Mengapa Gunung Bromo Sering Kebakaran saat Kemarau? Ini Penyebab yang Perlu Diketahui
Reporter
Mutmainah J
Editor
Yunan Helmy
14 - Aug - 2026, 07:22
JATIMTIMES - Kebakaran kembali melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Api pertama dilaporkan muncul pada Senin (3/8/2026) di Blok Bantengan, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Kebakaran tersebut terus mendapat perhatian karena Bromo bukan sekali ini saja menghadapi persoalan serupa. Pada 2023, kawasan savana Bromo juga mengalami kebakaran besar yang menghanguskan ratusan hektare lahan. Saat itu, kebakaran diketahui berkaitan dengan penggunaan flare untuk sesi foto prewedding.
Baca Juga : Peristiwa Rengasdengklok: Sejarah, Kronologi, Tokoh, dan Maknanya bagi Kemerdekaan Indonesia
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, mengapa kawasan Bromo cukup sering mengalami kebakaran, khususnya ketika musim kemarau?
Ada sejumlah faktor yang membuat kawasan ini lebih rentan terbakar. Mulai dari kondisi vegetasi yang mengering, tiupan angin, karakter medan hingga aktivitas manusia.
1. Vegetasi Bromo mengering saat musim kemarau
Musim kemarau menjadi salah satu kondisi yang meningkatkan risiko kebakaran di kawasan Bromo.
Padang savana dan area terbuka di sekitar Bromo dipenuhi rerumputan serta vegetasi yang dapat mengering ketika curah hujan rendah. Saat kandungan air pada tumbuhan menurun, rumput dan semak menjadi lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.
Kondisi tersebut terlihat jelas pada kebakaran Bromo 2023. Rumput kering di kawasan Bukit Teletubbies membuat api yang berasal dari flare dapat dengan cepat merambat ke area lain.
Dengan kata lain, kemarau bukan penyebab tunggal kebakaran. Namun, kondisi lahan yang kering membuat api jauh lebih mudah berkembang apabila terdapat sumber penyulut.
2. Angin dapat mempercepat penyebaran api
Selain vegetasi kering, angin juga berpengaruh terhadap cepatnya api menyebar.
Kawasan Bromo memiliki bentang alam terbuka dengan padang savana dan perbukitan. Ketika angin bertiup, kobaran api dapat bergerak mengikuti arah angin dan menjangkau vegetasi yang berada di sekitarnya.
Kondisi tersebut juga menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kebakaran. Api yang sudah menyebar di area terbuka akan lebih sulit dikendalikan ketika berhadapan dengan vegetasi kering dan hembusan angin.
Pada kebakaran 2023, misalnya, angin bahkan dilaporkan memperburuk penyebaran api di kawasan Bromo.
3. Aktivitas manusia menjadi perhatian
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah aktivitas manusia. Dalam kebakaran Bromo pada Agustus 2026, Balai Besar TNBTS menduga kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia.
Salah satu dugaan yang muncul adalah penggunaan api unggun di kawasan tersebut. Namun, dugaan tersebut tetap perlu dibedakan dari hasil penyelidikan final mengenai penyebab kebakaran.
Hal ini menjadi perhatian karena sumber api yang kecil sekalipun dapat berubah menjadi kebakaran besar ketika berada di tengah vegetasi yang kering.
Karena itu, wisatawan perlu mematuhi aturan yang berlaku, terutama terkait larangan menyalakan api di area yang tidak diperbolehkan.
4. Kebakaran Bromo 2023 menjadi pelajaran penting
Kebakaran besar di kawasan Bromo pada September 2023 menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas manusia dapat memicu kebakaran di tengah kondisi vegetasi yang mudah terbakar.
Saat itu, rombongan yang melakukan sesi foto prewedding menggunakan lima flare. Salah satu flare kemudian memicu percikan api yang membakar padang savana. Kebakaran tersebut akhirnya meluas dan membakar sekitar 504 hektare lahan berdasarkan perhitungan Balai Besar TNBTS.
Baca Juga : Mau Daftar KIP Kuliah 2026? Cek Desil DTSEN Dulu, Begini Caranya
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa benda yang menghasilkan api atau percikan tidak bisa digunakan sembarangan di kawasan konservasi, terlebih ketika kondisi vegetasi sedang kering.
5. Medan Bromo membuat pemadaman tidak mudah
Persoalan kebakaran di Bromo tidak berhenti pada bagaimana api muncul. Proses pemadamannya juga menghadapi tantangan tersendiri.
Kawasan Bromo memiliki perbukitan, lereng dan area yang tidak semuanya mudah dijangkau kendaraan. Ketika api berada di lokasi yang sulit diakses, petugas harus melakukan pemadaman dengan menyesuaikan kondisi medan.
Pada kebakaran 2026, ratusan personel gabungan dikerahkan untuk menangani kebakaran yang terus meluas. Data TNBTS yang diberitakan Mongabay pada 11 Agustus menyebut area terdampak saat itu mencapai 176 hektare, sementara proses pemadaman masih berlangsung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan konservasi membutuhkan penanganan cepat agar api tidak semakin meluas.
Jika melihat sejumlah kejadian sebelumnya, kebakaran di Bromo tidak bisa hanya disebabkan oleh musim kemarau.
Ada beberapa faktor yang dapat saling memperkuat, yaitu vegetasi yang mengering, angin, kondisi medan dan sumber api dari aktivitas manusia.
Musim kemarau membuat rumput dan semak lebih mudah terbakar. Ketika kemudian muncul sumber api, kondisi tersebut dapat membuat kebakaran berkembang dengan cepat. Angin selanjutnya dapat membantu membawa api menuju area yang memiliki banyak bahan bakar alami.
Namun, penting untuk dipahami bahwa musim kemarau tidak berarti Bromo pasti terbakar. Kebakaran tetap membutuhkan sumber penyulut, dan aktivitas manusia merupakan salah satu faktor yang sebenarnya dapat dicegah.
Kebakaran di kawasan Bromo tidak hanya berdampak terhadap aktivitas pariwisata. Api juga dapat menghanguskan vegetasi dan mengganggu ekosistem di kawasan konservasi.
Karena itu, upaya mencegah kebakaran tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas TNBTS. Wisatawan juga memiliki peran penting dengan tidak menyalakan api sembarangan, tidak membuang puntung rokok, serta mematuhi seluruh aturan yang ditetapkan pengelola.
Bromo memang dikenal karena lautan pasir, padang savana dan panorama pegunungannya. Namun, di balik keindahan tersebut terdapat ekosistem yang harus dijaga bersama.
Terlebih ketika musim kemarau tiba dan kondisi vegetasi menjadi lebih kering, sedikit saja kelalaian dapat berubah menjadi kebakaran yang berdampak luas.
