Dokter Menduga Bakteri MBG Berastagi Masuk Saat Penyajian dan Distribusi

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

09 - Sep - 2026, 11:06

Ilustrasi pegawai SPPG saat memasukkan makanan ke ompreng MBG. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Baru-baru ini hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, beredar di media sosial. Dari hasil pemeriksaan itu ditemukan sejumlah bakteri pada sampel makanan yang dikonsumsi siswa.

Ada tiga jenis bakteri yang ditemukan, yakni Bacillus cereus, Staphylococcus aureus (S. aureus) dan Escherichia coli (E. coli). Hasil pemeriksaan tersebut juga menunjukkan S. aureus ditemukan pada sampel muntahan siswa. Sementara pemeriksaan Salmonella pada sampel yang diuji disebut negatif.

Baca Juga : Doa agar Terhindar dari Keracunan Makanan, Lengkap Arab dan Artinya

Dokter Umum yang juga Owner Get Beauty dr Gregory Budiman ikut mencermati hasil laboratorium yang beredar. Melalui akun Threads pribadinya, dia mencoba menelusuri kemungkinan titik masuknya bakteri ke makanan.

"Bukti Titik Kontaminasi: Sampel pertinggal di dapur yang 100% negatif membuktikan proses pemanasan berhasil membunuh bakteri awal. Ini memastikan kontaminasi silang (cross-contamination) terjadi di fase distribusi atau penyajian," tulis dr Gregory.

Menurutnya, temuan bakteri pada masing-masing makanan memberikan petunjuk berbeda.
Pada nasi, misalnya, ditemukan Bacillus cereus. Bakteri ini berkaitan dengan makanan berkarbohidrat seperti nasi, terutama jika makanan terlalu lama berada pada suhu ruang.

"Indikator Kegagalan Sanitasi: Bacillus cereus pada nasi adalah indikator waktu dan suhu (disimpan di suhu ruang terlalu lama)," tulisnya.

Kemudian ada S. aureus pada ikan dan saus. Bakteri tersebut bisa berasal dari manusia dan berpindah ke makanan saat proses penanganan.

"S. aureus pada saus ikan mengindikasikan paparan dari lesi kulit, cairan pernapasan, atau luka terbuka," tulis dr Gregory.

S. aureus juga ditemukan dalam sampel muntahan siswa. Bakteri tersebut diketahui dapat menghasilkan racun yang menyebabkan keracunan makanan, dengan gejala antara lain mual, muntah, sakit perut dan diare.

Sedangkan E. coli ditemukan pada sampel melon. "E. coli pada melon segar adalah indikator pasti dari sanitasi tangan yang buruk (rute fecal-oral)," tulisnya.

Dr Gregory kemudian menyoroti proses pengemasan makanan. Menurut dia, tahap pemindahan makanan dari wadah besar ke ratusan ompreng bisa menjadi salah satu titik yang perlu diperiksa.

Dia menjelaskan sampel pertinggal biasanya diambil dari makanan yang masih berada di panci besar di dapur. Setelah itu makanan dipindahkan ke wadah-wadah untuk dibagikan.

"Kontaminasi Saat Pengemasan (Plating): Sampel pertinggal biasanya diambil langsung dari panci besar di dapur sehingga hasilnya bersih. Namun, saat makanan dipindahkan dari panci ke dalam ratusan ompreng secara massal, pekerja yang bertugas mengemas mungkin tidak menggunakan sarung tangan medis, memiliki luka, atau tidak mencuci tangan setelah dari toilet," tulisnya.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Wage 9 September 2026: Hari Baik tuk Berbagai Kegiatan

Unggahan dr Gregory itu kemudian mendapat berbagai tanggapan dari warganet.

"S. aureus bakteri umum penyebab keracunan makanan, dan banyak ditemukan pada tangan, hidung, dan mulut manusia. Kalau melihat seperti ini sepertinya petugas sppg tidak menjaga kebersihan tangan atau tidak memakai sarung tangan bersih, mungkin tidak pakai masker atau sesuatu yang menjaga air liur mengkontaminasi makanan. Salam jumpa lagi dr. Greg.," tulis akun @abi*****.

Ada pula warganet yang mempertanyakan validitas sampel pertinggal dari dapur. "Sampel dr dapur apakah 100% bener aslinya? Metode pengambilannya seperti apa? Setelah kejadian di ambil atau tiap masak sample di kirim dan dicek?," tulis akun @ian*****. 

Komentar lain mempertanyakan kemungkinan makanan terkontaminasi cairan pernapasan pekerja.

"'Cairan pernapasan' Berliur gt makanannya? Ini kalo org sppg bukan org yg paham kebersihan, ya jd nya kayak gini. Aku meskipun bukan org kitchen profesional, tp kalo masak d rumah hati2 banget. Jgn smp ada bahan makanan berjamur, udh kelewat lama, salah penyimpanan, kotor, gak dicuci bersih. Masak kudu bener2 matang, higienis. Ini sppg dibayar pake pajak rakyat malah ngebunuh rakyat," tulis akun @christina*****.

Sebagaimana diberitakan, insiden keracunan MBG terjadi pada Kamis (13/8/2026). Sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Berastagi dan sekolah lain di Kabupaten Karo mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Data penanganan medis Pemerintah Kabupaten Karo pada 14 Agustus 2026 mencatat ratusan pasien mendapat perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Di RS Efarina Etaham tercatat 101 pasien, RSU Kabanjahe 35 pasien, RS Amanda Raya Berastagi 212 pasien, serta lima pasien di RS Mina Kabanjahe.

Kasus tersebut juga tidak hanya melibatkan siswa SMAN 1 Berastagi. Sejumlah siswa dari sekolah lain di kawasan Berastagi turut mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG. 

Bahkan hingga kini ada 3 siswa yang masih memerlukan perawatan medis lebih lanjut, karena hilang ingatan, gagal ginjal hingga jantung.