Mengenal Job Hugging: Tren Baru Pekerja yang Bertahan di Tengah Ketidakpastian Dunia Kerja

Reporter

Mutmainah J

Editor

Dede Nana

13 - Sep - 2026, 07:45

Ilustrasi job Hugging. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Memiliki pekerjaan tetap ternyata tidak selalu berarti seseorang merasa puas dengan pekerjaannya. Di tengah kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja yang penuh ketidakpastian, sebagian pekerja justru memilih bertahan di posisi yang sebenarnya sudah tidak terlalu mereka sukai.

Fenomena tersebut belakangan dikenal dengan istilah job hugging. Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk mempertahankan pekerjaan yang dimiliki karena merasa pindah ke pekerjaan baru justru membawa risiko yang lebih besar.

Baca Juga : Jatim Diterpa Angin Kencang hingga 48 Km/Jam, Sampai Kapan Terjadi? 

Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi ketika pandangan terhadap perpindahan pekerjaan mulai berubah. Jika sebelumnya job hopping sering dianggap sebagai cara untuk mempercepat perkembangan karier, kini keamanan pekerjaan kembali menjadi pertimbangan utama bagi sebagian pekerja.

Dikutip dari NDTV, job hugging terjadi ketika karyawan tetap berada dalam pekerjaannya meskipun merasa kurang tertantang, tidak terlalu terlibat, atau bahkan tidak bahagia dengan pekerjaan tersebut.

Jadi, istilah ini bukan sekadar menggambarkan orang yang sudah lama bekerja di sebuah perusahaan. Yang menjadi perhatian adalah alasan seseorang memilih untuk tetap bertahan.

Pekerja bisa saja sebenarnya sudah menginginkan perubahan, tetapi urung mengambil langkah karena khawatir dengan kondisi di luar perusahaan. Gaji yang selama ini diterima secara rutin, lingkungan yang sudah dikenal, hingga kepastian posisi membuat pekerjaan lama terasa lebih aman.

Kondisi tersebut berbeda dengan job hopping, yakni kebiasaan berpindah pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, penghasilan, maupun peluang karier yang lebih baik.

Pendiri BoldHR, Rebecca Houghton, menggambarkan situasi tersebut dengan cukup jelas. "Para pekerja tidak 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena mereka menyukainya. Mereka 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena, terus terang, alternatifnya terlihat lebih buruk," kata Rebecca Houghton.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa job hugging lebih berkaitan dengan rasa aman daripada rasa puas terhadap pekerjaan.

Ketidakpastian Membuat Pekerja Berpikir Dua Kali

Dilansir dari News.com.au, banyak pekerja saat ini lebih mengutamakan kepastian penghasilan dibandingkan mengejar peluang baru. Keputusan untuk tidak mengundurkan diri juga tidak selalu berarti seseorang sangat loyal terhadap perusahaan. Bisa jadi, mereka sedang menghitung risiko.

Mencari pekerjaan baru berarti harus menghadapi berbagai kemungkinan. Belum tentu posisi yang ditawarkan benar-benar lebih baik, belum tentu proses rekrutmen berhasil, dan belum tentu pekerjaan baru memberikan rasa aman seperti yang selama ini didapatkan.

Karena itu, pekerjaan yang sudah dimiliki menjadi semacam "zona aman". Meski tidak sempurna, setidaknya pekerja sudah mengetahui lingkungan, tanggung jawab, serta penghasilan yang akan diterimanya.

Lowongan Kerja yang Menyusut Ikut Berpengaruh

Ada alasan ekonomi di balik meningkatnya kecenderungan tersebut. Menurut CNBC, aktivitas perekrutan mengalami perlambatan signifikan dan berada pada level terendah sejak 2013. Ketika perusahaan tidak banyak membuka kesempatan baru, pekerja tentu memiliki lebih sedikit pilihan jika ingin berpindah.

Situasi itu kemudian membuat keputusan untuk mengundurkan diri menjadi lebih berisiko.

Ekonom ketenagakerjaan ZipRecruiter AS, Nicole Bachaud, mengatakan ketidakpastian pasar kerja turut memengaruhi cara pekerja mengambil keputusan.

"Para pekerja menyadari bahwa ketidakpastian pasar saat ini mendorong mereka mempertahankan posisi saat ini," ujar Nicole Bachaud.

Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan jika sebagian pekerja memilih menunda rencana pindah kerja sembari melihat perkembangan pasar.

Bertahan memang bisa menjadi pilihan yang masuk akal. Namun, persoalan dapat muncul ketika seseorang terus berada dalam pekerjaan yang tidak sesuai hanya karena takut menghadapi perubahan.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Minggu Pon 13 September 2026: Awas Dibohongi

Psikolog klinis Dr Kaitlin Harkess mengingatkan bahwa rasa aman yang diperoleh dari job hugging dapat berubah menjadi persoalan apabila berlangsung dalam jangka panjang.

"Pekerjaan dan lingkungan kerja yang tidak sesuai dapat mengikis kepercayaan diri dan motivasi. Mulai dari kehilangan keterlibatan hingga burnout, kesehatan kita ikut terdampak," ujar Dr Harkess.

Artinya, pekerjaan yang awalnya hanya terasa membosankan atau tidak memuaskan dapat memberikan dampak lebih luas apabila seseorang tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Dr Harkess juga menyoroti peran rasa takut dan sunk cost. Seseorang yang sudah terlalu lama bertahan bisa merasa bahwa meninggalkan pekerjaan berarti menyia-nyiakan waktu dan pengalaman yang telah dibangun.

"Dari sudut pandang psikologis, bahayanya adalah semakin lama seseorang bertahan karena rasa takut dan sunk cost, semakin merasa tidak berdaya dan terjebak," katanya.

Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan depresi, turunnya rasa percaya diri, serta semakin sulitnya seseorang mengambil keputusan untuk mencari perubahan.

Meski demikian, tidak semua pekerja yang memilih tetap berada di perusahaan yang sama bisa disebut melakukan job hugging. Ada orang yang memang sengaja mempertahankan pekerjaan karena pekerjaan tersebut memberikan sesuatu yang penting dalam kehidupannya.

Contohnya, pekerjaan yang stabil memungkinkan seseorang memiliki waktu untuk keluarga, mengurus kegiatan pribadi, melanjutkan pendidikan, atau menjalankan minat di luar pekerjaan.

Dalam situasi seperti ini, bertahan merupakan sebuah pilihan yang disadari. Seseorang mungkin tidak sepenuhnya menyukai pekerjaannya, tetapi tetap menganggap manfaat yang diperoleh sepadan dengan ketidaknyamanan yang ada. Inilah yang membedakannya dengan job hugging yang dianggap tidak sehat.

Dari luar, orang yang bertahan karena pilihan dan orang yang bertahan karena ketakutan mungkin terlihat sama. Keduanya sama-sama tidak mengundurkan diri. Namun secara psikologis, keduanya berada dalam situasi yang berbeda.

Seseorang yang bertahan karena pekerjaan tersebut mendukung tujuan hidupnya masih memiliki kendali atas keputusannya. Sebaliknya, orang yang bertahan karena merasa tidak sanggup menghadapi ketidakpastian bisa semakin merasa terperangkap.

"Perilaku ini mungkin terlihat sama dari luar, tetapi motivasi psikologis di baliknya, yakni antara rasa takut dan pilihan, membuat perbedaan besar terhadap kualitas hidup," ujar Dr Harkess.

Karena itu, job hugging tidak semata-mata bisa diukur dari berapa lama seseorang bekerja di satu perusahaan. Hal yang lebih penting adalah memahami mengapa seseorang memilih tetap tinggal.

Di tengah pasar kerja yang belum sepenuhnya stabil, bertahan di pekerjaan bisa menjadi keputusan yang rasional. Namun, jika rasa takut terhadap perubahan mulai menghalangi seseorang untuk berkembang dan berdampak pada kesejahteraan diri, kondisi tersebut layak dievaluasi kembali.