Tren Foto AI Gaya 80-an Viral, Benarkah Bikin Boros Air?
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
12 - Sep - 2026, 03:14
JATIMTIMES - Tren mengubah foto menjadi potret bergaya tahun 1980-an dengan bantuan artificial intelligence (AI) sedang ramai di media sosial. Cukup memasukkan foto dan perintah tertentu, pengguna bisa mendapatkan hasil dengan nuansa retro dalam waktu singkat.
Di tengah tren tersebut, beredar narasi yang mengkhawatirkan. Disebutkan bahwa satu kali perintah atau prompt AI membutuhkan air sebanyak dua botol air mineral.
Baca Juga : Persija Vs Persib Main Jam Berapa? Cek Jadwal dan Siaran Langsungnya
Klaim itu kemudian diluruskan oleh akun Instagram @voxnetizens melalui sebuah video. Menurut penjelasan dalam video tersebut, angka dua botol air tidak tepat jika digunakan untuk menggambarkan kebutuhan air dalam satu prompt AI.
"Jujur lagi rame banget di platform sebelah yang bilang kalau 1 kali prompt AI ngabisin 2 botol air mineral. Sebelum pada panik dan akhirnya berhenti pakai AI, minat bantu lurusin faktanya dulu yuk," ujar @voxnetizens, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Ia menjelaskan, angka 500 mililiter air yang kerap dikaitkan dengan penggunaan AI berasal dari riset lama. Namun, angka tersebut bukan untuk satu pertanyaan.
"Angka 2 botol aqua itu jujur salah konteks banget ya. Karena itu dari riset lama yang bilang kalau sekitar 500 ml air buat 20-50 pertanyaan. Bukan 1 prompt doang," jelasnya.
Jika angka tersebut dihitung berdasarkan jumlah pertanyaan, kebutuhan airnya tentu jauh lebih kecil dibandingkan klaim dua botol untuk satu prompt.
"Jadi kalau dibagi per prom, mungkin cuma sekitar 2-5 sendok teh air, bukan 1 botol penuh," lanjutnya.
Perkembangan penelitian mengenai konsumsi air AI juga menunjukkan angka yang berbeda.
Dalam video tersebut dijelaskan, data yang lebih baru memperkirakan penggunaan air Google Gemini sekitar 0,26 mililiter untuk setiap prompt. Jumlah itu digambarkan kurang lebih hanya sebanyak lima tetes air.
"Data lebih baru justru bilang kalau Google Gemini memakan 0,26 ml per prom. Kurang lebih kayak 5 tetes air gitu ya," katanya.
Sementara itu, penggunaan air yang dikaitkan dengan OpenAI disebut berada di kisaran 0,3 mililiter untuk setiap prompt. "Dan OpenAI sekitar 0,3 ml per prom," lanjutnya.
Dengan angka tersebut, penggunaan AI untuk satu kali percakapan maupun membuat sebuah gambar tidak bisa disamakan dengan menghabiskan satu botol air mineral. "Jadi sekali nge-chat itu gak bakalan bikin galon jebol kok," ujarnya.
Lantas, dari mana kebutuhan air dalam penggunaan AI tersebut berasal?
Air yang dikaitkan dengan teknologi AI bukan berarti chatbot secara langsung menggunakan air. Kebutuhan tersebut muncul dari infrastruktur yang menjalankan layanan AI, terutama pusat data.
Server yang menjalankan model AI bekerja dengan beban komputasi tinggi dan menghasilkan panas. Sistem pendingin kemudian diperlukan agar perangkat dapat beroperasi dengan aman.
"AI itu haus bukan karena chatbotnya minum air. Tapi karena server AI yang panas banget," kata @voxnetizens.
Air digunakan dalam sejumlah sistem pendinginan pusat data. Selain itu, kebutuhan air juga berkaitan dengan pembangkitan listrik yang digunakan untuk menjalankan infrastruktur tersebut.
"Air dipake buat pendinginan server dan pembangkit listrik," jelasnya.
Ia sekaligus menjelaskan bahwa penggunaan air tersebut bukan berarti air dituangkan langsung ke perangkat komputer. "Jadi bukan air dituang ke komputer ya IT people," katanya.
Secara sederhananya, AI membutuhkan komputer dengan kemampuan pemrosesan tinggi. Ketika bekerja, terutama saat melatih atau menjalankan model berukuran besar, perangkat tersebut menghasilkan panas dalam jumlah besar.
Pusat data yang menjadi tempat server-server tersebut beroperasi membutuhkan sistem untuk membuang panas. Sebagian fasilitas menggunakan air sebagai bagian dari proses pendinginan.
Kebutuhan air juga tidak berhenti pada pendinginan server. AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar, sementara pembangkitan listrik pada jenis pembangkit tertentu juga membutuhkan air.
Artinya, ketika seseorang menggunakan layanan AI, jejak airnya bisa berasal dari dua sisi. Ada penggunaan langsung di pusat data dan ada juga penggunaan tidak langsung yang berkaitan dengan penyediaan listrik.
Data International Energy Agency (IEA) yang dikutip dalam kajian mengenai jejak air pusat data menunjukkan konsumsi tidak langsung dari pembangkitan listrik dapat menjadi bagian yang lebih besar dibandingkan penggunaan langsung untuk pendinginan.
Baca Juga : Bansos Beras 30 Kg Cair September 2026, Benarkah? Ini Fakta dan Cara Cek Penerimanya
Pada 2023, konsumsi air pusat data secara global diperkirakan mencapai sekitar 560 miliar liter. Dari jumlah tersebut, sekitar 373 miliar liter berkaitan dengan penggunaan tidak langsung untuk pembangkitan listrik, sedangkan sekitar 140 miliar liter digunakan secara langsung di fasilitas pusat data.
Lantas, apakah setiap kali seseorang bertanya kepada AI berarti sejumlah air dalam jumlah tertentu langsung habis?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Sejumlah penelitian memang mencoba menghitung jejak air dari aktivitas AI. Namun, hasilnya bisa berbeda karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari jenis dan ukuran model, panjang perintah, lokasi pusat data, kondisi cuaca, teknologi pendinginan hingga sumber listrik yang digunakan.
Penelitian yang dipimpin peneliti dari University of California, Riverside, misalnya, pernah memperkirakan proses pelatihan model AI besar seperti GPT-3 di pusat data tertentu dapat secara langsung menguapkan sekitar 700.000 liter air tawar.
Penelitian tersebut juga memperkirakan permintaan AI secara global berpotensi mencapai 4,2-6,6 miliar meter kubik penggunaan air pada 2027 jika pertumbuhannya terus berlangsung.
Namun, angka tersebut merupakan hasil estimasi berdasarkan metode dan asumsi tertentu. Karena itu, angka penggunaan air untuk satu pertanyaan atau satu percakapan tidak bisa dianggap sebagai patokan mutlak untuk seluruh layanan AI.
Perbedaan teknologi pusat data dan sumber energi yang digunakan dapat membuat jejak air satu layanan berbeda dengan layanan lainnya.
Lalu, apakah perkembangan AI bisa sampai menghabiskan air di Bumi?
Secara sederhana, tidak. AI tidak membuat air di planet ini hilang begitu saja. Air tetap bergerak melalui siklus hidrologi, mulai dari penguapan, pembentukan awan, hujan, aliran menuju sungai dan laut, hingga kembali menguap.
Yang menjadi persoalan adalah ketersediaan air tawar yang bisa digunakan manusia di tempat dan waktu tertentu.
Air yang digunakan untuk pendinginan pusat data, misalnya, dapat mengalami penguapan sehingga tidak langsung tersedia kembali bagi sumber air setempat. Dampaknya pun sangat bergantung pada kondisi wilayah tempat fasilitas tersebut berada.
Di daerah dengan sumber air melimpah, penggunaan dalam jumlah tertentu tentu memiliki konsekuensi berbeda dibandingkan wilayah yang sedang mengalami kekeringan atau menghadapi tekanan terhadap sumber daya air.
Karena itu, persoalan jejak air AI tidak cukup dilihat dari total konsumsi global. Lokasi pusat data juga menjadi bagian penting dalam menghitung dampaknya.
Sebuah pusat data mungkin hanya menyumbang porsi kecil jika dibandingkan dengan seluruh penggunaan air dunia. Namun, peningkatan kebutuhan air di sekitar fasilitas bisa menjadi persoalan tersendiri apabila sumber air masyarakat setempat terbatas.
Kabar baiknya, penggunaan AI tidak otomatis harus diikuti penggunaan air dalam jumlah besar.
Pengelola pusat data dapat menggunakan berbagai teknologi untuk mengurangi kebutuhan air. Pilihannya antara lain sistem pendinginan berbasis udara, liquid cooling, pemanfaatan air daur ulang hingga sistem pendinginan tertutup yang memungkinkan air digunakan kembali.
Sejumlah desain pusat data modern bahkan dikembangkan untuk mengurangi atau menghilangkan kebutuhan air dalam proses pendinginan langsung.
Meski begitu, tidak ada satu solusi yang otomatis menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan. Sistem pendinginan tertentu, misalnya, bisa membutuhkan listrik lebih besar.
Karena itu, ketika membicarakan AI yang lebih ramah lingkungan, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa banyak air yang digunakan server. Sumber listrik, efisiensi perangkat, lokasi pusat data dan teknologi pendinginan juga ikut menentukan seberapa besar jejak lingkungan dari layanan AI.
Jadi, klaim bahwa AI akan membuat air di Bumi habis tidak tepat. Yang perlu diperhatikan justru bagaimana kebutuhan komputasi yang terus meningkat memengaruhi penggunaan air tawar dan energi, terutama di wilayah yang sumber dayanya terbatas.
