El Nino Menguat, Malang Raya Waspadai Kekeringan hingga Oktober

18 - Aug - 2026, 06:12

Pemandangan perkotaan Kota Malang. (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Masyarakat di Jawa Timur khususnya di Malang Raya diminta mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan seiring penguatan fenomena El Nino pada 2026. Kondisi tersebut berpotensi menekan ketersediaan air, terutama hingga puncak dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sampai sekitar pertengahan Oktober.

Prakirawan BMKG Karangploso Malang, Linda Fitrotul, mengatakan El Nino saat ini menunjukkan kondisi yang lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena tersebut diprediksi masih bertahan hingga awal 2027.

Baca Juga : Aksi BEM UI Diblokade di Sudirman, Mahasiswa Cekcok dengan Kapolres soal Larangan ke Bundaran HI

“Secara kondisi, El Nino saat ini menunjukkan penguatan dan diprediksi masih bertahan hingga awal 2027,” kata Linda, Selasa (18/8/2026).

Meski berlangsung hingga awal tahun depan, Linda menyebut pengaruh El Nino yang paling terasa di Indonesia diperkirakan terjadi selama musim kemarau 2026.

“Dampak yang signifikan terhadap Indonesia terutama diperkirakan terjadi selama periode musim kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober 2026,” jelasnya.

Penguatan El Nino dapat berpengaruh terhadap pola curah hujan. Sejumlah wilayah berpotensi mengalami penurunan hujan sehingga kondisi tanah menjadi lebih kering dan ketersediaan sumber air ikut berkurang.

Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan pemantauan BMKG Karangploso, sebagian besar wilayah di provinsi tersebut diperkirakan menghadapi potensi kekeringan selama musim kemarau.

Daerah yang perlu mendapat perhatian mencakup Bangkalan, Kota Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Jember, Lamongan, Madiun, Magetan, Kota Malang, Kabupaten Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Trenggalek, Tuban hingga Tulungagung.

Baca Juga : TNBTS Kembali Dibuka 20 Agustus 2026, Karhutla Bromo Capai 1.120 Hektare

“Hampir seluruh wilayah Jawa Timur diprediksi rawan kekeringan sehingga perlu diwaspadai, khususnya selama periode kemarau,” imbuh Linda.

Ancaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air masyarakat. Berkurangnya curah hujan dan kondisi lahan yang semakin kering juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air, termasuk untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, diminta melakukan langkah antisipasi sejak dini.

“Yang perlu dilakukan masyarakat adalah mulai menghemat penggunaan air. Gunakan air sesuai kebutuhan dan hindari pemborosan, terutama ketika memasuki periode dengan curah hujan yang rendah,” imbau Linda.