Ekspor Jatim Menurun, Nilai Perdagangan ke ASEAN Justru Menguat

12 - Sep - 2026, 03:55

Aktivitas bongkar muat peti kemas di salah satu terminal pelabuhan di Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Kinerja ekspor Jawa Timur (Jatim) sepanjang Januari hingga Juli 2026 mengalami tekanan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor provinsi ini mencapai US$16,08 miliar, turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$16,99 miliar.

Penurunan tersebut terjadi baik pada ekspor nonmigas maupun migas. Ekspor nonmigas tercatat turun 4,43 persen dari US$16,64 miliar menjadi US$15,90 miliar, sedangkan ekspor migas merosot lebih dalam hingga 48,07 persen, dari US$349,45 juta menjadi US$181,47 juta.

Baca Juga : Polemik Bendungan Lahor Berujung Kekerasan, Anggota Dewan Zulham Alami Luka-Luka

Plt Kepala BPS Provinsi Jatim, Herum Fajarwati mengatakan tekanan ekspor sepanjang periode tersebut terutama terlihat dari turunnya sejumlah komoditas utama. Salah satu yang mengalami penurunan paling dalam adalah kelompok perhiasan dan permata.

“Penurunan ekspor Jawa Timur terutama dipengaruhi oleh melemahnya beberapa komoditas utama, termasuk perhiasan dan permata yang mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Herum.

Berdasarkan catatan BPS, nilai ekspor komoditas perhiasan dan permata sepanjang Januari-Juli 2026 turun 54,17 persen menjadi US$1,73 miliar. Komoditas tersebut menjadi salah satu penopang utama ekspor nonmigas Jawa Timur pada periode sebelumnya.

Namun, tidak seluruh komoditas mengalami pelemahan. Tembaga justru mencatat pertumbuhan paling tinggi di antara sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar Jawa Timur, dengan kenaikan 39,51 persen menjadi US$2,08 miliar.

Pasar Tiongkok dan Thailand menjadi tujuan utama ekspor tembaga Jawa Timur. Nilai ekspor tembaga ke Tiongkok mencapai US$565,08 juta, sementara ke Thailand sebesar US$562,13 juta.

“Di tengah penurunan total ekspor, masih terdapat komoditas yang menunjukkan pertumbuhan positif. Tembaga menjadi salah satu komoditas yang mencatat peningkatan cukup kuat dan memberikan kontribusi terhadap ekspor nonmigas Jawa Timur,” imbuh Herum.

Selain tembaga, ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati juga tumbuh 28,41 persen menjadi US$1,67 miliar. Ekspor olahan ikan, krustasea, dan moluska turut meningkat 17,04 persen menjadi US$503,70 juta.

Dari sisi pasar, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Timur. Sepanjang Januari-Juli 2026, nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai US$2,70 miliar atau berkontribusi 16,99 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai ekspor US$2,39 miliar. Komoditas yang banyak dikirim ke Negeri Paman Sam antara lain ikan, krustasea dan moluska; olahan ikan; perabotan, lampu dan alat penerangan; serta kayu dan barang dari kayu.

Baca Juga : Anggota DPRD Kabupaten Malang Zulham Mubarrok Alami Kekerasan Fisik Buntut Polemik Bendungan Lahor

Sementara itu, aktivitas perdagangan Jawa Timur dengan kawasan ASEAN menunjukkan perkembangan positif. Nilai ekspor nonmigas ke kawasan tersebut mencapai US$3,55 miliar, tumbuh 11,19 persen dibandingkan Januari-Juli 2025.

“Pasar ekspor Jawa Timur tidak sepenuhnya mengalami kontraksi. Beberapa kawasan justru menunjukkan peningkatan, salah satunya ASEAN. Ini menunjukkan adanya pasar tujuan yang masih mampu menopang kinerja ekspor Jawa Timur,” tambah Herum.

Ekspor ke kawasan Uni Eropa juga tumbuh 9,24 persen menjadi US$1,08 miliar. Secara keseluruhan, ekspor nonmigas Jawa Timur ke 13 negara atau wilayah tujuan mencapai US$11,54 miliar atau sekitar 72,55 persen dari total ekspor nonmigas.

Meski demikian, secara sektoral sektor industri pengolahan yang menjadi tulang punggung ekspor Jawa Timur masih mengalami penurunan. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$15,22 miliar atau turun 3,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan juga terjadi pada sektor pertanian yang mencatat ekspor US$656,36 juta atau turun 18,69 persen. Sementara sektor pertambangan dan lainnya turun 31,84 persen menjadi US$23,63 juta.

Tekanan ekspor juga terlihat pada kinerja bulanan. Pada Juli 2026, nilai ekspor Jawa Timur tercatat US$2,65 miliar atau turun 9,15 persen dibandingkan Juli 2025. Ekspor nonmigas pada bulan yang sama mencapai US$2,64 miliar, turun 7,94 persen secara tahunan.

Dengan kondisi tersebut, BPS melihat perkembangan ekspor Jawa Timur masih dipengaruhi oleh pergerakan komoditas utama sekaligus perubahan permintaan dari negara tujuan. Penguatan sejumlah komoditas dan pasar ekspor menjadi salah satu faktor yang dapat menjadi penahan di tengah pelemahan ekspor secara keseluruhan.