Makna Kemerdekaan di Mata Kepala MAN 1 Kota Malang: Bukan Sekadar Upacara, tetapi Perjuangan Melahirkan Generasi Mandiri

17 - Aug - 2026, 08:09

Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Malang, Dr. H. Sutirjo, M.Pd (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak cukup dimaknai sebatas seremoni tahunan. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, semangat kemerdekaan justru dituntut hadir dalam bentuk kemampuan beradaptasi, berinovasi, serta membangun kemandirian generasi muda.

Pandangan itu disampaikan Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Malang, Dr. H. Sutirjo, M.Pd. Menurutnya, dunia pendidikan, khususnya madrasah, memiliki tantangan baru untuk menerjemahkan semangat perjuangan para pendiri bangsa ke dalam konteks kehidupan generasi saat ini.

Baca Juga : Aturan MBG Diperketat, Pengusaha SPPG Hadapi Risiko Suspend

Sutirjo menilai, digitalisasi telah mengubah cara generasi muda belajar, berkomunikasi, dan menghadapi persoalan. Karena itu, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan secara lebih transformatif.

“Dengan dinamika perubahan, sekarang sudah digitalisasi semua. Maka khususnya di madrasah tentu harus memaknai sebuah perjuangan kemerdekaan dengan cara-cara yang lebih transformatif,” ujarnya, Senin (17/8/2026).

Menurut dia, transformasi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Lebih jauh, transformasi harus melahirkan kemampuan untuk bergerak cepat menghadapi perubahan tanpa kehilangan produktivitas dan karakter kebangsaan.

Ia menekankan pentingnya akselerasi, soliditas, dan kolaborasi di lingkungan pendidikan. Namun, seluruh perubahan tersebut tetap harus memiliki pijakan pada kultur dan budaya bangsa Indonesia.

“Transformatif berarti akselerasi, konteksnya bagaimana kita menyikapi perubahan yang cepat ini dengan tetap produktif. Tetap kita membangun soliditas, kolaborasi, bahwa semua harus tetap berpijak pada kultur dan budaya bangsa Indonesia,” tegasnya.

Bagi Sutirjo, tantangan tersebut semakin relevan karena madrasah kini berhadapan dengan karakter generasi yang berbeda. Generasi Z dan Generasi Alpha, menurutnya, membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak berhenti pada pola-pola konvensional.

Karena itu, peringatan kemerdekaan tidak seharusnya hanya berhenti pada upacara dan atribut perayaan. Semangat kemerdekaan perlu diterjemahkan ke dalam ruang pendidikan yang mendorong inovasi, kreativitas, sekaligus integritas.

“Memaknai HUT RI tidak hanya semata-mata upacara, tapi harus berbasis inovasi, kreativitas, dan juga integritas yang dibangun,” katanya.

Di MAN 1 Kota Malang, semangat tersebut salah satunya dikaitkan dengan upaya membangun Zona Integritas. Sutirjo melihat integritas dan kemandirian sebagai bagian penting dari makna berdaulat yang harus ditanamkan sejak lingkungan pendidikan.

Kemandirian, lanjut dia, tidak hanya berbicara mengenai kemampuan siswa mengambil keputusan atau menyelesaikan persoalan. Kemandirian juga harus dibangun melalui kemampuan dasar yang menjadi fondasi pendidikan, termasuk literasi dan numerasi.

“Bahwa berdaulat itu termasuk adalah kemandirian yang dibangun oleh siswa, kemandirian yang dibangun oleh Bapak/Ibu Guru dalam konteks bagaimana kemandirian literasi, bagaimana kemandirian numerasinya,” tuturnya.

Baca Juga : 18 Agustus 2026 Bukan Tanggal Merah, Tak Ada Cuti Bersama Setelah HUT ke-81 RI

Ia menilai, membangun generasi yang merdeka tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Siswa, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh unsur pendidikan harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

“Semua harus saling sinergi, saling kolaborasi, bahwa ini adalah NKRI yang harus kita bangun bersama-sama,” ujarnya.

Selain berbicara mengenai transformasi pendidikan dan kemandirian generasi muda, Sutirjo juga menyoroti sisi lain dari makna kemerdekaan, yakni kemampuan memberikan pelayanan yang semakin baik.

Ketika ditanya mengenai perhatian pemerintah terhadap pendidikan madrasah, ia menilai dukungan yang diberikan pemerintah sejauh ini sudah optimal. Tantangannya kini berada pada bagaimana seluruh insan madrasah mampu memanfaatkan momentum tersebut dengan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Dari pemerintah insyaallah itu sudah optimal dan maksimal. Tinggal bagaimana kita untuk mengoptimalkan momentum dan momen yang ada,” katanya.

Lanjut Sutirjo, pelayanan bukan sesuatu yang bersifat seremonial dan hanya dilakukan pada momentum tertentu. Pelayanan harus menjadi budaya yang terus diperbaiki dari waktu ke waktu.

Ia bahkan merumuskan ukuran sederhana yang menurutnya perlu menjadi pegangan dalam menjalankan tugas di lingkungan madrasah: cepat, tepat, akurat, ramah, dan bahagia. Pesan tersebut sekaligus memperluas makna kemerdekaan di lingkungan madrasah. Kemerdekaan tidak hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang memastikan generasi hari ini memiliki kapasitas untuk menghadapi masa depan.

“Artinya, dari hari ke hari, minggu, bulan, dan tahun harus semakin melayani. Cepat, tepat, akurat, ramah, dan bahagia,” pungkasnya.