Semeru Erupsi 5 Kali dalam 7 Jam, Kolom Abu Mencapai 1.000 Meter
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
14 - Sep - 2026, 04:40
JATIMTIMES - Gunung Semeru kembali erupsi pada Senin (14/9/2026). Dalam rentang waktu sekitar tujuh jam, gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami lima kali erupsi dengan kolom abu tertinggi mencapai 1.000 meter di atas puncak.
Petugas Pengamat Gunung Semeru Sigit Rian Alvian melaporkan tiga erupsi pada pagi hari. Erupsi pertama terjadi pukul 04.20 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak atau mencapai sekitar 4.176 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Baca Juga : Praktek Bancakan Jual Beli Kios Milik Pemkab Ngawi, Pedagang Ungkap Transaksi Tembus Puluhan Juta
"Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 128 detik," kata Sigit dalam laporan pengamatan, dikutip dari laman resmi ESDM, Senin (14/9/2026).
Erupsi kedua kembali terjadi pada pukul 05.53 WIB. Kali ini kolom abu teramati setinggi sekitar 800 meter di atas puncak atau sekitar 4.476 mdpl.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke utara dan barat laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan berlangsung selama 133 detik.
Selanjutnya, erupsi ketiga terjadi pada pukul 06.28 WIB. Tinggi kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 mdpl.
"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 140 detik," jelas Sigit.
Aktivitas erupsi berlanjut hingga menjelang siang. Berdasarkan laporan Petugas Pengamat Gunung Semeru Agastya Rajendra, erupsi kembali terjadi pada pukul 09.41 WIB.
Kolom abu teramati sekitar 400 meter di atas puncak atau mencapai sekitar 4.076 mdpl. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke timur.
Erupsi tersebut tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 105 detik.
Sekitar dua jam kemudian, tepatnya pukul 11.40 WIB, Semeru kembali mengalami erupsi. Kali ini kolom abu kembali mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 mdpl.
"Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 105 detik," tulis Agastya dalam laporan pengamatan.
Dengan lima kali erupsi tersebut, aktivitas Semeru pada Senin pagi hingga menjelang siang terpantau cukup tinggi.
Sementara itu, dalam laporan periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, Gunung Semeru tercatat mengalami 31 kali gempa letusan atau erupsi.
Gempa letusan tersebut memiliki amplitudo 10-25 mm dengan lama gempa 60-177 detik.
Selain gempa letusan, petugas juga mencatat empat kali gempa guguran dengan amplitudo 3-8 mm dan durasi 35-50 detik.
Baca Juga : Jurnalis di Lamongan Doa untuk 5 Rekan Hilang Saat Meliput Erupsi Krakatau
"Kemudian terjadi tiga kali gempa hembusan dengan amplitudo 6-8 mm dan lama gempa 44-77 detik," tulis Sigit.
Aktivitas kegempaan lainnya berupa lima kali gempa harmonik dengan amplitudo 2-9 mm dan durasi 170-628 detik.
Petugas juga mencatat satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 28 mm, S-P 9 detik dan durasi 242 detik.
"Secara visual, Gunung Semeru sempat terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-I. Asap kawah utama teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal, dengan tinggi sekitar 200-1.000 meter dari puncak," papar Sigit.
Cuaca di sekitar gunung dilaporkan cerah dengan angin lemah mengarah ke utara dan barat laut. Suhu udara berkisar 19-25 derajat Celsius dengan kelembapan 56-85 persen.
Sebagai informasi, status Gunung Semeru yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur saat ini Level III (Siaga).
Dalam imbauannya, Sigit meminta masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi gunung yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl tersebut.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan itu berpotensi dilanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak," imbau Sigit.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kawasan tersebut masih rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Selain itu, potensi awan panas, guguran lava, dan lahar perlu diwaspadai di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," tutup rekomendasi Sigit.
