Viral Kritik Logo HUT 667 Probolinggo Diduga Pakai AI, Tak Ada Anggarannya?
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
02 - Sep - 2026, 03:05
JATIMTIMES - Baru-baru ini logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-667 Probolinggo menjadi sorotan di media sosial. Logo tersebut dikritik karena diduga dibuat menggunakan artificial intelligence (AI) dan dinilai memiliki sejumlah kejanggalan pada elemen desainnya.
Kritik itu disampaikan oleh Creative Director & Brand Designer asal Malang Adnan MP melalui unggahannya di Instagram. Ia mempertanyakan proses pembuatan logo HUT ke-667 Probolinggo, terutama setelah melihat file sumber dan sejumlah bagian desain yang dinilai kurang rapi.
Baca Juga : Peziarah Ampel Resah Diganggu Anjal, Wali Kota Eri Perintahkan Satpol PP Perketat Pengawasan
Dalam unggahannya, Adnan menyebut dirinya yakin logo tersebut merupakan hasil AI. Ia kemudian menjelaskan sejumlah alasan yang menjadi dasar dugaannya.
"Sudah pasti buatan AI. Kenapa kok aku bisa seyakin itu? Probolinggo merilis logo hari jadi ke-667 dan ini adalah hasil logonya," ujarnya.
Menurutnya, salah satu ciri yang membuatnya menduga logo tersebut dibuat dengan AI adalah bentuk visualnya yang terlihat sangat realistis. Ia juga menyinggung persoalan ketika hasil AI hendak diubah menjadi desain vektor.
"Karena biasanya ciri khas dari AI itu bentuknya itu realis banget. Output dari hasil AI itu pasti berupa JPEG dan kalau mau dijadiin vector ya susah, harus bikin manual lagi," katanya.
Ia menduga logo tersebut tidak dibuat ulang secara manual. Dugaan itu, menurutnya, semakin kuat setelah melihat source file yang disebut berkaitan dengan aset logo.
"Dan aku yakin nggak mungkin dibikin ulang manual. Ini kan kebetulan ada source file-nya nih. Nah ini ada filosofi aset logo JPEG PNG-nya. Ya bisa dilihat sendiri," tuturnya.
Dalam video tersebut, ia kemudian menunjukkan beberapa bagian logo yang menurutnya masih terlihat tidak rapi. Salah satunya terdapat pada bagian bawah logo.
"Masih banyak, nggak rapi. Apalagi yang bagian bawah nih," ujarnya.
Ia juga menyoroti bagian emblem yang disebut masih tampak seperti belum dipotong dengan sempurna. Selain itu, terdapat bagian gambar yang menurutnya terlihat pecah.
Tak hanya elemen utama, ia turut membandingkan logo yang digunakan dengan gambar pada bagian penjelasan filosofi logo. Menurutnya, terdapat perbedaan bentuk antara logo utama dan visual yang ditampilkan dalam penjelasan tersebut.
"Ditambah lagi ada penjelasan filosofi. Yang di mana di bagian filosofinya pun logonya beda lagi," ucapnya.
Salah satu yang disorot adalah angka 667. Ia menilai bentuk angka tersebut tidak konsisten dengan logo utama. "Ini 667-nya kayak gini. Tiba-tiba berbeda dengan bentuk logo," ujarnya.
Elemen lain yang menjadi sorotan adalah gambar ombak. Ia menilai arah ombak pada logo tidak sesuai dengan gambar pembanding yang ditunjukkannya. "Ada ombak. Ombaknya pun ngadep kanan. Ini padahal ngadep kiri di sini," katanya.
Ia kemudian mengkritisi bentuk gunung yang disebut merepresentasikan Gunung Bromo. "Masih belum bentuk Bromo-nya sendiri. Padahal Bromo-nya ya nggak kayak gini. Mana ada Gunung Bromo kayak gini," ujarnya.
Ia lantas menunjukkan bentuk Gunung Bromo yang menurutnya lebih sesuai. "Nah, Gunung Bromo kan gini," katanya.
Elemen lain yang ikut dipertanyakan adalah motif batik. Ia mengaku tidak mengetahui motif yang digunakan dalam logo tersebut.
"Batik. Batik apa ini? Nggak tahu, nggak ada batik," ujarnya.
Meski begitu, ia mengatakan kritik tersebut disampaikan dengan harapan ekosistem desain dan seni di Probolinggo bisa semakin berkembang.
"Ini aku (kritik) sebagai bentuk cinta lah sama Probolinggo. Biar ekosistem desain dan seni ini di Probolinggo itu maju gitu loh," katanya.
Baca Juga : 500 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Ini Menu yang Dikonsumsi hingga Keluhan Muncul
"Ya, itu untuk yang HUT 667 Probolinggo. Maksud saya, langsung aja ya," sambungnya.
Dalam keterangan unggahannya, @adnanmp kembali mempertanyakan penggunaan AI dalam pembuatan logo tersebut.
"Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba Kota Probolinggo merilis logo HUT KE 667 yang bisa temen2 liat yakkk hasil BUATAN AI, karena terlihat jelas hasilnya warna dan bentuk khas AI, source file vector gak ada, PNG nya pun berantakan," tulisnya.
Ia juga menyinggung keberadaan desainer lokal yang dinilainya memiliki kemampuan untuk mengerjakan identitas visual daerah.
"Padahal gak sedikit desainer asli probolinggo yang berbakat. Atau mungkin mau diarahkan jadi kota AI? Gimana menrutmu jeh?" tulisnya.
Unggahan tersebut kemudian memancing beragam komentar dari warganet. Salah satu pengguna Instagram @frmny*** menyoroti persoalan penggunaan AI apabila dilakukan oleh instansi pemerintah.
"sya bukan yg anti ai, klo buat personal yg pke ai krna Ibih murah its okey, tp klo buat instansi yg di dlamnya jlas ada anggarannya sngat di sayangkan, menggunakan ai untuk sbuah instansi itu mnunjukkan sangat ke-tidak-profesional-annya," tulisnya.
"apalagi kalo ternyata sampek ini di anggarin wahhh gak paham sih harus berkata (apa)," tulis seorang warganet.
Sementara itu, warganet lainnya justru menganggap kritik terhadap logo tersebut sebagai hal yang diperlukan. "Nah, aku suka kerusuhan ini! Emang kalo ga dikritik tuh rada-rada budheg," tulisnya.
Ada pula warganet yang tidak mempersoalkan penggunaan AI selama dilakukan secara tepat. Namun, ia menilai hasil akhirnya tetap harus melalui proses desain dan riset yang memadai.
"gua pribadi sih ga masalah kalo orang orang pada pake Al buat efisiensi, cuma caranya itu loh, kunoo parah, Asal prompt," tulis @zakii***.
Ia juga menyinggung dampak penggunaan AI secara berlebihan terhadap proses berpikir dan pencarian referensi.
"Dan jangan salah, ada research kalo kita make habbit ini terus, otak jadi kehilangan referensi, dan ga bekerja secara sistematis, ada penelitiannya kok," lanjutnya.
Warganet lain turut mengaku menggunakan AI, tetapi menilai teknologi tersebut seharusnya dipakai sesuai kebutuhan dan tidak menggantikan keseluruhan proses kreatif.
"Aku sendiri juga pakek Al, tapi ya sesuai kebutuhan aja, ini prompt bener2 basic sepertinya ya sudah hasilnya gitu," tulisnya.
Hingga kini, kritik di media sosial tersebut menjadi perbincangan di kalangan warganet. Belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Probolinggu soal dugaan penggunaan AI pada logo HUT 667 itu.
