kali kita sosialisasikan dan koordinasikan dengan pemda, instansi terkait juga," tambahnya.

Mengacu pada Pusgen 2024, segmen Selat Sunda atau Jawa bagian barat memiliki potensi gempa maksimum M8,9.

Namun, dampak guncangan tidak akan sama di setiap daerah. Gempa yang bersumber di selatan Jawa dapat dirasakan di berbagai wilayah Pulau Jawa, tetapi tingkat guncangannya dipengaruhi jarak dari sumber, kekuatan gempa, kedalaman, kondisi tanah, serta karakteristik bangunan.

Sementara itu, ancaman tsunami terutama berkaitan dengan wilayah pesisir. Daerah yang jauh dari pantai tidak otomatis aman dari gempa, tetapi tidak berarti akan terdampak langsung oleh genangan tsunami.

Namun Wijayanto menegaskan masyarakat tidak perlu mengartikan informasi potensi megathrust sebagai kepastian bahwa gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat.

"Sudah berkali-kali juga kita sosialisasikan. Ada ancaman dari sumber megathrust dan sesar aktif. Namun kapan dan di mana secara pasti tidak bisa dipastikan. Belum ada teknologi yang memprediksi gempa secara tepat waktu dan lokasinya," kata Wijayanto.

Menurutnya, Indonesia memang berada di wilayah yang rawan gempa sehingga kesiapsiagaan perlu dilakukan tanpa menunggu adanya prediksi.

"Indonesia adalah daerah rawan gempa. Gempa dapat terjadi kapan saja, gempa belum dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadi secara tepat," tukasnya.

Karena itu, informasi mengenai potensi megathrust sebaiknya tidak membuat masyarakat panik. Justru informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana.

"Masyarakat Indonesia diimbau agar tetap tenang dan waspada serta tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, khususnya yang beredar melalui media sosial," ucap Wijayanto.

Langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain memahami cara menyelamatkan diri saat gempa, mengetahui jalur evakuasi tsunami, memperkuat bangunan, serta memastikan rambu dan jalur evakuasi mudah dikenali.

"Langkah mitigasi yang dapat dilakukan seperti pengetahuan cara selamat, langkah evakuasi, perkuatan bangunan, penguatan rambu evakuasi, dan lain-lain. Informasi resmi mengenai peringatan dini tsunami hanya bersumber dari BMKG, melalui kanal website bmkg.go.id, aplikasi infoBMKG, dan @infoBMKG," jelas Wijayanto.

Jadi, megathrust selatan Jawa memang memiliki kemampuan menghasilkan gempa besar, termasuk dalam skenario kajian hingga sekitar M8,8-M9,1. Tsunami dengan ketinggian puluhan meter juga dapat muncul dalam pemodelan pada kondisi tertentu.

Tetapi angka tersebut bukan ramalan bahwa gempa M8,8 dan tsunami 20 meter pasti terjadi sebelum akhir 2026. Sampai sekarang, waktu, lokasi, dan kekuatan gempa belum dapat diprediksi secara tepat.

Yang perlu dilakukan bukan menunggu "ramalan" gempa, melainkan memahami risiko dan menyiapkan langkah evakuasi sejak sekarang. Semoga informasi ini membantu ya Sobat JatimTIMES.