Kasus Gangguan Katarak Mulai Ditemukan pada Usia Produktif

Reporter

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana

16 - Aug - 2026, 01:16

Ilustrasi pasien katarak. Tren pengidap katarak usia produktif juga ditemukan di Kota Batu karena berbagai faktor.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Pandangan umum masyarakat yang menilai katarak sebagai penyakit yang murni mengintai kelompok lanjut usia (lansia) kini mulai bergeser. Dalam praktik medis kesehatan mata, kemunculan kasus kekeruhan lensa mata tersebut kini makin kerap ditemukan menyerang warga di usia produktif.

Untuk diketahui, risiko kebutaan akibat katarak masih sangat tinggi. Kementerian Kesehatan RI mencatat, Katarak adalah penyebab utama kebutaan di Indonesia dengan persentase sekitar 81 persen hingga 82 persen dari total kasus kebutaan. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyebab kebutaan lain di tanah air seperti glaukoma, kelainan refraksi berat, atau kerusakan retina.

Baca Juga : Karnaval Gebyar PAUD 2026 Sedot Perhatian Warga, Ratusan Anak Usia Dini Pamer Kostum Tematik

Sementara itu, faktor pemicu utama katarak pada rentang usia muda umumnya tidak berkaitan langsung dengan proses penuaan alami organ tubuh. Permasalahan kesehatan mata di usia produktif ini lebih banyak didorong oleh faktor trauma fisik, benturan keras saat beraktivitas, hingga komplikasi penyakit degeneratif seperti diabetes melitus.

Praktisi kesehatan mata sekaligus Direktur Utama Klinik Mata Ishk Medica / Ishk Tolaram Eye Center Batu, Rahmat Setiawan Hidayat, membeberkan bahwa fenomena katarak di usia muda bukan lagi hal yang mustahil. Dalam catatan penanganannya, ia bahkan pernah menangani pasien katarak yang masih berusia sangat muda akibat riwayat cedera mata.

"Kami pernah menangani pasien katarak yang termuda itu di usia 24 tahun. Kasus tersebut terjadi karena adanya faktor trauma fisik akibat benturan saat bekerja yang sudah berlangsung cukup lama," ungkap Rahmat saat ditemui di kantornya, belum lama ini.

Ia menjelaskan bahwa benturan keras atau trauma fisik pada area mata yang dibiarkan tanpa penanganan medis secara cermat berpotensi merusak struktur lensa. Seiring berjalannya waktu, kerusakan fisik tersebut memicu proses kekeruhan pada lensa mata hingga akhirnya berkembang menjadi katarak.

Selain benturan fisik, paparan kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol pada penderita diabetes juga menjadi pemicu dominan katarak di usia 40 hingga 50 tahun. Kondisi yang dikenal dalam dunia medis sebagai retinopati diabetik ini dapat mengganggu fungsi penglihatan jika tidak terdeteksi sejak awal.

Baca Juga : Hadapi Cuaca Tak Menentu, Ini Pentingnya Menyiapkan Stok Kebutuhan Kesehatan di Rumah

"Sekitar 90 persen pasien katarak memang masih didominasi oleh kelompok usia di atas 50 tahun. Namun, adanya temuan kasus di usia 24 hingga 40-an tahun menjadi peringatan bahwa pemeriksaan mata sejak dini sangat penting," tambah Rahmat.

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala penurunan kualitas penglihatan atau riwayat benturan pada area wajah. Deteksi dini melalui proses penapisan (screening) kesehatan mata dinilai sangat penting untuk disadari masyarakat.

"Pemeriksaan gejala menjadi kunci utama untuk mencegah kerusakan penglihatan yang lebih parah pada usia produktif," imbuhnya.